Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 34


__ADS_3

Betapa terkejutnya Tuan Athar saat mendengar kabar bahwa William Group dan Montana telah bekerjasama, padahal sampai kapanpun dia tidak akan sudi bekerjasama dengan perusahaan itu.


"Perusahaan kita bekerjasama?"


"Iya, cucu Anda yang menerima tawaran kerjasama kita."


Tuan Athar sangat murka mendengarnya. "Tidak akan ada kerjasama antara William Group dan Montana. Saya tidak akan pernah mengizinkannya."


Tuan Louis tidak paham, mengapa Tuan Athar terlihat marah seperti itu. "Lho kenapa Tuan Athar padahal..."


Taun Athar memotong perkataan Tuan Louis. "Apakah Anda tahu karena kelalaian mendiang istri Anda, anak dan menantu saya harus menjadi korban, mereka meninggal secara mengenaskan?"

__ADS_1


Tuan Louis terkejut mendengarnya.


Mungkin Tuan Athar pikir Bu Alda mengendarai kendaraan dalam keadaan ngebut dan juga tidak mematuhi rambu-rambu lalulintas sehingga menabrak mobil yang dikendarai oleh orang tuanya Bastian.


"Dimana itikad baiknya anda sebagai seorang keluarga tersangka? Apakah Anda sama sekali tidak mencoba mencari tahu latar belakang keluarga korban? Anda bersikap masa bodoh saat itu dan tidak memiliki hati nurani. Karena itu saya tidak akan pernah bekerjasama dengan Montana."


Setelah mengatakan itu semua, Tuan Athar pun masuk ke dalam mobil, sang supir segera mengendarai mobil tersebut.


Sementara Tuan Louis masih mematung, dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata mobil yang tertabrak oleh mendiang istrinya adalah mobil anaknya Tuan Athar. Dulu Tuan Louis memang sama sekali tidak merespon saat mendengar kabar dari anak buahnya bahwa ada keluarga korban yang ingin menuntut tanggungjawab sebagai seorang keluarga dari orang yang telah menyebabkan kecelakaan itu, dengan sombongnya Tuan Louis menyuruh anak buahnya untuk mengusirnya, dia sama sekali tidak ingin mencari tahu tentang korban kecelakaan tersebut, karena merasa tidak penting, yang penting Bu Alda sudah meninggal.


Tuan Louis merasa frustasi, dia menendang-nendang ban mobilnya. "Arrrggghhh... brengsek, kenapa bisa runyam seperti ini masalahnya."

__ADS_1


Tuan Louis pun pergi ke kantor utama Montana untuk memberikan kabar bahwa sepertinya dari pihak William Group akan membatalkan kerjasama mereka, padahal mereka belum sama sekali menjalankan sebuah proyek.


Saat itu Tuan Louis sedang meeting bersama Amar dan Raisa di meeting room.


"Ayah bertemu dengan Tuan Athar, sepertinya Tuan Edgar menerima tawaran kerjasama kita tanpa sepengetahuan kakeknya. Dan Tuan Athar akan membatalkan hubungan kerjasama William Group dengan Montana." ucap Tuan Athar dengan nada memelas.


"Lho memangnya kenapa? Kenapa lelaki tua itu sangat angkuh sekali hanya gara-gara dia memiliki perusahaan sebesar William Group." Amar terlihat emosi melihatnya.


Raisa sama sekali tak paham, kenapa Tuan Athar dari dulu selalu menolak untuk bekerjasama dengan Montana. "Sebenarnya mengapa Tuan Athar sangat tidak ingin bekerjasama dengan Montana? Padahal perusahaan kita bukan termasuk perusahaan yang buruk."


Tuan Athar menghela nafas dalam-dalam, kemudian menjawab pertanyaan dari Raisa. "Itu semua karena mamamu, Raisa. 14 tahun yang lalu, mamamu tak sengaja menabrak mobil anak dan menantunya Tuan Athar, karena kelalaian mamamu itu membuat orang tua Tuan Edgar meninggal. Sehingga kini berdampak pada perusahaan kita."

__ADS_1


Mata Raisa berkaca-kaca mendengarnya, dia yakin ibunya bukanlah orang yang bisa berbuat lalai seperti itu, karena dia sangat tau sikap ibunya yang berhati-hati dalam bersikap dan memutuskan apapun. Ibunya tidak mungkin ugal-ugalan mengendarai mobilnya.


Padahal hati Raisa sangat terluka telah kehilangan sang mama, kini hatinya semakin perih karena mamanya telah dianggap sebagai tersangka dalam kecelakaan itu.


__ADS_2