
"M-maksud saya.. s-saya tidak pernah merasa kamu menyusahkan saya, itu saja" jelas ustadz fahri Sedangkan naura hanya ber Ooo ria.
"Ck.. apa yang gue pikirin sih..." batin naura sambil memijat pelipisnya
"Karena hafalan surah kamu telah selesai, besok kamu tidak perlu menyapu halaman lagi. Hukuman kamu sudah selesai" terang ustadz.
"Baik ustadz terima kasih...Gue eh saya ingin bertanya kepada ustadz. Apakah ustadz ada waktu setiap hari seperti saat ini? Karena saya berniat ingin menyetor hafalan setiap harinya kepada ustadz" tanya naura ragu
"Bagaimana Arzam apakah Arzam izinkan?
Sedangkan gadis itu terlihat bingung.
"Kenapa dia malah bertanya ke bocil ini sih, apa ini siasat dia untuk nolak gue?. Pasti bocil ini akan menolak gue" batin naura geram
"Alzam izinkan abi" jawaban anak itu dan seketika gadis itu bernafas lega
"Karena Arzam izinkan, insyaallah saya bisa" sambil tersenyum kearah arzam
"Oiya ustadz, boleh saya tanya lagi?" terlihat kini ustadz fahri mengarahkan arzam untuk berpindah ke pangkuannya. "na'am" balas nya
"Emmm... Istri pak ustadz tapi gak marah kan kalau waktu istirahat pak ustadz saya ambil?" tanya naura berusaha bersikap biasa saja
"Maksud kamu?" tanya ustadz fahri.
"Maksud saya kan arzam ini anak pak ustadz, jadi mama nya arzam gak marah kan kalau ustadz setiap harinya mengoreksi hafalan saya?" tanya naura memastikan dengan kalimat yang lebih lugas
Sementara ustadz fahri hanya tersenyum sambil mengacak rambut arzam
"Ihhh kok malah senyum gak jelas sih. Sudah lah lebih baik gue pergi dari sini....Gak jelas juga kutub utara ini" umpat naura dalam hatinya
"Hmm saya permisi dulu ya ustadz. Sebentar lagi saya masuk kelas.. Assalamualaikum.... " setelahnya naura pergi meninggalkan mereka
"Wa'alaikumussalam" balas mereka. "Aunty antik ya Abi... apaagi klau kesel" nilai arzam dengan cengiran sementara ustadz fahri yang mendengar penuturan anak itu hanya tersenyum.
.
.
Malam pun kini telah larut..
Malam ini mata gadis itu terlihat ingin sekali terlelap, tetapi pikirannya masih berkecamuk memikirkan kejadian tadi siang.
"Bisa bisa nya kutub utara itu bohongi kami semua. Dia udah punya istri kenapa dia berlagak seperti bujang...dasar buaya" umpat naura kesal
Kini dia terbangun menyenderkan tubuhnya ke dinding. Dihadapannya terlihat je sedang tertidur sedangkan mira masih membaca buku di sudut ruangan dibawah sinar lampu belajar.
__ADS_1
"Tapi kalau gue gak cerita ke mereka kasian juga mereka, takutnya diantara mereka ada yang berharap sama ustadz kutub itu lagi... Padahal kan dia sudah punya istri plus anak lagi" ucap naura
"Apaaaaa?? " tanya je sontak itu membuat naura terkejut
Di goyang goyangan kan tubuh naura agar bercerita kepadanya.
"Elo apa apaan sih je?"
"Plisss cerita na sekarang. Gue pengen kejelasan dari yang lo ucapinn tadi" paksa je
"Gue gak ada ngomong apa apa kok" jawab naura mengalihkan
"Gak kamu bohong, tadi aku denger... Ayo cepetan na"
"Husstt.. Kalian kenapa sih berisik banget?" tanya mira yang kini mendatangi mereka
"Mir, lo lihat naura gak mau cerita ke gue" ucap je dengan melasnya, walaupun naura kini bingung sejak kapan ia meniru gaya lo gue nya
" Emang cerita apa?" tanya mira
"Tadi gue denger kalau... "
"Stop it. Kalian semua kemari" ucap naura memotong karena dia rasa lebih baik menceritakan dari mulutnya dari pada melalui mulut je yang super kepo itu.
....
"Hmm jadi gini. Ternyata ustadz fahri udah punya anak" mulai naura.
"Hah maksud kamu?" tanya mira
"Nah, tadikan gue sempet setoran surah tuh ke ustadz, terus dia ajak tuh anaknya.. Bocil sih, umur nya sekitar 3 tahun lebih lah" jelas naura
"Masa sih ustadz fahri udah nikah? Gue gak percaya" Potong je dengan histeris
"Berarti ustadz bohong dong sama kita tentang status nya?" tambah je dengan mata yang kini memerah
"Nah itu dia, makanya gue kasih tau kalian.. supaya kalian gak tertipu. Terutama lo je, jangan smpai lo dijadikan yang kedua" ucap naura sambil tersenyum mengejek
"Huaaaaaa hikssss masak sih pujaan hatiku bo'ong" jerit nya sambil terisak
"Husttt... Diem je, suara kamu berisik..." tegur naura karena merasa sakit telinga mendengar rengekan perempuan itu
"Udah deh sekarang gini, kita gak boleh su'udzon sebelum kita tahu kebenaran nya" nasihat mira
"Kebenaran apa lagi sih mir, kan udah jelas yang gue ceritain tadi... Lagian ustadz fahri sebut dirinya Abi" tegas naura memberikan penekanan di akhir kalimat. Dan kalimat akhir naura itu tentu semakin membuat je menangis
__ADS_1
"Hmmm udah deh sekarang mending kita lanjut tidur... Masalah ini kita bahas besok. Gak enak ganggu yang lainnya" akhiri mira saat melihat je yang semakin menjadi sementara naura kini tertawa puas melihat je seperti bayi yang meminta Asi ibunya.
.
.
Keesokan Paginya seperti biasa para santriwati dikelas naura mengikuti pembelajaran.
Disaat ustadz fahri menjelaskan naura melirik kearah samping. Dilihatnya temannya je masih sangat gegana (gelisah galau merana), rasa ingin mengejek kini berubah menjadi rasa kasihan. Dia pun berisik ke arah je.
"Je...udah deh lu gak usah sedih gitu" lirih naura sementara je masih terus murung
"Nanti kita cari yang lain ya, gue kenalin cowo ke elu ya, elu mau modelan kayak gimana?Oppa Korea? A'a Thailand atau mas Turki?" "Tapi plisss jangan sedih lagi ya" bisik naura kembali sambil tersenyum namun je masih tetap diam
"Udahlah je... jangan sedih terus..." Karena terbawa rasa kesal kini suara naura pun meninggi sementara je yang mendengar perubahan nada suara itu memberikan isyarat dengan menempatkan jari telunjuk di bibirnya.
Namun sayangnya suara itu sudah terdengar jelas oleh santriwati yang lain termasuk ustadz fahri. Hal ini ditandai dengan mata mereka semua sekarang mengarah kepadanya.
"Ada apa?, apakah ada yang ingin di tanyakan?" tanya ustadz fahri sedangkan kedua tersangka itu kini terdiam
" Naura..?" panggil ustadz fahri. "Hmmm gue pak ustadz?" ucap naura kembali bertanya
"Apakah kamu ingin bertanya? Jika tidak kamu harus mengulang apa yang saya sampaikan tadi" ucap ustadz fahri
Entah keberapa kalinya naura selalu mengulang kesalahan yang sama, ribut dan tidak memperhatikan saat pelajaran Ustadz fahri berlangsung dan selalu sama pula dia tidak bisa memberikan penjelasan
"Oh My God. Boro boro gue ngulang penjelasan nya tadi. Gue aja dengerin nya masuk kiri keluar kiri...Gimana ni?" batin naura
"Bagaimana bisa kamu jelas kan kembali?" desak ustadz fahri
"Hmmm gini ustadz saya mau bertanya saja" akhirnya naura bersuara. "Tafadholi" balas ustadz fahri
"Bagaimana pandangan ustadz mengenai poligami, dan bagi ustadz sendiri apakah ustadz mau berpoligami meskipun istri ustadz tidak mengizinkan nya? " Pertanyaan itu seketika keluar dari mulut naura sementara je yang mendengar ucapan naura membulatkan netranya kearah naura
"'Mulut gue kenapa gini amat dah, kenapa otak gue malah kepikiran poligami doang sih" batin naura merutuki mulutnya setelah melihat netra je
Mereka semua terdiam mendengar kan pertanyaan gadis itu.
"Saya rasa kamu tidak mendengarkan apa yang saya sampaikan dari tadi, saya sama sekali tidak ada menyinggung pembahasan tentang poligami...kita belajar tentang Dakwah Nabi" jelas ustadz fahri
Beberapa santri seakan mengejek pertanyaannya yang secara terang terangan ditolak ustadz bahkan naura sudah di klaim tidak mendengarkan.
"Bilang aja kalau lu gak bisa jawabkan, malah buat malu orang.... Kenapa sih kutub utara ini selalu buat malu gue" batin naura berteriak menahan rasa malu
....
__ADS_1