
Bastian berdiri di belakang Raisa, dia mengajarkan bagaimana caranya agar bisa nembak ke sebuah gabus yang terlihat banyak sekali nomor hadiah disana.
Raisa nampak gugup sekali ketika merasakan badan mereka hampir saja menempel, sampai jantungnya berdebar-bedar.
Bastian memegang tangan Raisa yang sedang memegang pistol mainan.
"Tekan pelatuknya, Raisa."
Raisa menghirup nafas dalam-dalam, kemudian dia menekan pelatuk.
Zdor...
Peluru mainan pun menancap disebuah gabus, Raisa nampak senang sekali, dia tak menyangka bahwa ternyata pelurunya itu telah menancap tepat pada nomor satu, sampai akhirnya dia mendapatkan hadiah utama, yaitu sebuah boneka panda yang sangat besar.
...****************...
Tepat pukul 10 malam Bastian dan Raisa telah pulang ke mansion, hati mereka kini sedikit tenang, bisa melupakan masalah yang mereka hadapi sekarang ini.
Bastian membawa boneka panda yang berukuran jumbo itu ke kamarnya Raisa.
"Mau disimpan dimana, Raisa?" tanya Bastian pada Raisa.
"Di ranjang aku aja." jawab Raisa dengan santai, dia berjalan mengikuti Bastian dibelakang Bastian.
__ADS_1
Bastian meletakkan boneka panda berwarna coklat itu di atas ranjang. Kemudian dia tersenyum miring. "Aku iri dengan boneka itu."
"Apanya yang membuat kamu iri? Memangnya kamu mau menjadi boneka?" Raisa tak paham dengan perkataan Bastian.
"Aku iri karena boneka itu bisa tidur disamping kamu." Bastian mengatakannya dengan nada bercanda.
Wajah Raisa merah merona mendengar candaan dari Bastian. "Hm kakiku lagi baik malam ini jadi tidak akan menginjak kakimu."
Bastian tertawa kecil. "Kalau begitu biarkan kakimu berpuasa, bagaimana kalau pipimu saja?"
"Pipi? Maksudnya?"
Tanpa diduga Bastian tiba-tiba mencium pipi Raisa. Membuat Raisa membulatkan matanya.
Bastian terburu-buru pergi dari kamar Raisa, karena takut Raisa akan marah.
Karena memang sudah perjanjian, jika Bastian melanggar, gajinya akan dipotong, dan jika Raisa yang melanggar, maka Raisa akan menaikan gaji.
Raisa tidak tahu dia harus marah atau bagaimana, yang pasti entah mengapa dia merasa senang malam ini, sampai Raisa memegang pipinya yang telah dicium oleh Bastian.
Raisa melihat dirinya sendiri dibalik cermin, dia melihat dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang pipinya.
"Ada apa ini? Kenapa aku harus tersenyum setelah dia mencium pipiku?" Raisa bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Seharusnya aku marah tadi, tapi kenapa aku jadi tidak bisa marah padanya?" Raisa terus saja bermonolog sendirian.
Drrrttt...
Drrrttt...
Drrrttt...
Ponsel Raisa bergetar diatas nakas, ternyata ada panggilan telepon dari Tristan.
Entah mengapa dia menjadi malas mengangkat telepon dari kekasihnya itu, Raisa membiarkan ponselnya terus bergetar.
Raisa menggantikan pakaiannya dengan piyama, kemudian dia merebahkan badannya sambil memeluk boneka panda hadiah dari main game di festival.
"Terimakasih, sudah menghibur aku malam ini, Bastian." ucap Raisa pada boneka yang sedang dia peluk.
...****************...
Berbeda dengan Bastian, malam ini Bastian tidak bisa tidur, karena itu tepat pukul 12 malam, Bastian pergi ke lokasi kejadian kecelakaan 14 tahun yang lalu.
Bastian terdiam di pinggir jalan mengamati kendaraan yang berlalu lalang di perempatan jalan tersebut, membayangkan arah jalan yang dilalui oleh kedua orang tuanya, dan juga arah jalan yang di lalui oleh ibunya Raisa.
Jika melihat arah jalan yang mereka lalui, Bastian yakin faktor kecelakaan tersebut bisa terjadi ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama yaitu karena ibunya Raisa yang lalai melanggar lampu merah sehingga menabrak mobil orang tuanya Bastian yang sedang melaju.
__ADS_1
Dan kemungkinan kedua, mungkin saja mobil yang dikendarai oleh ibunya Raisa mengalami kerusakan, semacam remnya blong. Sehingga mobil terus melaju dan tak dapat dihentikan, alhasil menabrak mobil orang tuanya Bastian yang sedang melaju.
Bastian teringat ucapan Raisa, bahwa ibunya bukanlah orang yang suka bertindak ceroboh, berarti kemungkinan pertama dicoret, yang tersisa kemungkinan kedua, bisa saja kecelakaan terjadi karena ada kerusakan pada mobil ibunya Raisa. Apakah kerusakan itu murni karena benar-benar rusak atau ada yang sengaja merusaknya?