Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 70


__ADS_3

Bastian saat ini sedang berada di kediaman sang kakek, dia ingin memperlihatkan bagaimana bobroknya seorang Berliana, wanita yang selalu disanjung oleh kakeknya itu.


Tuan Athar nampak terdiam begitu melihat bukti-bukti yang Bastian perlihatkan padanya mengenai Berliana yang sering bertemu dengan Tristan untuk hanya sekedar bercinta.


"Apakah wanita seperti ini yang akan dijadikan pendamping hidup aku?"


Tuan Athar enggan untuk menjawab pertanyaan dari Bastian, bahkan dia juga terlihat sangat syok sekali setelah mengetahui kenyataan kalau dia telah memilih wanita yang salah untuk dijadikan pendamping sang cucu.


"Walaupun Berliana menjadi wanita baik-baik pun aku tetap tidak akan menikahinya, karena bagiku Raisa adalah tetap wanita terbaik di dalam hidup aku. Karena itu aku mohon tolong restui hubungan kami." Bastian berkata dengan nada memohon, saat ini mereka sedang bicara serius di ruang tengah.


Tuan Athar memang sangat membenci keluarga Montana, tapi dia sadar yang seharusnya dia benci adalah Tuan Louis setelah Bastian menjelaskan semuanya, bahwa ayahnya Raisa adalah tersangka utama atas kecelakaan 14 tahun yang lalu.


"Lalu bagaimana denganmu, apa kamu baik-baik saja tinggal bersama dengan anak dari orang yang telah membuat orang tuamu meninggal?" Tuan Athar berkata dengan sungguh-sungguh.


"Tentu saja aku baik-baik saja, Raisa tidak tahu apapun tentang kecelakaan itu. Raisa sudah cukup menderita karena ulah ayahnya, aku ingin membuatnya bahagia." Bastian menjawabnya dengan tenang dan penuh keyakinan.


Dari sorot mata Bastian, Tuan Athar bisa melihat betapa besarnya cinta Bastian kepada Raisa, dia sudah tak bisa memisahkan mereka lagi. Bastian benar, Raisa tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan ayahnya.


"Kakek tidak akan ikut campur lagi dengan hubungan kamu dengan Raisa, yang penting kamu bahagia, Edgar. Tapi kakek tidak akan memaafkan mertuamu."


"Kakek tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini."

__ADS_1


Drrrtt...


Drrrtt...


Drrrtt...


Bastian mendengar ponselnya bergetar, dia melihat ada sebuah panggilan telepon dari seseorang. Betapa terkejutnya Bastian saat mendengar kabar bahwa Raisa telah mengalami kecelakaan, sekarang dia sedang dalam keadaan kritis.


...****************...


Bastian sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit William, kebetulan Raisa dirawat disana. Perasaan Bastian sangat gelisah sekali, hatinya sungguh tidak tenang, berharap Raisa baik-baik saja.


Raisa, bertahanlah. Aku mohon._ lirih hati Bastian sambil menyetir dengan kecepatan tinggi.


Bastian berjalan dengan tatapan lurus, setengah berlari menuju ruangan tempat Raisa di operasi.


Kemudian dia melihat Amar, Tuan Louis, Bu Salma, dan Mika yang sedang menunggu di luar ruangan operasi. Amar, Mika, dan Bu Salma pura-pura terlihat khawatir, bahkan Bu Salma pura-pura menangis.


"Oh Raisa, putriku huhuhu..." Padahal dalam hati Bu Salma berharap Raisa cepat mati.


Tuan Louis terlihat diam seribu bahasa, hatinya sangat terluka melihat putrinya harus mengalami kecelakaan secara tragis seperti itu, mengingatkan kesalahan yang telah dia lakukan 14 tahun yang lalu.

__ADS_1


Tapi kenapa karma ini harus menimpa putrinya? Padahal Raisa tidak terlibat dalam kejahatan yang telah dia rencanakan bersama Bu Salma.


Amar terlihat gelagapan karena hanya dia dan istrinya yang tahu siapa Bastian sebenarnya, dia takut Bastian akan mencurigainya. Begitu juga Mika, karena sepasang suami istri itu yang telah bersekongkol untuk membunuh Raisa.


Tuan Louis tak suka dengan kehadiran Bastian, dia mengusir Bastian dari sana. "Untuk apa kamu datang kesini? Bahkan suami sampah seperti kamu tidak mampu melindungi putriku. Lebih baik kamu pergi dari sini!"


Tuan Louis tidak tahu bahwa selama ini Bastian telah banyak berkorban demi Raisa, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.


Bastian menghelakan nafas, dia tidak akan pernah pergi, dia harus melihat keadaan Raisa. "Bagaimanapun juga aku adalah suaminya, aku berhak berada disini untuk menjaga Raisa."


Amar ingin memberikan kode kepada ayah dan ibunya dengan mengedip-ngedipkan mata, tapi sayangnya mereka tak paham dengan kode dari Amar itu.


Kini Bu Salma yang ikut menghina Bastian. "Tidak akan, kami tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bertemu dengan Raisa. Kami akan mengurus perceraian kamu dengan Raisa, kamu dan Raisa itu seperti bumi dan langit, seharusnya kamu ngaca sebelum menikahi Raisa."


Dua orang security datang kesana setelah mendengar keributan itu, Tuan Louis langsung menyuruh dua security itu untuk mengusir Bastian dari sana.


"Tolong kalian usir pria itu dari sini!" Titah Tuan Louis sembari menunjuk Bastian.


Dua orang security itu menjadi gelagapan, tidak mungkin mereka mengusir sang pemilik rumah sakit. Bastian memang telah menyuruh Zicko untuk memberitahu semua karyawan diberbagai anak perusahaan yang bernaung di William Group untuk menjelaskan penampilan sesungguhnya seorang Edgar Bastian William, sehingga Bastian tidak akan memakai kumis palsu, kaca mata, dan rambut palsu lagi.


Seorang Direktur Rumah Sakit datang bersama beberapa petugas keamanan lainnya, mereka membungkukkan badan dengan rasa hormat kepada Bastian. Membuat Tuan Louis dan Bu Salma terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Selamat sore Tuan Edgar, kedatangan Tuan adalah sebuah kehormatan bagi kami. Mohon maaf atas kekacauan yang terjadi disini." Ucap sang Direktur Rumah Sakit, Pak Roni


Perkataan Pak Roni membuat Tuan Louis dan Bu Salma sangat terkejut, mengapa Direktur Rumah Sakit itu memanggil Bastian dengan sebutan Tuan Edgar, bahkan mereka begitu hormat pada Bastian.


__ADS_2