
Raisa nampak gugup ketika Bastian meminta Raisa untuk membuktikan ucapannya bahwa dia tidak perawan lagi, bagaimana mungkin dia mau membuktikannya, karena sejujurnya dia masih perawan, bagi dia harga diri seorang wanita itu sangatlah penting.
Raisa baru menyadari bahwa status pria dihadapannya itu adalah suami bayarannya, hingga dia menginjakkan kakinya pada kaki Bastian yang sedang berjalan ke arahnya, membuat Bastian kesakitan.
Bastian mengangkat satu kakinya yang tadi diinjak cukup keras oleh Raisa, mengusap-usapnya, dia mendengus kesal. "Kamu sudah tahu siapa aku, Raisa. Tapi kenapa..."
Raisa memotong perkataan Bastian. "Selama kita di mansion, aku akan menganggap kamu adalah Bastian, suami bayaran aku. Jadi aku akan bersikap seperti biasanya sama kamu. Kita harus mematuhi kontrak kesepakatan kita, termasuk kamu tidak boleh meminta hak padaku."
"Ah kau benar, kenapa juga aku harus meminta hakku padamu, padahal aku bisa melakukannya dengan gadis lain, aku seorang Edgar Bastian William, hanya sekali kedip akan ada banyak wanita yang tergila-gila padaku, dan dengan sesuka hati memberikan tubuhnya padaku." Bastian mengatakannya sambil terkekeh, dia sama sekali tidak serius dengan perkataannya itu.
Entah mengapa Raisa tidak rela jika Bastian harus melakukannya bersama gadis lain, dia langsung sewot. "Kenapa tidak memintanya pada kekasihmu saja?"
__ADS_1
Bastian mengerutkan keningnya, "Kekasih?"
Bastian baru paham mungkin yang dimaksud kekasih oleh Raisa adalah Berliana. "Apa kamu sedang cemburu, Raisa?"
Raisa terkekeh, "Cemburu? Untuk apa aku cemburu?"
Bastian seorang pria normal, bagaimana bisa dia kuat jika harus berhadapan dengan gadis cantik seperti Raisa yang sedang berada dalam satu kamar dengannya, apalagi sekarang ini Raisa memakai piyama yang begitu seksi.
Raisa nampak kewalahan ketika Bastian mencium bibirnya dengan penuh nafas, bahkan dia mencoba untuk memukul-mukul dada Bastian. "Mmmhh... Mmmhh..."
Dengan sekuat tenaga, Raisa berusaha mendorong tubuh pria itu dengan kekuatannya. Sayangnya kekuatannya tidak sebanding, karena tenaga Bastian begitu kuat.
__ADS_1
Namun, semakin lama Bastian mencium bibirnya, Raisa merasakan ada gelayar aneh merasuki tubuhnya, tubuhnya terasa panas, seakan ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang Bastian ciptakan.
Pukulan tangan Raisa pada dada Bastian semakin terasa melemah, pria itu begitu pintar membuat ciumannya terasa sangat memabukkan untuk Raisa. Raisa gadis yang normal, jadi wajar saja jika hasratnya terpancing.
Raisa tahu ini tak benar, dia harus mengkhianati Tristan, tapi jujur saja siapa yang bisa menolak pesona seorang Bastian, memiliki tubuh yang sixpack dan ideal bagi seseorang pria, dan juga memiliki paras yang sangat tampan, bagaimana dia bisa tahan jika harus dalam kondisi seperti ini.
Ciuman Bastian telah menghancurkan akal sehat Raisa, padahal dia sangat kecewa pada pria itu karena telah membohonginya selama ini, apalagi dia mencurigai bahwa Bastian lah yang menghancurkan Montana, tapi hasrat telah mengalahkan akal sehatnya.
Bastian menyunggingkan seulah senyuman di sela-sela ciumannya, kini dia merasakan tidak ada penolakan di diri Raisa, seakan mendapatkan lampu hijau agar dia bisa melakukannya lebih dari sekedar ciuman.
Bastian merebahkan Raisa diatas kasur, awalnya Raisa kaget ketika pria itu menindih tubuhnya, namun lagi dan lagi dia kalah telak ketika Bastian mencium bibirnya kembali, seakan dirinya terhipnotis dengan apa yang Bastian lakukan padanya.
__ADS_1