
"Baiklah, aku akan membayar denda karena malam ini aku ingin tidur di kamarmu, bagaimana?" ucap Raisa sambil tersenyum manis menatap Bastian.
Bastian berjalan mendekati Raisa, dia menyentuhkan punggung telapak tangannya pada kening Raisa, siapa tau Raisa sedang sakit panas atau apa, sehingga gadis itu sikapnya berubah padanya.
"Padahal kamu gak sakit panas. Lalu kenapa sikap kamu tiba-tiba berubah drastis, hm?" tanya Bastian dengan penuh keheranan.
Raisa menepis tangan Bastian yang sedang menyentuh keningnya. "Kamu pikir aku gila?"
"Sikapmu tidak seperti biasanya, Raisa."
Drrtttt...
Drrtttt...
Drrtttt...
Ponselnya Bastian bergetar, ternyata ada pesan dari Zicko, Bastian lebih memilih dulu membaca pesan dari Zicko dari pada harus berdebat dengan Raisa, karena Zicko biasanya kalau mengirimkan pesan, berarti ada hal penting yang harus dia beritahukan.
[Maaf Tuan, saya dengar dari security di rumah sakit, katanya tadi siang mereka melihat ada Manager Montana datang ke rumah sakit. Masalah ini sudah saya atasi agar tidak sampai ke telinga Tuan Athar, hanya saja saya merasa Nona Raisa tahu penyamaran anda.]
__ADS_1
Kemudian Zicko mengirimkan rekaman CCTV ketika Raisa hanya diam memperhatikan ke tempat Bastian dirawat, selama dirawat di rumah sakit, Bastian berpenampilan seperti dirinya sendiri, tidak memakai kumis ataupun rambut palsu dan juga kaca mata, dia hanya memakai itu semua saat Raisa sedang menjaganya saja waktu hari pertama di rumah sakit.
Bastian tersenyum kecut, sekarang dia paham mengapa Raisa berubah sikap padanya, mungkin karena dia merasa kesal karena sudah dibohongi olehnya.
Raisa merasa kesal melihat melihat Bastian yang sedang tersenyum memperhatikan ponselnya.
Pasti dia menerima pesan dari kekasihnya, makanya sampai tersenyum-senyum begitu._ Itulah yang ada dipikiran Raisa saat ini.
Bastian menyimpan ponselnya diatas nakas, dia menatap Raisa yang masih duduk dipinggir kasur. Dia jadi penasaran, apa saja yang ingin Raisa lakukan padanya, sepertinya wanita itu ingin mencoba menggoda dirinya karena merasa dirinya akan aman, mengingat Bastian takut ketahuan penyamarannya.
Raisa tersenyum manis padanya dengan tatapan yang nakal, apalagi mungkin dia sengaja membuka dua buah kancing piyamanya sehingga terlihat bagaimana belahan dadanya.
"Kenapa diam saja memandangi aku? Apa kamu tidak ingin tidur bersama istrimu ini, hm?"
Bastian masih berdiri ditempat yang sama, pantas saja Raisa tiba-tiba bersikap manis padanya, ternyata gadis itu ingin mempermainkannya.
"Ya sudah, ayo kita tidur." Bastian berpura-pura bersikap cuek pada Raisa.
Sudah aku duga, kamu pasti akan bersikap seperti itu, karena kamu akan lebih memilih menjaga identitas kamu agar tidak terbongkar dari pada hasrat kamu. Dan itulah siksaan untukmu._ Raisa tertawa lagi di dalam hatinya.
__ADS_1
Bastian dan Raisa pun merebahkan dirinya diatas kasur, keduanya merasa gugup, sama-sama menatap langit-langit kamar, selama 5 bulan menikah, untuk pertama kalinya mereka tidur bersama.
Raisa menarik nafas dalam-dalam, dia tidak boleh terlihat gugup, dia memposisikan dirinya menghadap Bastian. "Apakah kamu pria normal? Mengapa dari tadi diam terus?"
Bastian masih dalam posisi menghadap langit-langit kamar, tanpa memandangi Raisa. "Lalu menurut kamu aku harus bagaimana?"
Tetap saja seperti itu, aku tau kamu gak mungkin berani menyentuh aku. Aku sangat senang jika kamu tidak bisa tidur karena tersiksa dengan hasratmu itu, wahai Tuan Edgar._ jawab hati Raisa.
Raisa mulai menguap, dia ingin membalikkan posisi tidurnya untuk membelakangi Bastian, tapi dia dibuat terkejut ketika Bastian menarik tubuhnya, membuat posisi dia berada dibawah kungkungan Bastian, hanya bertumpuan pada lengannya.
"Bastian!" Raisa menelan saliva memandangi pria yang sedang berada diatasnya itu.
"Aku mampu membayar denda untuk melanggar apa saja yang ingin aku lakukan padamu." ucap Bastian sambil menatap Raisa.
Raisa mengerutkan keningnya. "Mak-maksud kamu apa?"
Bastian merasa gemas melihat Raisa gugup seperti itu, sampai dia mengecup bibir Raisa sebentar, membuat Raisa gelagapan, dia tidak tahu Bastian akan seberani itu, padahal seharusnya Bastian tetap berusaha keras untuk tidak tergoda olehnya.
Bastian memandangi kedua bola mata Raisa, dia tersenyum simpul. "Aku tahu kamu sudah mengetahui siapa aku sebenarnya, Raisa."
__ADS_1
Raisa tersentak kaget mendengarnya, rupanya dia telah terjebak ke dalam permainannya sendiri. Jangan sampai dirinya menjadi santapan Bastian, padahal dia harus menjaga kehormatannya untuk Tristan, jika mereka sudah menikah, setelah nanti dia bercerai dengan Bastian.