
Tibalah waktunya makan malam, kini Naura dan Ustadz Fahri bersama umi dan kyai sedang menikmati makan malam mereka. Tidak banyak pembicaraan disana apalagi ustadz fahri masih dingin kepada Naura, hanya ada pembicaraan mengenai pesantren oleh Ustadz Fahri dan Kyai Abdullah.
"Lebih baik gue makan cepat aja" Batin Naura
.
"Umi, Naura sudah selesai makannya, Naura permisi ya umi" Ucap gadis itu lalu beranjak berdiri sambil membawa piring kotornya
"Naura, sebentar sayang. Ada yang ingin umi sampai kepada kalian berdua" Ucap umi sehingga mau tak mau gadis itu kembali duduk ditempatnya
"Ini tiket untuk bulan mau kalian berdua" Sambil memberikan kepada menantunya itu
Uhuk
Uhuk
Seketika Ustadz Fahri refleks terbatuk mendengar ungkapan itu.
"Astagfirullah Fahri, minum dulu nak" Sontak umi memberikan segelas air kepada putranya itu.
"Idih, biasa aja kali" cicit Naura yang masih dapat didengar Ustadz Fahri
"Jadi gini nak, maksud Umi dan Abi memberikan tiket bulan madu kepada kalian supaya kalian berdua lebih dekat dan mengenal satu sama lain. Karena Umi merasa jika tidak begitu waktu kalian juga susah untuk bersama" Jelas umi
"Umi, terima kasih sebelumnya untuk hadiah terindah ini, tetapi umi kan tahu kalau Fahri diberi tanggungjawab untuk mengurus pesantren mi" Jawab Ustadz Fahri sopan
__ADS_1
"Tidak masalah Fahri. Pesantren bisa Abi dan orang kepercayaan Abi yang mengurus selama kalian pergi" Tambah Umi
"Tapi kenapa harus Bali Umi? Kenapa tidak disekitar sini saja?" Tawar Ustadz Fahri
"Kalau disekitar sini bukan berlibur bulan madu, tapi jalan jalan. Ya kan Abi?" Tukas Umi mencari pembelaan
"Hmm, benar kata Umi kamu. Kalian harus menikmati waktu berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun dan apapun itu" Timpal Abi yang tentu saja membuat Umi tersenyum
"Itu dengar Fahri, ini perintah loh dari Abi kamu. Dan lihat saja menantu Umi, kamu mau kan sayang?" Gadis itu hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil
"Lihat itu Fahri, kamu harus menyenangkan istrimu nak, biar rezeki kamu terus mengalir" Tambah Umi
"Hah apa? Menyenangkan? Siapa sih yang berharap pergi berduaan sama si kutub utara ini, apalagi bulan madu. Ihhhh" Batin Naura bergidik ngeri
"Ada apa sayang?" Tanya Umi saat melihat reaksi menantunya
"Menolak pun percuma, tidak ada gunanya" Batin Naura tersenyum kecut
"Lihat Fahri menantu Umi saja setuju. Masa kamu engga sih nak" Desak Umi kembali
"Baik Umi, Fahri mau" Tukas Ustadz Fahri sambil melirik kearah gadisnya.
.
.
__ADS_1
"Lu dengar ya bukan hanya lu yang terpaksa, gue juga terpaksa ngikutin kemauan Umi" Mulai gadis itu karena sejak tadi hanya ada keheningan sejak mereka sudah berada didalam kamar dan sekarang masing masing dari mereka mempersiapkan barang yang akan mereka bawa untuk liburan mereka besok. Ya, ternyata tiket liburan itu sudah dijadwalkan untuk esok hari.
"Saya mau keluar dulu" Ucap Ustadz Fahri tanpa berniat membalas ucapan Naura
"Dihh kok gaya amat sih lu" Ucap Naura dengan nada kesal.
.
.
Kini tibalah hari dimana sepasang suami istri itu akan berangkat menuju Pulau Dewata yang akan dijadikan tempat bulan madu mereka selama beberapa hari kedepan.
"Sayang Umi titip anak Umi ya sayang" Ucap Umi
"Karena dia sering terbangun tengah malam dan Umi takut saat dia keluar dia lupa lagi jalan menuju kamar kalian" Bisik Umi ditelinga gadis itu membuat sang pemilik menahan tawanya
Bagaimana bisa seorang Ustadz sekaligus Gus yang kuat tingkat hafalannya bisa lupa jalan menuju kamar? Manusia memang tidak ada yang sempurna.
"Baik Umi" Ujar Naura sambil menahan tawanya
"Nah, ini untuk kamu sayang" Sambil memberikan paper bag kepada menantunya
"Ini apa Umi?" Tanya gadis itu bingung
"Ah itu... Itu pokoknya berguna untuk kamu disana sayang" Sahut Umi
__ADS_1
"terima kasih Umi" Balas Naura mengangguk mengerti
"Yasudah hati hati ya sayang. Dan kalian pulang harus bawa kabar baik untuk kami semua disini" Tambah Umi ketika pesawat yang akan membawa mereka sudah waktunya untuk berangkat.