Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 67


__ADS_3

Malam ini sebuah dapur telah menjadi tempat dimana ada dua insan yang saling bercum-bu dengan penuh gairah. Tangan Raisa bergerak membuka kancing kemeja putih yang Bastian kenakan, kemudian melepaskan kemeja tersebut dari tubuh Bastian sehingga kemeja putih itu benar-benar terlepas, kini terlihat jelas bagaimana kekarnya tubuh pria tampan itu.


Bastian tak mau kalah, dia melepaskan kemeja yang dikenakan oleh Raisa, sehingga tubuh bagian atas Raisa hanya tersisakan sebuah bra yang masih membungkus buah dadanya Raisa.


Raisa nampak kewalahan menerima ciuman dari Bastian, pria itu begitu mendominasi dirinya. Rasanya nafas kian memburu, dan tubuhnya pun seolah terbang melayang.


Bastian menggendong Raisa, membawanya masuk ke dalam kamar, ciuman mereka tak dibiarkan terlepas begitu saja, Bastian tak ingin melepaskan bibir Raisa yang sangat teramat manis.


Setelah sampai di kamar, Bastian membaringkan tubuh Raisa, melepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh Raisa, sehingga wanita itu tak memakai busana sama sekali, nampak jelas seluruh lekuk tubuhnya yang sangat terlihat indah.


Bastian memberikan banyak kecupan pada tubuh Raisa, sehingga kini kecupan itu telah sampai ke pangkal paha Raisa.Bastian sengaja melebarkan kaki Raisa, sehingga nampak sesuatu yang telah terlihat sudah basah dan berdenyut.


Bastian mendekatkan wajahnya ke milik Raisa, dia menjulurkan lidahnya, kemudian memainkannya, membuat Raisa mendes-ah dengan seketika.


"Ahh..."


Gerakan lidah Bastian dibawah sana semakin membuat gairah Raisa terbangun, tiada hentinya Raisa melenguh nikmat, membuat dia semakin melebarkan kakinya, sehingga Bastian semakin intens bermain dengan milik Raisa, bahkan tak segan pria itu menghisapnya.


"Oh My God, Bastian." Punggung Raisa melengkung ke atas, sementara tangannya mencengkram rambut Bastian, menekan kepalanya.


Raisa semakin dibutakan layaknya orang yang kerakusan. Raisa semakin basah dibuatnya,apalagi ketika pria itu memberikan gigitan kecil di area sensitif wanita itu. Sungguh membuat tubuh Raisa teras ingin meledak.


"Ahhh... ahhh.. Bastian... mmhh..." Tubuh Raisa nampak menegang, merasakan cai-ran hangat keluar dari miliknya.


Bastian menggodanya dengan menghisap cairan tersebut disertai dengan jilatin lidahnya, sehingga Raisa semakin dibuat gila.

__ADS_1


"Ahhh... Owh... Bastian!" Raisa mencengkram seprai dengan kuat, entah bagaimana lagi cara agar Raisa mampu menahan kenikmatan ini.


Bastian mulai melepaskan celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah bangun dengan tegak dari tadi. Kemudian dia menindih tubuh Raisa, bertumpu dengan kedua tangan.


Keduanya pun merasakan sensasi yang telah membangkitkan gairah, Bastian sengaja mengarahkan senjatanya ke dalam milik Raisa.


"Ahhh..." Keduanya mendes-ah ketika merasakan tubuh mereka benar-benar menyatu, nafas mereka sama-sama tersenggal tidak beraturan.


Malam ini sungguh terasa berbeda dengan malam kemarin, mungkin karena Raisa tak malu memperlihatkan bagaimana dia sangat menikmati percintaan mereka, sehingga terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dengan malam yang sebelumnya.


Raisa melingkari leher Bastian, mencium bibir pria itu, sementara pria tersebut begitu gagah mengguncang tubuhnya.


Kenikmatan yang sungguh luar biasa, ini membuat Bastian seolah-olah terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantam tiada henti, membuat pria itu merasakan terbang jauh tinggi ke awan.


Bastian tersenyum menatap Raisa yang terlihat sangat menggairahkan dibawahnya dengan tubuh basah oleh peluh, tubuh yang menggeliat dan wajah penuh kenikmatan.


Hingga akhirnya mereka berdua mengerang penuh rasa nikmat saat merasakan pelepasan dibawah sana, sampai Bastian dengan begitu banyak menyemburkan be-nihnya ke dalam milik Raisa.


Nafas mereka terengah-engah, saling melemparkan senyuman, menempelkan kening mereka yang telah dibasahi oleh keringat, lalu berciuman kembali.


Malam ini mereka melakukannya untuk kesekian kalinya, aktivitas mereka hanya terjeda sebentar untuk mengisi tenaga mereka dengan memakan masakan yang telah mereka masak bersama. Kemudian setelah itu mereka melakukannya lagi.


Bahagianya hati Bastian, dia merasakan perasaannya seakan sangat disambut oleh Raisa, bahkan malam ini Raisa terlihat begitu manis dan manja sampai Bastian menyuapi Raisa makan, mereka benar-benar seperti pasangan suami istri sungguhan.


Paginya...

__ADS_1


Bastian terbangun dari tidurnya, tangannya meraba-raba kesamping, dia terkejut saat menyadari Raisa tidak ada disampingnya.


Bastian segera mengenakan pakaiannya, dia takut tiba-tiba saja Raisa menghilang dari hidupnya setelah dia mendadak bersikap manis padanya.


Namun, langkahnya terhenti ketika dia mencium wangi masakan, Bastian berjalan berbelok arah menuju ruang makan, dia melihat Raisa yang sedang menghidangkan makanan diatas meja makan.


"Raisa, siapa yang memasak?"


Raisa tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja aku, siapa lagi?"


Padahal Bastian belum mencoba masakan Raisa, tapi hatinya sangat bahagia, seorang Raisa, istrinya yang angkuh dan memiliki gengsi selangit itu memasak untuknya.


Bastian berjalan dengan cepat, dia mencium bibir Raisa, dia ingin bibir Raisa yang pertama kali Bastian cicipi.


Maafkan aku Tristan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu. Tapi pria ini berhasil mencuri hatiku, padahal aku sudah tau hubungan aku dan Bastian akan menyakitkan pada akhirnya._ Bisik batin Raisa. Hatinya merasa bersalah pada Tristan, tapi dia tak dapat menahan dirinya yang hatinya telah berhasil dicuri oleh Bastian, suami bayarannya.


...****************...


Sementara itu Detektif Al saat ini sedang standby di depan apartemennya Berliana, semalam dia melihat ada seorang pria masuk ke apartemen Berliana, sayangnya pria tersebut wajahnya ditutupi oleh masker, sehingga Detektif Al nampak kesulitan untuk mencari tahu siapa pria yang masuk ke apartemennya Berliana.


"Wah bahkan sekarang sudah pagi tapi pria itu belum keluar juga." ucap Gleen, anak buahnya Detektif Al dengan heboh.


"Hmm... sudah dipastikan semalaman mereka habis ngapain." seru Danu, anak buahnya Detektif Al juga.


Detektif Al nampak tenang, "Tugas kita adalah membuat mereka keluar dari sana, dan kita harus melihat wajah pria itu dengan jelas, dari sorot mata dan postur tubuhnya, aku rasa dia adalah seseorang yang sangat familiar." Detektif Al merasa pernah melihatnya tapi entah dimana. "Apa mungkin dia seorang aktor?"

__ADS_1


__ADS_2