Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 51


__ADS_3

"Aku tahu kamu sudah mengetahui siapa aku sebenarnya, Raisa." Bastian mengatakannya dengan tersenyum smrik menatap Raisa yang sedang berada dibawahnya.


Bukan Raisa namanya jika dia tidak ingin terlihat lemah ataupun ketakutan, walaupun jantungnya saat ini sedang dag dig dug karena posisinya sedang berada dibawah Bastian, dia masih memperlihatkan sisi angkuhnya.


Mungkin dulu dia begitu menghormati sosok Edgar, sang pewaris dari perusahaan raksasa William Group. Namun, sekarang tidak lagi setelah tahu Montana telah dihancurkan, dia yakin suami bayarannya lah yang telah menghancurkan perusahaan keluarganya.


Raisa akan tetap bersikap angkuh, karena memang begitulah sifatnya. "Baguslah kalau kamu sudah menyadarinya, aku bukanlah wanita yang gampang dibohongi."


"Lalu apa rencana kamu kedepannya? Apa kamu akan bilang pada semua orang bahwa sebenarnya aku adalah Edgar?" Bastian sangat penasaran, apa yang akan dilakukan Raisa nanti setelah mengetahui identitas dirinya.


Raisa menatap tajam ke arah Bastian. "Tidak, aku akan mengikuti permainanmu itu." Walaupun sebenarnya Raisa merasa sangat membencinya karena Bastian telah menghancurkan Montana, tapi dia akan menahan diri, berpura-pura tidak mencurigainya sebagai dalang dalam menghancurkan perusahaan keluarganya itu, agar bisa balik menghancurkan William Group.


Bastian tersenyum smrik. "Good girl, itu adalah keputusan yang tepat." Bastian tidak mungkin bilang kalau dia sebenarnya mencurigai ayahnya Raisa dalang dalam kecelakaan 14 tahun yang lalu, karena belum ada bukti sama sekali. Bahkan setara detektif handal seperti Detektif Al pun sangat kesulitan untuk memecahkan kasus itu. Mungkin saja karena perencanaan pembunuhan berencana itu telah diatur seapik mungkin, sehingga tidak menyisakan bukti apapun, apalagi kasusnya sudah sangat lama.


Raisa ingin bangkit, tapi tubuh Bastian masih saja berada diatasnya, tenaga pria itu memang sangat kuat. "Bastian, sampai kapan kita akan berbicara dalam posisi seperti ini?"


Bastian tersenyum nakal memandangi Raisa. "Bukannya kamu dari tadi mencoba untuk menggoda aku, Raisa?"

__ADS_1


Raisa walaupun sangat gugup, dia pura-pura terkekeh. "Aku hanya meminta tidur satu kamar, tapi bukan dalam posisi tidur seperti ini."


Bastian ikut terkekeh. "Apa kamu lupa, Raisa? Kita ini suami istri, jadi tidak ada salahnya jika kita melakukannya."


Raisa menelan saliva mendengarnya, apakah Bastian ingin meminta jatahnya malam ini? Jangan sampai, dia tidak boleh mengkhianati Tristan.


"Apa kamu lupa dengan peraturan yang telah kita buat bahwa kita tidak boleh melakukannya?" Raisa masih berkata dengan menunjukkan ekspresinya yang angkuh.


Bastian menanggapinya dengan tenang. "Dan sepertinya kamu juga lupa bahwa setiap kita melanggar, kita harus membayar denda. Aku sanggup membayar denda tersebut."


"Tapi..."


"Takut?" Raisa sangat tidak terima dibilang penakut. "Untuk apa aku takut, aku sering melakukannya bersama Tristan." Raisa terpaksa berbohong agar Bastian ilfil padanya dan tidak berselera untuk menyentuhnya.


Bastian tercekat mendengarnya, sampai dia terdiam memandangi Raisa.


Raisa tersenyum puas melihat ekspresi Bastian yang langsung terdiam begitu. "Dari awal aku udah bilang kalau aku sudah memiliki seorang kekasih, dan aku sudah tidak perawan lagi, apa seorang Tuan Edgar yang terhormat mau meniduri wanita bekas seperti aku, hm?"

__ADS_1


Bastian segera bangkit, dia duduk dipinggiran ranjang.


Raisa ingin tertawa di dalam hati, Bastian pasti sangat kecewa padanya, tapi baguslah, memang itu yang dia harapkan.


Raisa pun bangkit, lebih baik dia segera kembali ke kamar sebelum Bastian berubah pikiran. "Malam ini aku lebih baik tidur di kamarku saja. Selamat malam Tuan Edgar." pamit Raisa.


Akan tetapi semuanya tidak sesuai yang diharapkan Raisa, Bastian tiba-tiba mengahalangi langkah kakinya Raisa, dia berdiri di depan pintu.


Raisa pikir Bastian akan mudah dibohongi, tapi ternyata tidak. Bastian sangat tahu bagaimana seorang Raisa, dia adalah gadis elegan yang tak murahan, dan juga berkelas. Dia sangat tahu bagaimana sifat istrinya itu.


"Aku bukan orang yang gampang percaya begitu saja tanpa ada bukti, Raisa."


Raisa mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


Bastian berjalan mendekati Raisa. "Oke mari kita buktikan ucapan kamu itu, apakah kamu masih perawan atau tidak?"


Raisa terkejut mendengarnya, lagi-lagi dia kalah telak dari Bastian. Kemudian Bastian mengunci pintu kamarnya agar Raisa tidak pergi dari sana.

__ADS_1


Bagaimana Raisa tidak gugup, karena jika dia melakukannya bersama Bastian malam ini, justru Bastian yang akan menjadikan dia mantan perawan.


Astaga, ternyata susah sekali untuk membodohinya. Mengapa menjadi rumit begini._ keluh hati Raisa.


__ADS_2