
Begitu ponsel Bastian bergetar, betapa bahagianya Bastian karena orang yang pertama kali dihubungi oleh istrinya adalah dirinya.
Bastian langsung mengangkat telepon dari Raisa, sambil menatap Raisa yang masih berdiri di depan gerbang Mansion, dari kejauhan.
"Hallo, Raisa."
"Bastian, aku lapar, tolong kamu antarkan nasi sama rendang sapi ke kantor." Raisa mengatakan itu sambil memegang perutnya yang terasa sangat perih, mungkin karena terlalu memikirkan bagaimana caranya agar bisa bekerjasama dengan William Group, sampai dia lupa makan.
Raisa dan Bastian memang telah membuat kesepakatan yang telah ditandatangani diatas materai, salah satu kesepakatan mereka adalah Bastian tidak boleh meminta hak sebagai seorang suami pada Raisa, Bastian harus bersedia menjadi pelayan Raisa selama mereka menikah, dan juga setiap bulan Raisa harus menggaji pekerjaan Bastian sebagai seorang pelayan sebesar 10 juta.
Ternyata Raisa meneleponnya karena lapar, bukan untuk memberitahu kabar gembira tentang pewaris William Group yang bersedia bertemu dengannya.
"Oke, nanti aku antarkan pesanan kamu." Bastian mengatakannya dengan nada sedikit mengeluh.
Klik!
Raisa pun mengakhiri panggilan teleponnya, dia harus segera kembali ke kantor untuk memberikan kabar gembira pada ayahnya, menujukan bahwa dia yang berhak atas Montana, bukan Amar.
...****************...
"Permisi!" Bastian masuk ke dalam ruang meeting sambil membawa makanan yang dipesan oleh Raisa.
Bastian melihat disana ada Raisa, Tuan Louis, dan Amar yang sedang membicarakan tentang persiapan yang harus mereka lakukan untuk menyambut sang pewaris dari William Group jikalau nanti Edgar datang kesana.
Tuan Louis sangat bahagia sekali hari ini, rasanya dia sedang berada di atas awan karena akhirnya dari pihak William Group bersedia untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
"Pokoknya kita jangan sampai mengecewakan Tuan Edgar, kita harus membenah meeting room ini agar tampil lebih berkelas." kata Tuan Louis pada Raisa dan Amar.
"Iya, pa."
Pembicaraan mereka terhenti begitu melihat Bastian masuk ke meeting room, dia nampak tersenyum karena ternyata mereka sedang membicarakannya.
"Mau apa kamu kesini?" Bentak Tuan Louis pada Bastian.
"Aku yang menyuruhnya kesini, pa. Aku belum sempat makan makanya aku meminta Bastian untuk mengantarkan makanan untuk aku." Raisa mencoba untuk membela Bastian.
Bastian segera memberikan makanan yang dipesan oleh Raisa. "Ini makanan pesanan kamu, Raisa."
Amar bersiul, dia memperhatikan Bastian dengan tatapan meledek. Kemudian dia menyuruh Bastian. "Tolong buatkan aku dan papa kopi, kopi hitam aja."
Raisa langsung membentak kakaknya, "Kak Amar apaan sih." Walaupun dia sering memperlakukan Bastian seperti pelayan di Mansionnya, tapi itu atas kesepakatan bersama, dan Bastian menyetujuinya karena mereka menikah bukan berdasarkan cinta, tapi karena Raisa yang sudah membayar Bastian.
Bastian segera keluar dari meeting room untuk membuatkan kopi teruntuk sang mertua dan kakak ipar, tak lama kemudian Bastian kembali lagi.
Bastian menyimpan dua gelas kopi pesanan TuanLouis dan Amar di atas meja.
Tuan Louis segera mencoba sedikit kopi buatan menantunya, kemudian dia meludah. "Cuihh... kopi macam ini?"
Bastian padahal memasukkan gula dengan takaran yang pas ke dalam gelas, agar kopi hitam yang dia seduh terasa manis.
"Apa kopinya kurang manis, Tuan?" tanya Bastian dengan sopan.
__ADS_1
Tuan Louis memang menyuruh Bastian untuk memanggilnya Tuan, dia tidak sudi memiliki menantu miskin dan tidak berguna seperti Bastian.
Amar hanya tersenyum sinis, dia sangat menyukai pemandangan seperti ini.
"Kopinya tidak enak, hanya membuat kopi hitam saja, kamu tidak becus. Buatkan saya teh manis!" Tuan Louis mengatakannya dengan nada membentak.
Bastian menganggukkan kepala, "Baik, Tuan."
Namun, sepertinya Raisa tidak suka melihat ayahnya menghina suaminya di depan matanya. "Gak usah, Bastian. Kamu boleh pulang."
Tuan Louis dan Amar menatap Raisa dengan tatapan penuh rasa kesal, padahal mereka masih ingin mengerjai Bastian.
Bastian tidak enak hati jika tidak menuruti perintah dari mertuanya, "Tapi..."
"Aku bilang kamu boleh pulang, Bastian!" Raisa mengatakannya dengan nada tegas.
Bastian menganggukkan kepala, "Baik, Raisa."
Setelah Bastian pergi, Amar ingin memberikan pertanyaan pada adik tirinya, "Aku heran sama kamu, Raisa. Kenapa kamu ingin menikah dengan pria miskin seperti Bastian?"
"Aku rasa aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan dari kamu, itu urusan pribadi saya dengan suami saya." jawab Raisa dengan tenang.
Tuan Louis tidak suka dengan cara Raisa menjawab pertanyaan dari Amar, "Raisa, bicara yang benar. Amar ini kakak kamu."
Raisa menghela nafas, "Kalau begitu papa juga harus bicara yang benar sama Bastian, dia adalah suamiku. Jadi tolong jangan bicara yang kasar padanya!"
__ADS_1
Raisa pun tidak mengerti mengapa dia merasa ikut sakit hati jika ada yang menghina Bastian, padahal dia sendiri tidak pernah bersikap manis kepada pria itu.