
.
.
Malam hari telah tiba, terlihat Ustadz fahri kini memasuki kamarnya setelah selesai memberikan ceramah di masjid. Di pinggir ranjang dia melihat gadisnya sedang meringkuk tertidur sambil mengucapkan sesuatu.
"Pa... " Gumam gadis itu dengan lirih
Saat pria itu mendekat suara lirih dari mulut gadisnya semakin jelas terdengar.
"Naura, kamu kenapa?" Tanya Ustadz fahri, terlihat gadis itu mengerjapkan netranya dan diikuti dengan tangannya yang memegang lengan pria itu.
"Astaghfirullah naura, kamu demam!" Ustadz fahri mengecek suhu tubuh dengan menyentuh kening Naura.
"Sebentar, saya ambilkan kompresan dulu untuk kamu" Ustadz fahri berusaha melepaskan tangan gadis yang memegang lengannya.
"Jangan pergi..." Lirih naura dengan mata yang tertutup
Ustadz fahri yang mendengar lirihan itu mengurungkan niatnya untuk pergi. Sekarang dia beralih untuk mengusap kening gadis itu.
.....
Setelah dirasa gadisnya itu telah tertidur nyenyak, Ustadz fahri beranjak untuk mengambil peralatan penurun demam gadisnya.
Sekarang dengan sangat telaten Ustadz fahri mengompres kening gadis itu. Pria itu juga membuka kancing atas baju naura untuk memudahkan dirinya mengusap leher gadis itu dengan waslap hangat.
"Astaghfirullah... Tanda ini" Gumam Ustadz fahri melihat tanda merah di leher gadis itu karena ulahnya. Kini pria itu kembali merasa bersalah melihat tanda merah itu meskipun sudah sedikit memudar.
.
__ADS_1
.
Pagi harinya ....
"Hmmm... Apa ini?" Naura memegang kain yang berada di keningnya
"Ahh ya ampun, badan gue pasti demam ya tadi malam" Lirih naura mencoba untuk bangun dari posisinya
"Eh... Dia?" Ucap gadis itu kembali saat melihat Ustadz fahri yang masih tertidur sambil menggenggam tangan nya. Ingatan akan kejadian tadi malam sekarang terlintas dalam pikirannya.
"Makasih..." Ucap pelan gadis itu sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
Karena tidak ingin membangunkan pria itu akhirnya gadis itu berusaha melepaskan genggaman yang melekat ditangannya dengan sangat hati-hati, setelahnya dia beranjak ke kamar mandi.
....
"Hmm... Lagi haid" Lirih naura dan diangguki oleh pria itu
"Sudah jauh lebih baik sekarang?" Ustadz fahri menanyakan keadaan gadis itu tetapi naura hanya membalasnya dengan senyuman canggung sementara Ustadz fahri yang melihat gadis itu memberikan senyuman tipisnya
"Ihh gue kenapa sih, kok jadi gugup begini" batin gadis itu saat melihat kepergian Ustadz fahri
.
.
"Ini bubur ayam untuk kamu" Ustadz fahri menyodorkan semangkuk bubur ayam kearah gadis itu, tanpa banyak pertanyaan naura langsung melahap bubur ayam dihadapannya.
"Pelan-pelan makannya" Ustadz fahri mengelap ujung bibir gadis itu
__ADS_1
Deg
"Oh My God, ada apa sih dengan gue!" Batin naura berteriak saat dengan mudahnya dia gugup kembali dengan perlakuan manis pria dihadapannya itu
"Hemm.. G- gue udah. Gue mau pergi sekarang" Ucap naura menahan rasa gugup
"Sebentar" Cegah Ustadz fahri
"Ini... Uang jajan untuk kamu" Ustadz fahri menyodorkan uang selembar berwarna merah
"Eh ini untuk apa?" Tanya naura heran
"Uang jajan untuk istri saya" Sahut Ustadz fahri
"T-tapi..."
"Tidak ada penolakan, kamu gunakan uang ini untuk jajan kamu" Potong Ustadz fahri kembali pada mode wajah datarnya
"Ya udah deh, gue pergi dulu... Assalamualaikum" Pungkas naura karena dia juga tidak ingin berlama-lama takut kegugupan nya akan terbaca oleh pria itu.
....
"Aku hanya ingin istri kecil ku bisa membeli makanan diluar supaya tidak menahan rasa lapar lagi" Batin Ustadz fahri sambil melihat kepergian gadis itu
"Ada apa sih dengan perasaan gue? Gak mungkin kan karena kejadian tadi malam gue langsung ada perasaan sama dia" Bantah naura dalam hatinya
.
.
__ADS_1