Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 54


__ADS_3

Bastian terus saja merayu bibir Raisa, memagut bibirnya dengan penuh gairah. Sementara tangannya bergerak untuk membuka kancing piyama yang dipakai oleh Raisa, kemudian melepaskan piyama tersebut dari tubuh Raisa, sehingga menyisakan pakaian da-lam saja.


Raisa merasa dirinya benar-benar bodoh, karena tak bisa berontak, seolah-olah dia juga menginginkan disentuh oleh Bastian, ciuman Bastian sangat membuatnya lupa diri.


Raisa tanpa menyadarinya, dia telah membalas ciuman Bastian, kedua bibir terus berpagut saling membalas satu sama lain.


Dan akhirnya Bastian berhasil mele-paskan bra milik Raisa, membuat Raisa tercekat dan wajahnya memerah, dia ingin marah, menggigit bibir bawah Bastian, sehingga ciuman mereka terlepas.


"Bastian berhenti!"


"Jangan!"

__ADS_1


Raisa ingin marah, tapi tiba-tiba dia terdiam begitu Bastian menyambar buah dadanya, merasakan Bastian menghisap area puncaknya, menimbulkan sang empu merasakan kenikmatan.


Raisa berusaha keras untuk melawan hasrat yang kian membara merasuki tubuhnya, tapi dia malah menggila ketika merasakan lidah Bastian bergerilya di area puncaknya, disertai sesapan yang kuat, membuat Raisa meliuk-liukan tubuhnya.


"Hentikan Bastian ah..."


Raisa dilanda kebingungan, dia menyuruh Bastian berhenti, akan tetapi tubuhnya sangat menikmat dengan apa yang Bastian lakukan terhadap dirinya.


Tangan Raisa bergerak gelisah mere-mas rambut milik Bastian yang sedang menikmati dua bongkahan indahnya. Tubuh Raisa nampak menegang, dia melengkungkan punggungnya ke atas, kakinya bergerak gelisah tak karuan, menahan kenikmatan yang dia rasakan. Untuk pertama kalinya dia disentuh seperti itu.


Di dalam diri Raisa masih berperang, tubuhnya sangat menikmatinya, tapi pikirannya masih mementingkan harga diri, sangat tidak singkron. Sehingga dia berusaha mengcekal tangan Bastian yang mencoba melepaskan kain tipis dibawah perutnya, tapi sayangnya Bastian sudah berhasil membuatnya terlepas.

__ADS_1


Tubuh Raisa menegang ketika merasakan jari Bastian memainkan miliknya, bergerak dengan lembut didaerah sana. "Bastian, jangan ahh..."


"Ah... Bastian!"


Bastian tahu apa yang dirasakan oleh Raisa, dia bilang jangan bukan karena ingin menyuruhnya berhenti, tapi jangan berhenti, hanya saja Raisa masih memiliki gengsi yang sangat tinggi untuk mengakui bahwa dia sangat menikmati ketika Bastian menyentuhnya.


Tak berhenti disana, kini ciuman Bastian tertuju pada leher Raisa, sementara kedua tangan Raisa telah dia cekal dengan begitu kuat, Bastian memberikan banyak kecupan pada leher Raisa, sesekali dia memberikan sesapan di daerah sana, sehingga meninggalkan tanda kemerahan.


Lalu Bastian menciumi perut Raisa yang rata, Raisa memiliki bentuk tubuh yang teramat indah, mungkin bisa dibilang Raisa adalah sosok gadis yang sempurna, memiliki paras yang sangat cantik, dan juga memiliki postur tubuh yang ideal, tak heran jika ada banyak pria yang menyukai.


Perlahan ciuman Bastian turun ke bawah, menciumi paha Raisa yang putih, mulus, dan wangi tersebut. Bastian kemudian menenggelamkan kepalanya diantara kedua pangkal paha Raisa, membuat Raisa menjerit penuh rasa nikmat, sehingga dia memegang erat tangan Bastian yang sedang menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Bastian, hentikan, ini geli. Ahh..." Tubuh Raisa menegang, hantaman badai gairah telah menggulung Raisa tanpa arah.


Bastian tersenyum mendengar suara des-han Raisa, bibirnya memainkan kembali milik Raisa yang sangat terawat dan wangi itu, lalu memainkan lidahnya, mengusapnya dengan kasar, memutar dan menekannya, sehingga menimbulkan jeritan tertahan Raisa.


__ADS_2