
.
.
Esoknya disaat Naura terbangun dari tidurnya dia merasakan sakit kembali dibagian lengannya
"Shitt lengan gue.." Lirih Naura ketika terbangun dari tidurnya
"Kamu sudah bangun Naura, mau sholat berjamaah?" Tanya Ustadz Fahri ketika keluar dari kamar mandi
Saat ini mereka berdua menjalankan sholat subuh bersama
....
"Kamu kenapa Naura?" Tanya Ustadz Fahri saat melihat gadis itu meringis kesakitan ketika melipat mukenah nya
"Ini Ustadz, tangan Naura yang dipukul pakai balok kayu sama kedua pria waktu itu sakit lagi" Jelas Naura
"Kamu dipukul pakai balok kayu? Kenapa kamu baru bilang sekarang Naura?" Tanya Ustadz Fahri
"Gapapa Ustadz, nanti juga hilang sendiri rasa sakitnya" Tutur Naura
"Saya mau lihat dulu" Tegas Ustadz dan meminta izin menaikkan lengan baju gadis itu
"Astagfirullah Naura, sampai memar seperti ini" Lirih Ustadz
"Saya akan kompres memarnya dulu, setelah itu kita ke rumah sakit untuk periksakan kamu" Jelas Ustadz Fahri beranjak untuk mengambil perlengkapan kompres
__ADS_1
Di sofa inilah mereka berdua duduk, dengan begitu telaten dan nampak jelas oleh kedua netra gadis itu bagaimana pria itu begitu peduli dengan nya.
"Sangat tampan dilihat dengan jarak dekat seperti ini" Batin Naura
Naura kini menyadari, alasan selama ini setiap wanita yang melihat Ustadz Fahri akan terhipnotis dengan ketampanan nya. Karena sekarang dia baru melihat langsung dengan posisi yang begitu intim. Wangi tubuhnya bahkan tercium dengan jelas diindera penciumannya.
"Apakah sakit?" Tanya Ustadz melihat kearah gadis yang sejak tadi menatap kearah mahakarya indah dihadapannya, sehingga tatapan mereka sekarang beradu.
"Eh ini enggak kok Ustadz" Sahut Naura
"Yasudah kamu bisa pegang kompresan ini dulu? Saya harus menghubungi seseorang dulu" Kemudian Ustadz Fahri meninggalkan tempat itu
"Aduh jantung gue, akhir-akhir ini kenapa sering berdetak gak normal" Ucap Naura sambil memegang jantungnya
.
.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Ustadz Fahri
"Samakan seperti Ustadz saja" Sahut Naura
...
"Ustadz, Naura ingin bertanya" Mulai gadis itu setelah selesai dengan kegiatan memesan mereka. Pria itu kini melihat kearah gadis itu.
"Ustadz waktu itu kenapa tidak bilang kalau restoran itu milik Ustadz?" Tanya Naura setelah teringat kejadian waktu itu
__ADS_1
"Afwan Naura, karena saya rasa itu bukan sesuatu yang penting untuk kita bicarakan" Jelas Ustadz Fahri
"Ck. Ustadz, tapi kita ini sepasang suami istri, jadi tidak ada salahnya kita harus lebih terbuka satu sama lain. Lagian Ustadz sadar gak sih, udah hampir 6 bulan pernikahan kita tapi tidak ada perkembangan apapun di rumah tangga kita" Jelas Naura panjang lebar
"Maksud kamu?" Tanya Ustadz Fahri
"Ihh Ustadz maksudnya itu kita harus lebih terbuka lain kali gak boleh ada yang ditutupi lagi" Terang Naura kembali
"Bukan yang itu" Ucap Ustadz membuat Naura kini hanya terdiam berusaha mencerna perkataan pria itu
"Jadi kamu menerima pernikahan kita?" Tanya Ustadz Fahri ragu tetapi Naura hanya memunculkan senyuman dan anggukan kecil pertanda dia malu mengungkapkan pernyataan itu
"Alhamdulillah" Lirih Ustadz Fahri yang masih terdengar di telinga gadis itu
"Tapi Ustadz, Ustadz juga sudah menerima pernikahan ini kan?" Tanya Naura
"Insyaallah, tentu saja saya menerima pernikahan ini. Jauh sebelum akad nikah saya ucapkan" Yakin Ustadz Fahri membuat Naura kembali mengulas senyumnya
....
Beberapa hari telah berlalu dan tepatnya hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Pulau Dewata itu. Hubungan keduanya menjadi lebih baik setelah beberapa insiden juga momen bahagia yang mereka lalui bersama.
"Naura, saya harap hafalan kamu ditambah lagi setelah kita kembali ke pesantren" tutur Ustadz Fahri saat mereka berdua duduk di tepi pantai menikmati hembusan angin disana
Naura tidak memberikan balasan, dia hanya tersenyum kecut mendengar tuturan pria disampingnya
"Bisa-bisanya di momen romantis seperti ini dia malah ngingetin gue untuk hafalan" Batin Naura kesal
__ADS_1
....
"Ya sudah mari kita kembali ke hotel, kita harus bersiap karena sebentar lagi kita harus ke bandara" Ucap Ustadz Fahri sehingga mau tidak mau gadis itu mengikuti langkah pria itu pergi