Memikat Hati Ustadz Dinginku

Memikat Hati Ustadz Dinginku
BAB 13. Mendekatkan Diri


__ADS_3

Saat ini mereka semua berada di ruangan ustadz fahri...


"Fajar tolong jelaskan apa yang terjadi" pinta ustadz. "Ooo jadi namanya fajar, gue kira jarifah tadi hahah" dengan enteng nya naura mengucapkan kalimat itu disaat seperti ini. "Elu... Diamm" tegas fajar membuat naura segera menutup mulutnya rapat.


Setelah selesai penjelasan dari fajar, sekarang ustadz fahri menasihati fajar beserta kedua temannya.


"Kalian bertiga tau apa kesalahan kalian?, Kalian secara tidak langsung telah membenarkan tindakan yang dilakukan santriwati baru ini. Kalian membenarkan jika dia boleh melewati tembok pembatas. Dan kalian tidak melaporkannya. Dan yang terakhir kalian malah mengajak nya bermain bersama kalian.... " panjang lebar teguran dan juga nasihat dari ustadz fahri...


“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim). "Seharusnya kalian bertiga memberikan contoh yang baik kepada santriwati ini, bukan malah ikutan melakukan hal-hal yang salah dan tak wajar untuk kalian lakukan" lanjut Ustadz fahri sementara terlihat mereka bertiga yang mendapat ceramah itu kini hanya menunduk dan terlihat sangat menyesali perbuatan mereka.


Berbeda dengan naura, dia santai sesekali mengiringi ucapan ustadz dengan kalimat 'syukurin lu pada'


"Sebagai hukuman nya kalian bertiga harus membersihkan halaman santri putra sampai bersih. Jika tidak bersih, hukuman kalian akan ditambah untuk membersihkan seluruh kamar mandi santri putra" jelas ustadz


"Hahahaha syukurin" kini kalimat ini terdengar jelas. "Astagfirullah" ucap mereka semua


Setelahnya kini ustadz memberikan dalil khusus untuk gadis itu...


“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah.” (HR. Tirmidzi)


“Musibah yang menimpa hamba, boleh jadi sebagai hukuman dan ujian. Hal itu bisa jadi sebagai penebus dosa dan mengangkat derajat. Sehingga jika ada yang gembira atas musibah orang lain, maka tidaklah benar. Karena manusia bisa saja berbuat dosa dan salah. Siapa yang menjamin dirinya sendiri bisa bebas dari dosa?!” nasihat Ustadz fahri


Gadis itu kini pun kembali terdiam. Memang benar yang dikatakan ustadz. Lagi pula ini bukan kesalahan ketiga santriwan itu sepenuhnya. Seandainya dia tidak memaksa mereka untuk ikut tentu mereka juga tidak akan dapat hukuman seperti ini.


Setelah ketiga santri itu pergi meninggalkan ruangan. Kini, ustadz fahri keluar.


"Ehh ustadz, kok gue ditinggal sih?, gue gak dikasih hukuman juga ni? Gue kan juga salah"

__ADS_1


Sementara ustadz terus berjalan meninggalkan naura. Dia seperti anak ayam yang mengikuti induknya dari belakang. Hingga sekarang mereka sudah berada di halaman santriwati. Sampai detik itu ustadz belum mengeluarkan suara sepatah kata pun. Sehingga gadis itu memutuskan untuk berhenti mengikutinya dan melanjutkan menyapu halaman yang sempat ia tinggalkan tadi.


Srekk...


Srekk...


Srekk...


"Kamu ngapain? " tanya ustadz. "Pakai nanya lagi, ya nyapu dong ustadz". "Maksud saya siapa yang memerintah kamu nyapu?". "Lah tadikan gue sempet ninggalin hukuman, dan sekarang gue mau ngelanjutin... Lagian ustadz juga belom ngasih hukuman tambahan ke gue, jadi gak salah kan" jawab naura tenang


"Hmm bagus kalau kamu sadar, kamu memang pantas dihukum" ujar ustadz


"Aduh ni mulut pakai sok sokan lagi. Tuh kan sekarang makan tuh hukuman" batin naura merutuki kebodohannya


"Setelah kamu selesai membersihkan halaman ini. Besok kamu harus membayar denda hukuman" jelas ustadz. "Denda, Berapa yang harus gue bayar?" tanya naura santai


"Hafalan?" tanyanya bingung. "Pak ustadz, saya gak mungkin bisa menghafal dalam waktu semalam. Dan saya juga gak tau itu surah sepanjang apa?" teriaknya kesal karena ustadz itu kini sudah sangat jauh. "Arghhh hukuman apaan ini" sambil menarik jilbabnya hingga berantakan.


POV ustadz fahri :


Sebenarnya setelah aku menyuruh nya untuk membersihkan halaman depan aku merasa bersalah. Harusnya aku tidak memberikan hukuman seperti itu apalagi dia baru pertama beradaptasi dengan lingkungan pesantren ini. Tapi hal ini kulakukan semata mata agar santriwati yang lain tidak mencontohnya.


Sekitar 30 menit aku membiarkan dia untuk membersihkan halaman depan. Tetapi kulihat batang hidung nya tidak muncul setelah selama ini. Akhirnya aku berikan tugas kepada santriwati untuk mengerjakan nya sedangkan aku keluar untuk mencarinya.


Aku tidak melihat siapapun di halaman ini. Yang kulihat hanya sapu yang tergeletak sembarangan. Perasaan ku akan wanita itu menjadi tidak enak. "Semoga tidak ada hal aneh yang wanita itu perbuat"


Aku terus mencari kemana gadis itu. Sekarang aku sudah berada ditembok pembatas. Sebenarnya aku tidak yakin dia akan kesini. Tetapi cobalah akan ku cari...

__ADS_1


Di tengah lapangan kulihat wanita itu memainkan bola dengan begitu lincahnya. Kesana kemari diperhatikan oleh dua santri lainnya dari arah luar lapangan. Dan termasuk fajar adikku. Aku heran kenapa fajar malah bermain bersamanya dan tidak menyuruh untuk berhenti. Tapi MasyaAllah dia memang sangat terlatih memainkan bola itu, bahkan aku sempat terkagum dibuat nya. Astagfirullah...


"Elu lihat ni ya, gue masuk kan dari jarak jauh" Dan kulihat ekspresi nya sambil mengedipkan mata kearah adikku fajar. "Astagfirullah ini tidak bisa dibiarkan"


....


"Berhenti!!!" ucapku dengan tegas agar dia segera menghentikan permainan itu


"Arghhh bang*** lu ngapain teriakk, buyarin konsentrasi gue"


Sebenarnya aku telah mendengar ucapan itu. Tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku heran mengapa perempuan yang mendapat kan banyak rahmat dari Allah berupa fisik yang sempurna tetapi lisannya tidak terjaga. Mungkin ini definisi kesempurnaan hanya milik Allah.


Singkatnya kini aku telah membawa keempat santri itu ke ruanganku. Sudah kuberikan nasihat sekaligus hukuman kepada adikku dan kedua temannya. Aku merasa ketiga santri itu menyadari kesalahan mereka. Sementara untuk perempuan ini, aku tidak yakin apakah sekarang dia sudah sadar akan kesalahannya atau belum. Karena dari yang aku lihat sejak tadi dia terlihat santai dan tidak peduli.


Aku berpikir hukuman apa yang akan ku berikan kepada wanita ini agar dia jera tetapi tetap memberikan mudharat untuknya.


Aku pun berjalan meninggalkan nya dibelakang sementara dia terus mengikuti ku dan mengatakan hal hal yang sama sekali tak ku dengar.


Srekk...


Srekk...


Srekk...


Suara sapu lidi itu membuyarkan lamunan ku. Saat itu dia mengatakan jika dia ingin menerima hukuman tambahan. Jadi karena itu aku menyuruh nya untuk menghafalkan surah ar Rahman', dan jika ia tak mampu menghafalkan nya dengan baik maka kutambahkan hukuman menyapu dihalaman setiap harinya sampai hafalannya selesai.


Sebenarnya tak ada maksud untuk memberikan hukuman yang berat dengan menyapu disetiap hari. Tapi anggap saja jika dengan menyapu maka kamu dapat mengulang hafalan disetiap harinya. Dan dengan ini aku harap kamu merasa harus bisa untuk segera menghafalkannya dengan baik. Semoga kamu paham dan semoga semua ini Lillah.....

__ADS_1


__ADS_2