
Pagi ini Raisa melenguh, dia merasakan badannya terasa remuk dan pegal, mungkin karena Bastian menggempurnya terus menerus.
Raisa mengerjapkan mata ketika menyadari dirinya tak memakai pakaian satu helaipun, hanya ditutupi selimut tebal saja.
Rasa segera segera bangkit dan duduk ditempat tidur, matanya beredar mencari sosok pria yang sudah sukses membuatnya menjadi mantan perawan. Tapi sepertinya Bastian tidak ada dikamarnya.
"Astaga, apa yang telah aku lakukan?"
"Bagaimana kalau Tristan tahu aku sudah tidak perawan jika aku menikah dengannya nanti?" Raisa merasa gelisah, dia merasa telah mengkhianati kekasihnya.
Tapi jujur saja semalam Raisa tak mampu menolak, dia merasakan dirinya terombang-ambing ketika Bastian menyentuhnya, pria itu begitu perkasa menggempurnya.
Raisa meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya kembali. Dia merasa kecewa karena Bastian pergi begitu saja tanpa membangunkannya, ataupun menunggunya bangun dulu.
"Setelah menikmati tubuhku, dia pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku. Mentang-mentang karena aku sudah tau dia itu seorang Edgar, sehingga dia menunjukan sifat aslinya." gerutu Raisa, saat ini dia sedang merendamkan badannya di dalam bath up, di kamar mandi.
__ADS_1
Raisa menghela nafas panjang, dia merasa tidak dihargai oleh Bastian. "Dia tidak boleh berbuat seenaknya padaku, aku tidak boleh membiarkan dia menyentuh aku lagi."
Setelah selesai mandi, Raisa memakai bathrobe menutupi keindahan tubuhnya. Raisa hampir saja menjerit ketika dia melihat ada kiss-mark di lehernya ketika dia sedang bercermin, bagaimana kalau ada orang yang melihatnya? Apalagi hari ini dia harus ke kantor Montana, karena dia telah memutuskan untuk kembali ke perusahaan yang telah dibangun susah payah oleh ibunya.
"Astaga, apa dia sengaja meninggalkan tanda merah di leherku?" Raisa melihat lehernya di cermin, entah bagaimana caranya untuk menghilangkan tanda merah itu.
Raisa memiliki akal, dia lebih baik menutupnya dengan plester.
Drrttt...
Drrttt...
"Baguslah kalau dia menghubungi aku, dia tau bagaimana caranya menghargai seorang wanita yang sudah dia tiduri seenaknya." gumam Raisa.
Namun, ternyata tebakannya salah, yang meneleponnya adalah Tristan. Raisa terdiam sejenak, semakin hari dia semakin merasakan perasaannya pada Tristan semakin hambar, apalagi dia telah tega tidur dengan Bastian.
__ADS_1
Raisa merasa bersalah pada Tristan, padahal Tristan telah mengorbankan perasaannya membiarkan Raisa menikah kontrak dengan pria lain, apalagi Tristan begitu setia padanya. Tapi semalan dia malah menikmati setiap Bastian menyentuh tubuhnya, tapi jujur saja dia pun tak paham mengapa setiap kali bersama Bastian, dia merasakan nyaman dan hatinya berdebar-debar, jauh sebelum dia tahun Bastian itu adalah Edgar.
Karena Raisa tak mengangkat panggilan telepon darinya, maka dari itu Tristan memilih untuk mengirim pesan pada kekasihnya.
[Sayang, kenapa dari semalam kamu sudah dihubungi?]
Mata Raisa berkaca-kaca membaca pesan dari Tristan. Dia memilih untuk membalasnya.
[Maafkan aku, semalam aku sangat sibuk sekali.]
Tak lama kemudian Raisa mendapatkan balasan pesan dari Tristan.
[Aku pikir kamu sakit, aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Rasanya sangat sakit, padahal kita berada di kota yang sama, tapi kita tak bisa bertemu sama sekali. Rasanya aku ingin sekali kamu mengakhiri pernikahan kontak kamu dengan Bastian.]
Raisa semakin merasa bersalah pada Tristan, dia sama sekali tidak merasakan getaran apapun ketika membaca pesan dari Tristan, apakah mungkin dia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Tristan dan sekarang ini dia mulai mencintai Bastian? Dia harap itu itu semua tidak benar, jangan sampai dia jatuh cinta pada Bastian. Dia yakin Bastian memilki rencana tertentu yang pasti suata saat akan menyakitinya.
__ADS_1
"Bahkan dia setelah berhasil merenggut kehormatan aku, dia pergi begitu saja, tanpa memberitahu aku dia akan pergi kemana." lirih Raisa.
Raisa tidak tahu bahwa pagi itu Bastian terburu-buru sekali untuk bertemu dengan Detektif Al, karena Detektif Al telah mendapatkan informasi yang penting tentang kecelakaan 14 tahun yang lalu.