
Malam ini Bastian sedang mencoba untuk mengajarkan Raisa memasak, mimpi apa semalam sampai Raisa mau memasak bersamanya, bagi Bastian hal itu terkesan lebih dari jauh romantis.
"Apa daging sapinya harus diiris sekecil ini?" tanya Raisa sambil menunjukkan daging sapi yang sudah diiris-iris olehnya.
Bastian melihat daging sapi yang diiris sangat tipis setipis kartu ATM oleh Raisa, membuat Bastian hampir menahan tawa. "Itu terlalu tipis, Raisa. Agak ditebalkan sedikit atau 1 cm aja."
"Ah gitu." Bagi Raisa memasak itu adalah hal yang paling sulit, apalagi dia belum bisa memberikan takaran sebanyak apa gula, garam, ataupun penyedap rasa.
Raisa merasa iri pada Bastian, padahal dia seorang pria, terlebih dia adalah seorang Sultan, tapi dia jago sekali memasak.
Raisa mencoba mengiris daging sapi kembali setebal 1 cm, kemudian dia memperlihatkan pada Bastian yang sedang sibuk mengiris kol untuk membuat capcay. "Setebal inikah?"
"Nah iya, setebal itu." Bastian mengacungkan jempol pada Raisa.
"Yes, akhirnya aku berhasil." Raisa terlihat sangat heboh, kemudian dia mengiris kembali daging sapi yang masih utuh.
Bastian tersenyum hangat melihat Raisa tersenyum seperti itu, kemudian dia mengiris sayuran lainnya yang akan dibuat capcay.
Bastian tak paham mengapa seorang gadis anti dapur seperti Raisa ingin memasak bersamanya? Ah Bastian lupa, sekarang ini Raisa telah menjadi seorang wanita, bukan gadis lagi. Karena dia yang telah berhasil membuat Raisa menjadi mantan gadis. Bastian sangat merasa beruntung karena dialah yang berhasil mendapatkan kegadisan Riasa, padahal Raisa sudah berpacaran lama dengan Tristan.
__ADS_1
Bastian menggelengkan kepalanya, mengapa dia harus mengingat malam pertama yang telah dia lalui bersama Raisa dalam keadaan sedang memasak. Tapi Bagaimanapun juga dia adalah seorang pria normal, wajar saja jika dia merasakan ketagihan pada tubuh sang istri, dan belum bisa melupakan rasanya.
Bastian berusaha sekuat tenaga untuk menghapus pikiran kotornya, dia memperhatikan Raisa yang sedang mengiris wortel. Bastian menahan tawa saat melihatnya, ternyata Raisa mengiris wortelnya sangat tebal, setebal 2 cm.
"Itu terlalu tebal, Raisa."
"Ternyata memasak itu susah juga, aku pikir hanya asal potong aja, ternyata harus mengukur ketebalan dan ketipisan juga." gerutu Raisa, sambil mengerucutkan bibirnya, ternyata lebih gampang bekerja di depan komputer dari pada di dapur.
Tapi walaupun begitu, Raisa bisa melupakan sedikit masalah yang sedang dia hadapi bersama Bastian dan keluarga mereka, khusus malam ini dia ingin melupakan semua masalah itu, walaupun hanya sesaat.
"Apa aku harus membawa penggaris?" Canda Raisa sambil tertawa.
Raisa menjadi kesal, seharusnya Bastian tertawa, tapi dia malah bertanya dengan nada kebingungan. "Lupakan saja."
Bastian pura-pura tertawa untuk menghargai Raisa.
Raisa terdiam memperhatikan Bastian yang sedang memasukkan sayuran ke dalam wajan, pria itu mengaduk-aduk sayuran tersebut dengan pelan. Padahal Bastian sedang memasak, bukan lagi tebar pesona, tapi mengapa kadar ketampanannya tak pernah luntur.
"Aku ingin mencoba mengaduk-aduknya." Raisa sangat penasaran bagaimana cara mengaduk sayuran di dalam wajan dalam kondisi api yang sedang menyala.
__ADS_1
Bastian menganggukkan kepala, dia mundur tiga langkah, biarkan Raisa yang mengambil alih dalam mengaduk capcay di dalam wajan. Dia lebih memilih untuk memasukkan bumbunya saja ke dalam wajan, di belakang Raisa, sehingga badan mereka hampir saja menempel.
Jantung Raisa merasakan berdebar-debar ketika dia merasakan badan Bastian sedang menempel pada punggungnya.
Bastian mencium wangi aroma tubuhnya Raisa, membuat hasratnya terpancing dan tubuhnya terasa panas, sehingga dia tak bisa menahan dirinya lagi.
Bastian mematikan kompor, lalu memeluk Raisa dari belakang, "Raisa!"
"Ada apa?" Raisa sangat gugup merasakan tangan Bastian melingkari perutnya.
Bastian membalikkan badan Raisa, menatapnya dengan begitu lekat. "Apa masih sakit?" Berhubung kemarin malam Bastian menggempurnya berkali-kali, karena itu Bastian harus bertanya dulu pada Raisa.
Seketika wajah Raisa nampak memerah mendengar pertanyaan dari Bastian, dia paham betul dengan apa yang Bastian tanyakan padanya.
Raisa menggelengkan kepala, pertanda dia sudah tidak merasakan sakit lagi, justru dia juga menginginkan melakukan apapun yang dia inginkan bersama Bastian, salah satunya mengulang kembali malam panas mereka.
Bastian tersenyum samar, apakah itu artinya kini Raisa mengizinkannya dengan sesuka hati untuk menyentuh tubuh indahnya? Karena waktu kemarin malam, Bastian melakukannya dengan cara pemaksaan walaupun akhirnya Raisa luluh juga dan ikut menikmatinya.
Tanpa segan Bastian mencium bibir Raisa, mengecap manisnya bibir sang istri. Kali ini Raisa merespon ciumannya dengan sepenuh hati, wanita itu membalas ciuman Bastian, sehingga bibir mereka saling memagut, bahkan Raisa mengalungkan kedua tangannya pada leher Bastian.
__ADS_1
Bastian mengangkat tubuh Raisa, membuat Raisa terduduk di atas meja yang ada di dapur tersebut, lalu saling bercum-bu kembali, ciuman kali ini sangat spesial, karena Raisa mencium bibir Bastian dengan setiap emosi yang dia miliki. Begitu membuat sudut-sudut jiwanya bergelora. Bahkan tangan Raisa bergerak membuka kancing kemeja putih yang Bastian kenakan.