Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 40


__ADS_3

Sebenarnya Raisa tidak merasakan lapar, tapi entah mengapa Raisa ingin sekali bertemu suami bayarannya itu siang ini, mungkin karena tadi pagi mereka tak saling bicara sama sekali, mungkin Bastian takut Raisa akan marah padanya gara-gara dia mencium pipi Raisa, dan Raisa yang merasa dirinya bimbing harus bersikap bagaimana pada Bastian.


Karena itu Raisa menyuruh Bastian untuk mengantarkan spageti ke kantor utama Montana.


Sesibuk apapun, Bastian tidak pernah menolak apapun yang suruh oleh Raisa, karena itu dia harus berganti penampilan dari Edgar yang begitu berkelas menjadi Bastian yang miskin.


Setelah tiba di kantor utama Montana, Bastian masuk ke ruangan Raisa, dia mengantarkan spageti untuk sang istri.


Raisa sengaja memesan dua, karena yang satunya untuk Bastian.


"Emm... sepertinya aku salah memesan, harusnya pesan satu, mengapa jadi dua." Raisa merasa dirinya bodoh mengapa mengatakan hal konyol seperti itu.


"Jadi bagaimana, Raisa? Harus aku apakan spagetinya yang satu lagi?"


"Makan aja sama kamu, kamu belum makan kan?"


Bastian memang belum sempat makan siang, karena itu dia menganggukkan kepala. Malahan dia sangat senang untuk pertama kalinya dia makan siang bersama Raisa di kantor utama Montana.


Sambil makan, Raisa ingin bertanya tentang pekerjaan Bastian. "Hari ini kamu jualan?"


"Nggak, aku kebetulan hari ini jadwal menjadi supir pribadi kenalan aku." Bastian terpaksa berbohong.


"Kalau boleh tau siapa bosmu itu?" Entah mengapa Raisa masih ada yang menjanggal tentang pekerjaan sampingan Bastian.


"Namanya Riko, dia pemilik Laundry AHA." Bastian telah membayar pria yang bernama Riko itu jika seandainya suatu saat nanti Raisa datang ke Laundry AHA untuk menyelidiki pekerjaan Bastian. Bastian sudah mempersiapkannya dengan matang.

__ADS_1


"Oh gitu." Raisa mengatakannya sambil memakan spageti.


Bastian nyengir ketika melihat ada sisa saus di sudut bibirnya Raisa. "Ada sisa saus di bibirmu, Raisa."


Raisa memang ingin selalu terlihat elegan, hal itu membuatnya terganggu, dia segera mengambil tisu, namun ternyata salah, Raisa malah membersihkan sudut bibir yang bagian kiri, padahal sisa saus ada di sudut bibir yang kanan.


Bastian terkekeh, dia segera mengambil tisu, lalu membersihkan sisa saus di sudut bibir Raisa.


Hal itu membuat Raisa menjadi salah tingkah, seharusnya dia menepis tangan Bastian, tapi entah mengapa akhir-akhir ini Raisa sangat merasa nyaman berada di dekat Bastian.


Sehingga tanpa kesengajaan kedua bola mata mereka bertemu, membuat mereka saling memandang.


Bastian tak dapat menahan diri, dia meraih tengkuk Raisa untuk mencium bibirnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Raisa menjadi salah tingkah kembali, dia mengutuk dirinya, bisa-bisanya dia hampir membiarkan Bastian mencium bibirnya kembali.


Ingat Raisa, dia itu cuma suami bayaran kamu._ Raisa mengingatkan hatinya.


"Masuk!" suruh Raisa kepada orang yang mengetuk pintu ruangannya.

__ADS_1


Ternyata orang itu adalah Tuan Louis, dia terlihat geram saat melihat Bastian yang sedang makan siang bersama putrinya.


"Untuk apa kamu ada disini? Jangan sampai kehadiran kamu membuat ruangan putriku kotor!" bentak Tuan Louis pada Bastian.


"Papa!" Raisa tidak suka jika ada yang membentak Bastian di hadapannya.


Tapi Tuan Louis terus saja memaki-maki Bastian. "Kamu ini dasar gembel tidak tau diri, sudah saya peringatkan jangan pernah menginjakan kaki di kantor saya, dan jangan pernah membiarkan saya melihat kamu, karena mataku tidak sudi melihat pria tak berguna seperti kamu."


"Udah cukup, Pa. Bastian suami aku, jadi dia berhak datang kesini. Dia datang kesini juga karena aku yang menyuruhnya. Papa gak ada hak untuk mengatur apalagi memarahi Bastian." Raisa juga terlihat marah kepada ayahnya itu.


Kini giliran Bastian yang bicara. "Raisa istriku, jadi aku rasa aku tidak masalah jika aku harus makan bersama istri aku sendiri." Untuk pertama kalinya Bastian membela dirinya sendiri, mungkin karena dia mulai muak dengan mertuanya itu.


"Berani sekali kamu melawan padaku, dasar menantu kurang ajar!"


Tuan Louis terlihat semakin emosi, dia melayangkan tangannya untuk menampar Bastian. Namun, dengan sigap Bastian menahan tangan Tuan Louis, menatap tajam ke arah sang mertua.


Raisa terperangah, akhirnya kini Bastian bisa membela dirinya sendiri. Bukannya dia ingin Bastian melawan ayahnya, tapi Raisa rasa sikap ayahnya memang sangat keterlaluan, jadi Raisa selalu memperingatkan Bastian untuk tidak membiarkan ayah dan kakaknya merendahkan dirinya.


Bastian tadinya sangat ingin menghormati Tuan Louis sebagai mertuanya, karena itu dia mencoba untuk bersabar ketika Tuan Louis terus menghinanya. Namun, setelah dia mengetahui bagaimana perlakuan Tuan Louis pada kakeknya dan juga banyak hal yang menjanggal pada Tuan Louis, membuat Bastian tidak dapat menerima lagi jika dia harus direndahkan oleh sang mertua.


Tuan Louis menarik tangannya yang dipegang oleh Bastian. "Lihatlah Raisa, menantu kurang ajar ini berani sekali melawan papa!"


"Sudah cukup, Pa. Itu karena sikap papa sudah keterlaluan, Bastian sudah cukup bersabar selama ini, dan aku yang menyuruh Bastian untuk membela dirinya sendiri." Raisa masih saja membela suaminya.


Bastian merasa tersentuh ketika mendengar perkataan Raisa, dia tidak tahu apakah Raisa mengatakannya untuk membelanya atau demi harga dirinya sendiri sebagai seorang istri dari suami yang selalu direndahkan.

__ADS_1


Tuan Louis semakin emosi karena Raisa selalu saja membela Bastian. "Oke, papa akan menuruti keinginan kamu, papa akan menjadikan kamu CEO di Montana, tapi kamu harus bercerai bersama Bastian, bagaimana?"


Raisa nampak terkejut mendengar persyaratan dari sang ayah, tapi bukankah itu yang dia harapkan, bercerai dengan Bastian, lalu menjadi CEO di Montana. Tapi entah mengapa Raisa rasanya belum siap untuk berpisah dengan Bastian.


__ADS_2