Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 62


__ADS_3

"Dan besar kemungkinan Amar adalah anak kandung papamu, Raisa." ucap Bastian sembari memberikan ponselnya pada Raisa.


Raisa terkejut ketika melihat ada foto-foto yang sedikit usang memperlihatkan bagaimana kedekatan ayahnya dan sang ibu tiri, walaupun disana terlihat ada banyak alumni yang sedang berkumpul untuk berfoto bersama, tapi sangat terlihat jelas ayahnya sedang berpegangan tangan dengan Bu Salma.


Ternyata ayahnya selama ini berbohong padanya, ayahnya bilang bahwa dia mengenal Bu Salma satu bulan setelah ibunya meninggal, karena merasa cocok akhirnya dalam waktu dua bulan setelah kematian ibunya, Tuan Louis menikahi Bu Salma. Tapi kenyataannya Tuan Louis dan Bu Salma pernah bersekolah di SMA yang sama.


"Ibu tirimu tidak pernah tercatat pernikahan dengan siapapun sebelum menikah dengan papamu, Raisa." Bastian menambahkan perkataannya.


Padahal Bu Salma mengakunya seorang janda beranak satu, Bu Salma mengatakan ke semua orang bahwa ayahnya Amar meninggal karena kecelakaan. Tapi nyatanya Amar terlahir tanpa adanya status pernikahan dari kedua orang tuanya, karena Tuan Louis belum menikahi Bu Salma saat itu, dan Tuan Louis masih menjadi suaminya Bu Alda.


Raisa menggelengkan kepala, kemudian dia menangis. "Gak, gak mungkin. Ini semuanya pasti bohong. Gak mungkin papa tega sejahat itu pada kami."


Bastian mencoba untuk membuat Raisa tegar. "Aku tau ini semua berat untukmu, tapi inilah kenyataannya, Raisa."


Raisa masih berharap apa yang dikatakan Bastian itu tidak benar, dunianya benar-benar hancur jika ternyata perkataan Bastian benar, bahwa ayahnya lah tersangka utama dibalik kecelakaan 14 tahun silam.


Raisa menghapus air matanya, dia mengembalikan ponselnya Bastian ke dalam genggaman Bastian, dia memilih untuk pergi dari rooftop. "Aku butuh waktu untuk sendiri." lirih Raisa.


Setelah berkata begitu Raisa pun pergi, dia menyuruh Bastian untuk tidak mengikutinya.

__ADS_1


...****************...


Amar memilih untuk tutup mulut tentang rahasia besar ini, dia akan berpura-pura tidak tahu bahwa Bastian itu adalah Edgar, bahkan dia tak memberitahu ayahnya. Karena dia memiliki rencana besar untuk pasangan suami istri itu.


Malam ini Amar pergi ke ruang kerja Tuan Louis, dia menemui ayahnya untuk meminta uang sebanyak 20 miliyar, bukannya di kasih, tapi Amar malah mendapatkan omelan ayahnya.


"Uang dan uang terus yang kamu pikirkan, buat apa uang sebanyak itu heuh?" bentak Tuan Louis.


Tidak mungkin Amar berkata yang sesungguhnya, bagaimanapun juga Tuan Louis adalah ayahnya Raisa, tidak mungkin seorang ayah tega membiarkan putrinya dibunuh oleh seseorang. "Aku dan Mika lagi ada kepentingan, Pa. Hanya sebentar aja, nanti kita ganti kok."


"Kamu itu selalu aja boros, Amar. Dari dulu kamu selalu saja berfoya-foya, kapan kamu berpikir dewasanya? Karena itu papa meragukan kamu menjadi pemimpin Montana, dalam mengatasi masalah kamu sendiri saja kamu gak becus, bagaimana bisa kamu memimpin perusahaan. Lihatlah adekmu..."


Mereka tidak tahu bahwa pertengkaran ayah dan anak itu terdengar jelas oleh Raisa, saat ini Raisa memang sengaja datang ke Mansion ayahnya untuk memastikan sesuatu, dan sekarang dia bisa mendengar dengan jelas sebuah fakta yang memperjelas bahwa perkataan Bastian memang benar, Amar adalah anak kandung ayahnya.


Raisa berpura-pura untuk tidak mendengar perkataan Amar, setelah terdiam lama selama 10 menit, dia pun datang ke ruangan kerja ayahnya.


"Papa, kak Amar." Raisa menyapa mereka berdua.


Amar sangat terganggu dengan kedatangan Raisa, dia sama sekali tidak sudi untuk membalas sapaan dari Raisa, karena itu dia membuang muka ketika Raisa menyapanya, dia memilih pergi begitu saja dari ruangan kerja sang papa.

__ADS_1


"Oh Raisa, tumben kamu datang kesini? Tapi papa sangat senang akhirnya kamu mau datang kesini lagi." Tuan Louis menyambut kedatangan Raisa dengan tersenyum bahagia. "Silahkan duduk, Raisa."


Raisa duduk di kursi sofa satu lagi, bibirnya mendadak kelu, rasanya dia tak mampu untuk berkata setelah mengetahui kenyataan yang menyakitkan tentang ayahnya.


Raisa menghela nafas panjang sebelum berbicara pada ayahnya, sampai matanya berkaca-kaca menatap ayahnya. "Tempat ini memiliki banyak kenangan antara aku dan mama, dulu papa jarang berada di rumah, mama sering sakit tapi selalu mengabaikan rasa sakit itu, dia benar-benar wanita yang kuat dan hebat. Menjadi seorang ibu yang baik untukku dan menjadi wanita karir yang hebat."


Tuan Louis tak paham kenapa Raisa tiba-tiba saja menceritakan tentang istri pertamanya itu.


"Saat itu aku masih kecil, aku belum dewasa, padahal dulu aku ingin sekali bertanya pada papa. Mengapa papa jarang pulang? Mengapa papa sering bertengkar dengan mama? Padahal mama adalah wanita yang hebat tapi dia sering mengalah jika bertengkar dengan papa."


Mata Tuan Louis berkaca-kaca mendengar perkataan Raisa mengenai istri pertamanya itu, jika dibandingkan dengan istri keduanya, tidak dipungkiri, hati kecilnya mengatakan bahwa Bu Alda jauh lebih segalanya dari Bu Salma.


Raisa tidak bisa menahan air matanya, menatap sendu pada ayahnya. "Seorang anak memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari orang tua seperti apa. Tapi menjadi anakmu, adalah hal yang sangat menyakitkan untukku. Mangapa harus anda yang menjadi papaku? Mengapa harus anda menjadi suami mamaku?"


Mungkin jika Raisa bisa memilih, dia ingin mamanya tidak bertemu dan tidak menikah dengan pria kejam seperti Tuan Louis, tak apa jika dia tidak tidak dilahirkan juga di dunia ini. Hatinya merasa sangat sakit dan perih setelah mengetahui kenyataan bahwa mamanya harus meninggal secara tragis oleh ayahnya sendiri.


"Raisa!" Tuan Louis seharusnya dia marah ketika mendengar perkataan Raisa, biasanya dia selalu marah dengan sesuka hatinya, namun kali ini dia merasa ada sesuatu yang menahannya, mungkin karena melihat sorot matanya Raisa seakan putrinya memiliki luka yang sangat mendalam. Dia sadar selama ini sering mengabaikan Raisa dan selalu membela Amar.


Raisa menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir. "Hanya itu yang ingin aku katakan pada anda, sebagai papaku." setelah berkata begitu, Raisa segera berdiri, dia membungkukan badannya pertanda hormat kepada Tuan Louis, kemudian dia pergi meninggalkan Tuan Louis yang nampak mematung setelah mendengar perkataan Raisa, Kata-kata Raisa dalam sekejap membuat hatinya sangat sakit sebagai seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2