Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 45


__ADS_3

"Ba-Bastian?"


Raisa nampak menganga, dia sangat terkejut ketika melihat wajah sang pawaris dari William Group itu mirip sekali dengan Bastian, suami bayarannya.


"Bastian, kenapa... kenapa kamu bisa..." Raisa tak sanggup meneruskan perkataannya, saat ini dia hanya bisa menitikan air matanya, Raisa terisak memeluk tubuh Bastian yang tak sadarkan diri, sementara dia menyumpal luka tusukan di perut Bastian dengan tangannya, agar tidak mengalami banyak pendarahan.


Bantuan sebentar lagi akan datang, Raisa sudah menelpon polisi dan juga ambulan.


Saat ini Raisa tak bisa berpikir jernih, entah apa yang harus dia lakukan. Syok, sedih, khawatir, kecewa, semuanya telah terasa bercampur aduk di dalam benaknya.


Ternyata selama ini orang yang menjadi suami bayarannya itu adalah Edgar, pewaris dari William Group, orang yang begitu dia hormati dan dia segani, bukan hanya dia, tapi hampir semua orang begitu segan padanya.


...****************...


Terlihat suasana pagi hari yang begitu cerah, mentari pagi mulai bergerak. Terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Dengan perlahan Bastian membuka kedua matanya.


Bastian terbaring di rumah sakit dengan infus di tangannya.


Bastian sedikit meringis begitu merasakan ada rasa perih pada bagian perutnya, Bastian terlonjak begitu menyadari dia tak sadarkan diri setelah menolong Raisa.

__ADS_1


Bastian meraba bibirnya sendiri dengan tangan, dia sangat merasa lega ketika mengetahui dirinya masih memakai kumis palsu. Dia hanya takut penyamarannya diketahui oleh Raisa.


"Cucuku, akhirnya kamu siuman juga, Nak." ucap Tuan Athar ketika melihat Bastian sudah siuman.


Bastian menoleh ke arah kiri, dia baru menyadari ternyata disana ada Tuan Athar yang sedang menjaganya, ditemani oleh Zicko.


Lalu dimana Raisa? Bukankah malam itu dia sedang bersama Raisa?


Bastian ingin bertanya pada Zicko, tapi sayangnya ada Tuan Athar disana, sehingga Bastian harus menahan diri untuk tidak bertanya tentang Raisa pada Zicko.


"Kakek." sapa Bastian, dia memaksakan diri agar bisa tersenyum di depan kakeknya.


Tuan Athar mencabut kumis palsu, kaca mata dan rambut palsu milik Bastian, "Kakek sangat terganggu dengan penampilanmu ini, sampai kapan kamu akan menyembunyikan identitas kamu, Edgar?"


"Dan kenapa juga kamu harus berkelahi dengan seorang preman?" tanya Tuan Athar kembali.


"Emm... aku... aku..." Bastian nampak kebingungan untuk menjawab.


Tuan Athar berbicara kembali. "Mengapa para preman itu menghadang mobil kamu? Apakah mungkin mereka itu suruhan dari saingan kita?"

__ADS_1


Bastian merasa lega, ternyata Zicko tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada kakeknya. Zicko tidak bilang bahwa Bastian terluka demi menolong Raisa.


"Emm... aku juga gak tau, kek. Soalnya mereka melarikan diri."


"Yang penting kamu baik-baik saja, kakek sudah senang. Oh iya, kakek dengar kamu sudah menghancurkan Montana, itu adalah keputusan yang tepat, kamu memang cucu kebanggaan kakek, Edgar." Tuan Athar berkata seperti itu sambil tersenyum puas.


Bastian hanya diam.


Setelah Tuan Athar pulang, Bastian langsung menanyakan Raisa pada Zicko.


"Apa Raisa datang kesini?"


Zicko segera menjawab pertanyaan dari Bastian, "Iya, semalam Nona Raisa yang menjaga Tuan. Tapi karena Tuan Athar akan datang kesini, karena itu saya menyuruh Nona Raisa untuk tidak perlu menjaga Tuan lagi."


Bastian diam, sebagai seorang istri pasti ingin sekali menjaga suaminya yang sedang terluka. Bastian baru ingat bahwa penampilannya saat ini adalah Edgar. Raisa bukan menjaga suaminya, tapi menjaga sang pewaris Willam Group.


"Lalu bagaimana penampilan aku semalam? Maksudku gak ada kumis, kacata mata, atau rambut palsu yang terlepas, kan?"


Zicko menggelengkan kepala, "Tidak ada, Tuan."

__ADS_1


Bastian mengusap dada, dia merasa lega karena Raisa tidak mengetahui penyamarannya, walaupun dia merasa cemburu pada dirinya sendiri karena Raisa menjaga pria yang dia kira Edgar itu selama semalaman, masih beruntung Edgar adalah dirinya, bukan orang lain.


Bastian tidak tahu bahwa sebenarnya Raisa sudah mengetahui penyamarannya, tapi dia memutuskan untuk menempelkan kembali kumis palsu itu pada bibir Bastian, dan juga memakaikan kaca mata kembali, entah apa yang akan direncanakan Raisa nanti untuk kedepannya.


__ADS_2