Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 72


__ADS_3

Tuan Louis terpaksa harus mengambil keputusan yang bisa membahayakan dirinya, setelah mendapatkan pesan kedua dari Amar.


[Jack sudah berhasil memasang bom pada mobil Bastian. Waktu tersisa 12 menit lagi. Sekarang papa harus katakan pada si Bastian yang sebenarnya, dia harus memilih ingin semua orang yang berada di rumah sakit mati, termasuk Raisa. Atau dia menjauhkan mobilnya dari rumah sakit.]


Karena itulah Tuan Louis terpaksa melakukannya, jika mobil Bastian tetap berada di basement, rumah sakit ini pasti akan hancur, sementara disana ada Raisa yang sedang di rawat.


12 menit bukanlah waktu yang panjang jika harus memanggil polisi ataupun orang yang ahli, jalan satu-satunya yang dia lakukan adalah membawa mobil pergi jauh dari rumah sakit.


Seorang Bastian tidak mungkin memilih mengorbankan anak buahnya demi keselamatan dirinya sendiri, dia pasti akan memilih untuk membawa mobil itu pergi, demi keselamatan bersama. Karena itu biarlah Tuan Louis yang berkorban, demi Raisa, karena yang dibutuhkan Raisa adalah Bastian, bukan seorang ayah pecundang dan jahat seperti dirinya.


Sekarang Tuan Louis sudah berada di dalam mobilnya Bastian, sementara waktu tersisa kini 10 menit lagi. Jack menyimpan bom tersebut di bawah mobilnya Bastian. Tidak mungkin dia mencabutnya begitu saja, salah sedikit saja akan cepat meledak.


Amar yang sedang memantau, betapa terkejutnya dia ketika melihat Tuan Louis masuk ke dalam mobil miliknya Bastian.


Amar segera berlari untuk mencegah ayahnya pergi. "Papa, kenapa papa masuk ke dalam mobil itu?"


Sayangnya mobil yang dikendarai oleh Tuan Louis telah meninggalkan basement.


"Arrrggghhh!" Amar terlihat sangat frustasi sampai menjambak rambutnya sendiri, padahal dia berniat untuk membunuh Bastian, tapi malah menjadi malapetaka untuk ayahnya sendiri.


Amar segera naik ke dalam mobil untuk mengejar ayahnya. "Cepat kejar papa!" Titah Amar kepada Jack.


Waktu tersisa 8 menit lagi.


Brrmm...


Brrmm...


Tuan Louis mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus menjauhkan bom tersebut dari keramaian, agar tidak ada korban jiwa.


Tuan Louis mendengar ponselnya berdering, ada panggilan telepon dari Bastian. Dia menerima panggilan telepon tersebut, meletakkannya di dasbor, dan mengloudspeakerkan panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


"Anda sedang berada dimana, Tuan Louis?" Bastian memang belum memberikan kunci mobilnya pada Tuan Louis, dia meminta Tuan Louis jangan pergi dulu sebelum Raisa siuman. Saat Bastian menerima panggilan telepon dari Detektif Al, Tuan Louis membawa kunci mobil Bastian yang tergeletak diatas meja di ruangan istimewa tersebut dan meletakkan kembali berkas kejahatan tentang dirinya diatas meja.


Mata Tuan Louis berkaca-kaca, sayangnya dia tak sempat melihat Raisa untuk terakhir kalinya. "Aku titip Raisa padamu, Tuan Edgar. Hanya kamu satu-satunya yang Raisa punya, maafkan atas kesalahan saya karena telah membuat orang tuamu meninggal. Dan jika Raisa telah siuman nanti, katakan pada Raisa, maafkan saya telah menjadi seorang ayah yang sangat buruk untuk Raisa.Tapi walaupun begitu, saya sangat menyayanginya."


"Mengapa Anda berkata seperti itu? Dimana Anda sekarang?" Bastian saat ini sedang duduk di samping Raisa, setelah menjalani operasi, Raisa masih belum siuman juga.


Tuan Louis enggan untuk menjawab, dia mematikan panggilan telepon karena Amar menelpon dirinya. Amar saat ini sedang berada dibelakang mobil yang Tuan Louis kendarai. Amar berusaha menyusul ayahnya, sayangnya mobil yang dikendalikan sang ayah melaju sangat cepat.


"Papa, kenapa papa melakukannya? Turun dari mobil itu sekarang juga."


Turun dari mobil bukanlah solusi yang tepat karena, karena jalan raya begitu padat, mereka akan ikut terkena ledakan bom jika seandainya mobil meledak. Sementara bom tersebut kini tersisa 5 menit lagi.


Tuan Louis segera berbelok arah, mencari tempat yang sepi, agar bom itu tidak memakan jiwa.


"Maafkan papamu ini, Amar. Kamu menjadi jahat seperti ini gara-gara papa. Papa memang pantas mendapatkan hukuman seperti ini, karena telah salah mendidikmu."


Amar terlihat panik, dia beberapa kali menyuruh Jack untuk bisa menyusul mobil ayahnya, tapi sayangnya mobil yang dikendarai ayahnya sudah sangat jauh dari jangkauannya.


"Untuk menyadarkan kamu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga untukmu. Papa harap kamu jangan pernah menyakiti Raisa lagi, apalagi mencoba untuk membunuhnya. Raisa adikmu. Papa harap kamu bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu dan kamu bisa berubah. Maafkan papa, papa yang salah dari awal telah mendidik kamu dengan cara yang sangat salah."


Waktu tersisa 2 menit lagi.


Tuan Louis masih belum juga menemukan tempat yang sepi, maklumlah di ibukota jalan raya memang sangat ramai, dan dia tidak ingin melukai banyak orang.


Amar menangis, dia tidak ingin kehilangan ayahnya. "Tolong hentikan mobilnya, Pa. Papa gak boleh mati. Arrgghh, aku mohon, Pa."


Waktu tersisa 50 detik lagi.


Tuan Louis tidak ingin ada yang terluka lagi karena kejahatan yang telah Amar lakukan, Tuan Louis akan sangat merasa menjadi ayahnya gagal karena telah membuat Amar menjadi seorang pria yang serakah dan berani melenyapkan nyawa seseorang demi ambisinya, apalagi korbannya adalah Raisa.


Mungkin dengan cara seperti ini Tuan Louis bisa membuat bom yang diracik oleh Jack tidak memakan banyak korban dan juga menyadarkan Amar.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain lagi, Tuan Louis terpaksa belok ke sebelah kanan, begitu melihat ada sebuah jurang disana, mungkin inilah satu-satunya agar bisa membuat bom itu tak membahayakan orang lain.


Tuan Louis semakin cepat mengendarai mobilnya sehingga mobil tersebut terperosok ke dalam jurang.


Brukk...


Brukk...


Brukk...


"Papa!" Amar terkejut melihatnya.


Mobil yang dikendarai Tuan Louis terjungkal berkali-kali, masuk ke dalam jurang.


Amar menjerit histeris, begitu mendengar suara ledakan.


Duar...


Bomm...


Bomm...


Suara ledakan bom menggelegar di bawah jurang sana, bahkan kepulan asap hitam terlihat begitu jelas.


Amar turun dari mobilnya, dia terus berteriak memanggil-manggil sang ayah sambil menangis, ingin rasanya dia loncat ke bawah jurang, tapi dicekal oleh Jack.


"Papa!"


"Arrrggghhh!"


"Papa!"

__ADS_1


Terdengar suara sirene mobil polisi datang mendekat, Jack dan Amar terkejut ketika menyadari mereka telah dikepung oleh banyak pasukan polisi.


__ADS_2