Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 65


__ADS_3

Tuan Louis termenung di ruang kerjanya, dia mencoba mencerna disetiap perkataan Raisa yang telah Raisa ucapkan padanya.


Dia tak paham mengapa Raisa bisa berkata seperti itu padanya, seakan Raisa mengetahui kejahatannya.


Tuan Louis menggelengkan kepala, dia yakin kejadian 14 tahun silam telah ditutup dengan rapat, semua bukti telah dilenyapkan dan juga pelakunya yang dia suruh telah dia sogok dalam sejumlah uang yang cukup fantastis.


Lamunannya buyar ketika Bu Salma terus saja memanggil dirinya.


"Papa!"


Tuan Louis terlonjak, dia seakan terlihat linglung karena baru sadar dari lamunannya.


"Ini sudah malam lho Pa, kenapa masih disitu?"


Tuan Louis menghirup nafas dalam-dalam, kemudian dia menatap sang istri.

__ADS_1


"Aku ingin kamu bisa perhatian pada Raisa, bagaimanapun juga Raisa adalah darah dagingku." Mungkin Tuan Louis berpikir selama ini Raisa kurang mendapatkan perhatian darinya dan juga dari istri keduanya, sehingga Raisa mengungkapkan rasa kecewanya terhadap sang ayah.


Bu Salma tidak terima dengan perintah dari suaminya. "Raisa itu sudah gede, ngapain aku harus perhatian sama dia."


"Tapi tetap saja dimata orang tuanya dia tetap seorang anak. Cobalah bersikap baik pada putriku, dia sudah kehilangan ibunya dari kecil. Kita lah yang telah memisahkan mereka."


"Sudahlah Pa jangan membahas lagi kejadian itu." Bu Salma tidak ingin ada satu orangpun yang tahu akan kejahatan yang telah dia dan suaminya dilakukan agar bisa bersatu dan juga menguasai Montana.


...****************...


Raisa telah tiba di Mansion, rasanya dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk bertemu dengan Bastian, setelah mengetahui kejahatan yang telah dilakukan ayahnya sehingga orang tua Bastian pun harus meninggal di TKP bersama sang mama.


Kemudian setelah itu Raisa memberanikan diri untuk masuk ke dalam Mansion. Raisa mencium aroma masakan, dia sangat tahu siapa yang memasak, tentu saja sang suami, karena dia tahu ciri khas aroma masakannya.


Raisa berjalan dengan pelan, dia hanya ingin mengintip dari kejauhan untuk memperhatikan Bastian yang sedang memasak, tapi ternyata di dapur tidak ada siapa-siapa, sehingga Raisa celingukan mencari Bastian.

__ADS_1


"Apa kamu sedang mengintip aku?"


Perkataan Bastian mengagetkan Raisa, membuat Raisa gelagapan, ternyata Bastian sedang berada di belakangnya.


"Ba-Bastian, sedang apa kamu disini?" Wajah Raisa memerah karena dia telah kepergok ingin mengintip Bastian.


"Tentu saja sedang memasak makanan kesukaan kamu, Raisa." jawab Bastian, terlihat Bastian membawa banyak sayuran. Mungkin dia pergi meninggalkan dapur sebentar untuk membawa sayuran di dalam kulkas.


Raisa menatap Bastian. Sikap Bastian telah kembali seperti dulu, atau tapi mungkin saja seperti itulah sifat aslinya, yang pasti dia sangat merindukan sikap Bastian yang terlihat hangat seperti ini.


"Udah, jangan dilihatin terus wajah ganteng aku, pria tampan ini memang milikmu." Bastian berkata sambil mengedipkan matanya pada Raisa.


Bastian sadar betul saat ini Raisa membutuhkan seorang pria yang bisa menghibur dirinya. Apapun yang terjadi suatu saat nanti, dia akan tetap melindungi Raisa dan berada di pihaknya.


"Bolehkah aku membantumu memasak?" Raisa bertanya dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Pertanyaan Raisa membuat seketika senyuman Bastian melebar, dia menganggukan kepala. "Tentu saja boleh."


Raisa sudah yakin betul tentang perasaannya pada Bastian, dia memang telah mencintai pria itu walaupun entah sejak kapan, karena itu dia ingin memiliki kenangan indah bersama Bantian, melakukan apa saja yang ingin Raisa lakukan bersama pria tampan itu, walaupun mungkin saja akhirnya mereka akan berpisah.


__ADS_2