
Di kediaman Raisa, Bastian dan Raisa terlihat sedang sarapan pagi bersama, walaupun masakan Raisa kurang enak, tapi Bastian memakannya sampai habis, dia tidak ingin membuat Raisa kecewa.
"Kenapa kamu menghabiskannya? Padahal masakan aku sama sekali gak enak." Raisa sangat kecewa pada masakannya sendiri.
"Sangat enak ko, aku menyukainya." jawab Bastian sambil tersenyum manis.
Raisa menatap dengan sendu kepada Bastian, dia rasa mungkin sekarang adalah saatnya untuk mengakhiri pernikahan kontrak mereka. Walaupun rasanya sangat berat, tapi dia rasanya tak tau diri jika harus menerima cinta Bastian yang begitu besar, padahal ayahnyalah yang telah membuat orang tuanya Bastian meninggal.
"Bastian."
"Kenapa?"
Bibir Raisa merasakan sangat berat sekali untuk berucap, tapi dia rasa inilah akhir untuk mereka berdua, apalagi dia tahu Bastian dijodohkan dengan seorang wanita yang berasal dari salah satu perusahaan raksasa di negeri ini.
"Bastian, aku rasa lebih baik kita akhiri pernikahan kontak kita." Raisa mengatakannya dengan nada ragu-ragu.
Bastian nampak terkejut mendengarnya, "Kenapa?"
"Kamu tahu sendiri bahwa papaku adalah penyebab kematian kedua orang tuamu. Aku tidak pantas dicintai oleh kamu."
Bastian menatap mata Raisa dengan lekat, sampai kapanpun dia tidak ingin berpisah dengan Raisa. "Aku tau papamu memang bersalah, tapi kamu tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang dilakukan oleh papamu. Aku akan tetap mencintaimu, hanya kamu yang aku inginkan, Raisa."
Mata Raisa berkaca-kaca mendengar perkataan Bastian yang begitu tulus, sampai dia tak tahu harus berkata apalagi pada Bastian. "Aku butuh waktu untuk berpikir, aku akan memberikan jawaban padamu nanti malam."
Drrtttt...
Drrtttt...
Ponsel Bastian bergetar, dia segera mengecek ponselnya. Bastian terkejut saat melihat Tristan masuk ke dalam apartemen Berliana dari malam sampai pagi, bahkan ada beberapa chatan me-sum dan janjian ketemuan antara Tristan dan Berliana.
__ADS_1
Bastian tersenyum miring, dia sama sekali tidak menyangka kekasihnya Raisa telah mengkhianati Raisa dan sering tidur dengan calon istrinya itu.
"Baiklah nanti malam aku akan menunggu jawaban darimu, Raisa." Bastian ingin memberikan waktu pada Raisa untuk berpikir.
Bastian berkata lagi, "Tapi aku ingin kamu mengetahui bagaimana kelakuan Tristan dibelakang kamu, agar kamu tidak merasa bersalah pada Tristan."
Bastian mengirim foto-foto dan video yang di dapatkan dari Detektif Al pada Raisa, termasuk chatan in-tim antara Tristan dan Berliana.
Raisa sangat terkejut melihatnya, padahal selama ini dia sangat merasa bersalah pada Tristan karena merasa telah mengkhianatinya, tapi ternyata Tristan malah enak-enakan bercinta dengan wanita lain.
Karena itu Raisa mengirim pesan pada Tristan untuk memutuskan pacarnya yang tidak tahu diri itu.
[Aku ingin bertemu denganmu.]
...****************...
Raisa mengajak Tristan untuk ketemuan dengannya di sebuah jembatan, dia melihat Tristan keluar dari mobilnya, lalu menghampiri Raisa yang sedang berdiri di jembatan.
Raisa memperlihatkan kotak dus yang sedang dia peluk, "Aku ingin membuang semua barang pemberian darimu, karena aku tak membutuhkan barang apapun dari manusia sampah sepertimu."
Tristan tak paham kenapa Raisa berkata seperti itu padanya, bahkan dia kalah cepat dalam mencegah Raisa yang membuang barang-barang pemberian dari Tristan di dalam kotak dus itu ke dalam sungai.
"Raisa, kenapa kamu membuangnya?" Tristan mengatakannya dengan nada membentak.
Raisa malah menjawabnya dengan sebuah tamparan.
Plakk...
"Arrghh!" Tristan meringis memegang pipinya.
__ADS_1
"Mulai sekarang hubungan kita berakhir, jadi jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapan aku lagi."
"Kenapa? Apa mungkin kamu jatuh cinta pada suami gembel kamu itu?" Tristan terlihat emosi sekali.
"Iya, aku jatuh cinta padanya. Dia bukan gembel, kamulah pria yang paling menjijikkan di dunia ini, meniduri banyak wanita dibelakang aku." Raisa mengatakannya dengan nada tinggi.
Tristan tak mengerti darimana Raisa bisa mengetahui kebobrokannya itu, sampai dia tergagap, bingung untuk mencari alasan. "Ra-Raisa, bisa aku jelaskan. A-aku..."
Sayangnya Raisa tak ingin mendengarkan penjelasan dari Tristan, dia sudah muak dengan pria itu, yang penting sekarang hubungannya bersama Tristan telah berakhir.
Raisa pergi begitu saja, masuk ke dalam mobilnya bagian belakang, karena Bastian menugaskan seorang bodyguard untuk menjaga Raisa. Sementara Bastian harus menemui kakeknya untuk memperlihatkan bagaimana bobroknya seorang Berliana, wanita yang dianggap kakeknya sangat baik itu.
"Jalan, Pak!" titah Raisa.
"Baik, Nona." jawab sang bodyguard.
Bodyguard itu pun segera menjalankan mobilnya, Raisa nampak termenung memandangi suasana dijalan raya. Setelah memutuskan Tristan, dia sama sekali tidak merasa sedih, dia sudah tahu alasannya, kalau hatinya memang sepenuhnya buat Bastian.
Raisa meronggoh ponselnya, dia ingin mengirim pesan pada Bastian. Rasanya sangat malu sekali mengucapkan rasa cinta secara langsung, dia ingin menyampaikannya lewat sebuah tulisan, sekaligus untuk membuatnya bersemangat dalam bekerja.
[Bastian, aku rasa lebih baik aku menjawabnya sekarang. Rasanya aku malu untuk bilang secara langsung padamu. Aku c_
Raisa tak melanjutkan mengetik di ponselnya ketika mendengar suara bergemuruh sangat dekat sekali, sampai dia menoleh ke sebelah kiri.
Betapa kagetnya Raisa, saat mobil yang ditumpanginya melewati perempatan jalan, sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya, sampai sang bodyguard pun tak sempat untuk menghindar.
Jegeerrr...
Terdengar suara dentuman yang sangat keras, terlihat jelas mobil yang ditumpangi Raisa terguling beberapa kali, sehingga mobil tersebut tak berbentuk lagi.
__ADS_1
...****************...
...Menuju bab akhir...