
...
"Ehh tunggu tapi gak mungkin sih, secara kan dia si kutub utara... bantu gue bangun waktu pingsan aja enggak... boro-boro tadi malam dia lakuin itu ke gue". "Lagian menurut novel yang pernah gue baca pasti berasa sih...nah sekarang gue gak ngerasain apa-apa" pikiran gadis itu terus bersambung sampai akhirnya suara papa membuyarkan semua pikiran liarnya.
"Papa mau kalian segera menikah" pinta papa dengan nada tegas
"Afwan pak, saya tidak bisa" sahut ustadz fahri segera sementara naura yang mendengar penolakan dari pria itu langsung menoleh kearah pria yang angkat bicara itu.
....
"Kenapa dia yang nolak gue? Seharusnya gue yang nolak dia duluan...Sok ganteng banget ni orang" batin naura kesal menelisik kearah pria itu hingga setelahnya dia langsung mengutarakan isi hatinya
"Lo kira gue mau sama lo? Gak usah merasa paling ganteng deh lu..." ketus gadis itu setengah berteriak
"Naura..." Peringatan pak satyo kepada gadis itu
....
"Apa alasan kamu anak muda sampai tidak mau menikah dengan putri saya?" tanya pak satyo, dia berpikir putrinya sangat cantik untuk di tolak, bukankah itu kriteria umum pria??
"Tapi apakah dia menolak karena sifat manja dan urakan Naura?" pikir pak satyo selanjutnya
"Maaf pak, pernikahan bukan mainan bagi saya... saya ingin menikah sekali seumur hidup dengan wanita yang saya cintai dan yang mau saya bimbing nantinya" jelas ustadz fahri dengan ekspresi serius tetapi tetap sopan, penjelasan tersebut pun dimengerti oleh pak Satyo
.....
"Maksud ni orang apa sih? Dia gak mau nikah sama gue karena gak cinta ke gue? Gue juga gak cinta kali sama lo" ketus naura dalam batinnya, tentunya dengan melayangkan netra tajam kepada pria yang menolaknya mentah-mentah.
....
"Gue juga gak mau kali....." namun ucapan naura langsung di potong pak satyo "Khemm... kalau soal cinta akan datang jika kalian lebih saling mengenal, biarkan dia tumbuh seiring kalian bersama". "Dan saya pastikan putri saya akan siap untuk dibimbing kamu kearah yang lebih baik" jelas pak satyo sambil mengarahkan pandangannya ke putrinya itu
"Dihh papa apaan sih... naura gak mau nikah sama dia...Pa..." sahut naura kesal
"Afwan sekali lagi pak, bapak bisa mendengar sendiri jika Putri bapak tidak mau menikah dengan saya" ujar ustadz fahri
....
"Terus kamu sebagai lelaki bagaimana? Mau lepas tanggung jawab setelah kalian menghabiskan malam bersama?" tegas pak satyo
__ADS_1
.....
Sedangkan pak kyai yang sejak tadi terdiam kini angkat bicara
"Satyo...saya ingin bicara" pungkas pak kyai. Setelah mendapat persetujuan dari pak satyo mereka kini menjauh dari tempat itu.
.
.
"Satyo, aku rasa yang kamu lakukan ke anak-anak kita terlalu berlebihan. Aku yakin mereka ndak sampai melakukan hal yang aneh apalagi sampai melanggar aturan" tutur pak kyai
"Sob, tolong lah jangan terlalu serius menanggapi omongan ku tadi" ucap pak satyo disertai tawanya.
~Sob adalah panggilan lain untuk kedua sahabat itu~
"Jadi... maksud hukuman pernikahan tadi cuma candaan juga?" tanya kyai, mendengar pertanyaan itu kini raut wajah pak satyo berubah seketika.
"Kalau untuk masalah itu akan kita lanjutkan... Bagaimana menurut mu sob?" tanya pak satyo
"Ini serius tyo? Kamu Ndak lagi bergurau seperti tadi?" tanya kyai
....
"Bagaimana? Kamu tidak setuju ya?" desak pak satyo. Dapat dikatakan selain pencetus ide ini, pak satyo adalah yang paling bersemangat... entahlah tekadnya sudah sangat bulat untuk menjodohkan anak-anak mereka.
"Bagaimana rencana selanjutnya?" tanya pak kyai tersenyum bahagia.
"HAHAHAHA" kini kedua pria paruh baya itu tertawa bersama, entah bagian mana yang menurut mereka lucu, tetapi yang pasti mereka berdua saling mengerti
.
.
Kembali kepada sepasang insan yang ditinggal tadi. Terlihat ustadz fahri sedang memijat kedua pelipisnya dengan menggunakan jari tangan kanannya sebagai tanda pikiran nya sedang kacau.
"Ck.. biasa aja kali, gue juga gak bakal mau di jodohin sama lu" ucap naura dengan dengusan kesal sementara ustadz fahri hanya diam dan tidak lupa dengan wajah datarnya.
"Emang lu udah punya kekasih ya? Hmm atau udah ada pilihan calon sendiri?" ucap naura memberikan runtutan pertanyaan, tetapi respon pria itu tetap sama tidak mengindahkan pertanyaan gadis itu
__ADS_1
"Ohhhh gue tau, elu diem karena udah punya istri kan?" tukas naura saat kini teringat dengan seorang anak bernama arzam yang sempat dia temui beberapa hari yang lalu.
"Ck..untung gue masih ingat, gue juga gak mau kali jadi istri kedua lu" sinis gadis itu memajukan bibir tipisnya ke depan.
"Khemm... nauraaa" panggil pak satyo sehingga menghentikan celotehan gadis itu
"Jadi bagaimana? Apakah kalian sudah mempertimbangkan perjodohan ini?" mulai pak satyo kembali, tetapi kedua orang itu sama-sama hanya terdiam.
"Saran dari saya lebih baik kita kasih waktu kepada mereka untuk saling mengenal terlebih dahulu, anggap saja sebagai tahap ta'aruf bagi mereka" ujar kyai
"Aku setuju sob" sahut pak satyo.
"Setuju naura?" tanya pak satyo kepada gadis yang sedari tadi masih terdiam
"Udah berapa kali naura bilang, naura gak mau pa" balas naura cuek
"Nauraaa" bentak pak Satyo untung saja pak kyai langsung mengelus pundak sahabatnya itu, mengingatkan nya supaya lebih sabar menghadapi sikap putrinya itu.
"Ikut papa pulang sekarang.." ucap papa dengan nada menggeram lalu menarik lengan gadis itu meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Saat ini naura telah dibawa kembali ke pesantren dan selama dalam perjalanan menuju ke pesantren yang mereka lakukan hanya saling diam tanpa ada yang berniat memulai.
"Papa marah sama naura?" tanya gadis itu saat mereka telah berada di gerbang santriwati tetapi pak satyo hanya diam.
"Naura minta maaf karena udah buat papa kesel" lirih Gadis itu karena dia juga tidak ingin papanya pulang masih dengan rasa kesal dan amarah kepadanya.
"Papa tidak akan marah jika kamu mempertimbangkan perjodohan ini" jelas papa membuka suara.
"Ck, pa.. cukup dong..." Kesal gadis itu, karena sejak tadi hanya perjodohan yang ada dalam pikiran papanya.
"Papa gak perlu khawatir, naura masih muda...pasti ntar dapat jodoh kok pa... lagian naura juga masih mau sekolah dulu" jelas gadis itu cepat dengan nafas memburu.
Namun sayangnya bukan itu jawaban yang pak satyo inginkan sehingga sudah dipastikan tidak akan ada tanggapan dari pak satyo, dan kini pria paruh baya itu memilih pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
__ADS_1