Memikat Hati Ustadz Dinginku

Memikat Hati Ustadz Dinginku
BAB 39. Membahas Perjodohan


__ADS_3

.


.


Sore harinya naura kini sudah berada di area ndalem. Setelah selesai mengikuti acara bazar dan membersihkan diri, datang seorang santriwati menyampaikan pesan jika papanya kini sudah berada di ndalem.


"Assalamualaikum..." Salam naura kepada semua orang yang sudah berkumpul.


"Wa'alaikumussalam..." jawab mereka semua serentak


Kini naura pun sudah duduk bersama dengan mama nya dan juga umi Khadijah.


"Alhamdulillah akhirnya kita sudah berkumpul semua" pak kyai memulai pembicaraan


"Sebelumnya saya mewakili keluarga ndalem mengucapkan terima kasih atas kehadiran pak satyo dan bu anjani yang seharusnya kami lah yang berkunjung ke rumah kalian" lanjut pak kyai


"Baiklah langsung saja saya serahkan kepada anak saya fahri... fahri silahkan di mulai nak" ucap pak kyai


"Na'am Abi.. terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya...tujuan saya mengumpulkan semua untuk membahas perihal perjodohan antara saya dan juga Naura" ujar ustadz fahri


"Ohh jadi elu biang semua nya...pakai ngumpulin banyak orang lagi" batin naura

__ADS_1


"Jadi saya sudah beristikharah sebelumnya...dan insyaallah keputusan yang saya berikan adalah yang terbaik untuk saya dan naura serta kita semua yang ada disini" lanjut ustadz fahri kemudian disertai jedaan


.....


"Ck... terlalu basa-basi elu, udah deh kalau mau nolak perjodohan ini langsung aja" batinnya karena naura yakin jika ustadz fahri akan menolak nya setelah dia melakukan aksinya saat di bazar tadi. Ya, naura tadi berpura-pura akrab dengan lelaki mana saja yang berkenalan dengan nya. Bahkan dia selalu menampilkan senyuman manisnya saat berbicara dengan mereka. Dan puncaknya saat bersama Wahyu, dia bahkan menyerahkan punggung tangannya begitu saja untuk dicium oleh lelaki itu sebelum beranjak meninggalkannya. Dan dapat naura lihat, ustadz fahri meninggalkan tempat itu begitu saja.


"Gue yakin rencana gue tadi pasti berhasil" batin naura senang dengan senyuman disepanjang ustadz fahri berbicara. Sejak tadi malam dia tidak bisa tidur dan memikirkan sebuah rencana agar ustadz fahri lah yang menolak perjodohan ini. Jadi bukan dia yang akan di salahkan papanya.


.


.


"Bismillah...saya menerima perjodohan ini" ucap ustadz fahri melanjutkan jedaan sejak tadi.


"Uhukk uhukk..." naura malah terbatuk mendengar jawaban pria itu. Mama dan umi yang melihat nya langsung menyodorkan air untuk gadis itu minum.


"Ada apa nak?" tanya pak kyai melihat kearah naura


"Ah tidak apa-apa, dia pasti terkejut tapi sangat bahagia... benarkan sayang?" tanya pak satyo.


"Pertanyaan macam apa itu? Itu bukan pertanyaan melainkan paksaan harus menjawab 'iya' " batin naura saat mendengar ucapan papanya, tetapi kini dia terpaksa menyetujui dengan memberikan senyuman kakunya.

__ADS_1


....


"Jadi kapan pernikahan ini kita langsung kan?" tanya pak kyai dengan senyuman bahagia


"Segera...Besok atau lusa?" Jawab pak satyo


"Uhukk... uhukk..." kini gadis itu mengulang kembali batuknya akibat terlalu kasar menelan salivanya sendiri. Dan tentunya kembali menjadi pusat perhatian lainnya.


"Gilak ni, bisa mati mendadak gue kalau terus-terusan dibuat terkejut" batin gadis itu sambil meminum kembali air itu.


"Ada apa naura, ada yang kamu ingin katakan?" tanya papa dan naura langsung menggeleng. Dia tidak sanggup untuk mengutarakan argumen nya saat ini karena merasa sedikit sakit karena batuk berulang nya, itu sebabnya dia memilih menepuk dadanya pelan untuk meredakan rasa sakitnya dari pada menjawab pertanyaan papanya.


....


"Jadi bagaimana dengan kamu fahri... apakah kamu siap menikah dengan anak saya lusa?" tanya pak satyo


"Insyaallah saya siap" jawab ustadz fahri


"Hah...gila si kutub, gue kira elu mau nyelamatin gue saat gue belum bisa ngomong sekarang" batin naura


"Alhamdulillah...." Ucap syukur mereka kedua kalinya dan terlihat semuanya begitu bahagia.

__ADS_1


"Instruksi...naura mau bicara" ucap gadis itu.


Suasana sekarang menjadi senyap, semua yang ada di sana seketika terdiam. Terutama terlihat jelas senyuman di wajah pak satyo kini telah hilang karena rasa khawatir atas penolakan yang akan dilakukan putrinya.


__ADS_2