
Tuan Louis sedang berbicara berdua dengan Bastian di sebuah ruangan istimewa yang ada di rumah sakit itu. Tuan Louis melihat di dinding sana ada foto-foto para jajaran tertinggi di William Group, dan tentu saja terpampang begitu jelas ada foto Bastian disana, sebagai pemegang jabatan tertinggi di William Group.
Tubuhnya begitu gemeteran, sampai keringat dingin bercucuran membahasi dahinya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa menantu yang sering dia hina itu ternyata adalah pewaris William Group, seorang pria yang sangat dia segani selama ini.
"Ke-kenapa kamu harus menyamar menjadi pria miskin, Tuan Edgar?" Kini nada bicara Tuan Louis terdengar berbeda dari biasanya, biasanya dia selalu membentak Bastian dan berkata kasar, sekarang dia terlihat seperti orang yang sedang dilanda kebingungan dan menahan rasa malu.
Bastian menjawabnya dengan tenang. "Jika anda tau saya Edgar dari dulu, apa yang akan anda lakukan pada saya? Apakah anda akan bersikap baik seperti ini?"
Tuan Louis terdiam, dia merasa harga dirinya benar-benar jatuh saat ini.
"Dulu ketika Anda menghina saya, saya berusaha untuk tetap bersabar, saya sangat menghormati anda sebagai mertua saya. Tapi saya tidak bisa memaafkan kesalahan anda terhadap orang tua saya dan ibu mertua saya."
Tuan Louis terkejut mendengar perkataan Bastian, mengapa Bastian menyinggung soal kecelakaan 14 tahun yang lalu padanya.
__ADS_1
Bastian meletakan beberapa berkas di atas meja, berkas itu berisi tentang bukti-bukti kejahatan yang telah Tuan Louis lakukan 14 tahun yang lalu, "Begitu saya menyerahkan berkas ini ke kantor polisi, anda pasti akan segera ditahan. Tapi saya ingin anda yang memutuskan sebuah pilihan. Haruskah saya yang melaporkannya atau anda yang menyerahkan diri?"
Tuan Louis sekarang mengerti mengapa terakhir kali dia bertemu dengan Raisa, Raisa menangis dan bilang bahwa dia sangat menyakitkan memiliki ayah seperti Tuan Louis, ternyata sekarang dia tahu alasannya, Raisa pasti sudah tahu kejahatan yang telah dia lakukan 14 tahun yang lalu.
Tuan Louis benar-benar merasa dunianya runtuh, seorang ayah pasti tidak ingin anaknya mengetahui tentang kejahatan yang telah dia lakukan. Raisa pasti sangat membencinya, dia tidak tahu harus mengahadapi Raisa nanti jika Raisa seandainya Raisa berhasil melewati masa kritisnya.
"Sekarang ini saya sedang menyuruh seorang Detektif untuk mencari tahu siapa orang yang begitu tega membuat Raisa celaka? Dan beberapa bukti telah tertuju pada Amar, putra anda." Sebelum tiba di rumah sakit, Bastian memang menyuruh Detektif Al untuk segera menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Raisa.
Tuan Louis tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, Bastian ternyata sudah tahu bahwa Amar adalah putra kandungnya Tuan Louis, dia yakin Raisa pun pasti sudah tahu itu.
"Lalu bagaimana dengan anda? Anda juga tega mencelakai istri anda sendiri, seorang ibu dari putri anda? Mengapa Amar tidak bisa melakukannya? Bukankah dia sangat berambisi ingin menjadi pemimpin di Montana?"
Perkataan Bastian ada benarnya, Tuan Louis merasa menjadi ayah yang gagal untuk Raisa dan Amar. Tanpa dia sadari dia telah banyak menyakiti Raisa. Dan dia juga telah memberikan contoh yang tidak baik pada Amar.
__ADS_1
Drrrttt...
Drrrttt...
Drrrttt...
Ponsel Tuan Louis bergetar, dia mendapatkan pesan dari Amar.
[Papa tahan dulu Bastian disana, ajak dia bicara dalam waktu yang cukup lama. Sekarang aku lagi menyuruh Jack untuk mengurus mobilnya Bastian. Dengan Bastian mati, masalah kita akan terselesaikan.]
Saat ini mobil Bastian berada di basement, Jack memiliki keahlian khusus dalam hal ini melakukan kejahatan tanpa ada gerak gerik yang mencurigakan agar tidak terangkap kamera CCTV.
Tuan Louis membawa berkas tentang bukti kejahatannya, "Saya akan menyerahkan diri sendiri, karena itu saya titip Raisa padamu. Raisa sangat mencintaimu. Sebagai mertuamu saya sangat berterimakasih karena kamu sudah menjadi suami yang baik untuk Raisa, Tuan Edgar."
__ADS_1
Dari cara bicaranya dan juga tatapan Tuan Louis, Bastian rasa Tuan Louis mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Tuan Louis berkata lagi. "Kebetulan tadi saya datang kesini ikut pakai mobil Amar, apakah saya boleh pinjam mobil kamu?"