
Tuan Louis menjadi penasaran tentang proyek yang dibahas oleh Raisa dan Edgar, sehingga sampai Raisa harus bergadang semalaman. Karena itu dia ingin bertanya pada Raisa, setelah Bastian dan Zicko pergi. Saat ini mereka sedang ada ruangan kerjanya Taun Louis, tentu saja disana ada Amar.
"Proyek apa yang kamu bahas dengan Tuan Edgar, Raisa?" tanya Tuan Louis, sementara Amar terdiam, menunggu jawaban dari Raisa.
Raisa nampak menghela nafas, karena semalam dia dan pewaris Willim Group itu sama sekali tidak membahas proyek, yang ada mereka bertempur di dalam kamar. Karena itu Raisa terpaksa berbohong, walaupun sebenarnya dia memang merencanakan proyek tersebut sudah lama. "Aku ingin membangun sebuah restoran di kota C, kebetulan aku dengar William Group memiliki lahan yang sangat luas disana, dan letaknya sangat strategis, dekat dengan tempat pariwisata."
Tuan Louis nampak terkekeh, "Andai saja kamu belum menikah dengan Bastian, padahal kamu lebih cocok bersanding dengannya, Raisa."
Justru sebaliknya, jika dia bisa menawar, dia menginginkan Bastian dan Edgar adalah orang yang berbeda. Rasanya menyakitkan semua yang dia lalui bersama Bastian, ternyata semua itu palsu.
Pembicaraan mereka sempat terjeda ketika ada seseorang membuka pintu, ternyata Bu Salma yang datang sambil membawa makanan untuk Amar dan Tuan Louis.
"Ini mama bawakan makanan untuk suami dan anak mama tercinta." ucap Bu Salma, kemudian dia duduk disamping Tuan Louis, dia mendeliki Raisa, karena tak suka dengan kehadiran anak tirinya itu.
__ADS_1
"Raisa, kamu mau makan juga? Masakan mama Salma sangat enak lho." Tuan Louis menawarkan masakan istrinya pada Raisa.
Raisa baru saja mau menolak, tapi keduluan oleh Bu Salma, dia nampak tidak sudi jika masakannya di makan oleh Raisa. "Apaan sih Pa, mama cuma membawa dua porsi makanan untuk papa dan Amar."
Raisa sudah terbiasa dibuat sakit hati oleh ibu tirinya itu. "Iya gak apa-apa Pa, aku sama sekali gak lapar."
Setelah Raisa keluar dari ruangan papanya, dia mendengar suara keluarganya yang terdengar sedang tertawa bersama sambil makan siang. Raisa memang tidak dibutuhkan oleh keluarganya sendiri. Dari dulu dia selalu kesepian.
...****************...
Malam ini Raisa sedang termenung di atas rooftop mansion, dia mengingat kebersamaannya bersama Bastian, dia sangat merindukan sosok Bastian yang selalu terlihat ceria dan menghiburnya. Kehadiran Bastian di dalam hidupnya membuat dia merasakan tidak kesepian lagi. Rasanya sangat menyakitkan jika mengingat pria itu adalah Edgar, pria yang suatu saat akan menyakiti dia dan keluarganya.
Raisa mendengar suara langkah seseorang, dia membalikkan badan, dia melihat Bastian yang sedang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Mata Raisa berkaca-kaca menatap ke arah Bastian. "Lebih baik kita akhiri saja pernikahan kontrak kita, Tuan Edgar."
Bastian nampak terkejut mendengarnya. "Kenapa? Bukankah pernikahan kontrak kita tinggal 7 bulan lagi?"
"Aku sudah tau apa maksud kamu datang ke dalam kehidupan aku. Dan aku tau kamulah orang yang telah menghancurkan Montana, tapi kenapa kamu harus menjadi investor di Montana?" Raisa mengatakannya dengan nada sendu.
Bastian menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Raisa, kemudian dia menatap Raisa dengan begitu dalam. "Aku melakukannya demi kamu."
Raisa mengerutkan keningnya. "Demi aku?"
"Iya demi kamu, aku bisa berbuat jahat kepada siapapun orang yang telah menyakitimu." Bastian menjawabnya dengan penuh kesungguhan hati.
Betapa terkejutnya Raisa mendengar perkataan Bastian. Bastian menjadi investor di Montana, karena dia ingin membuat Montana menjadi seutuhnya milik Raisa, sekaligus untuk balas dendam pada Tuan Louis.
__ADS_1