Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 46


__ADS_3

Pagi ini Raisa sedang duduk di meja makan, padahal meja makan disana terlihat kosong, tidak ada makanan sama sekali, karena biasanya setiap pagi Bastian yang memasak.


Pandangan Raisa nampak begitu kosong, dia semalaman tidak tidur sama sekali karena harus menjaga Bastian di rumah sakit. Rasanya begitu menyakitkan ketika dia dilarang untuk menjaga Bastian lagi, padahal Bastian adalah suaminya. Sehingga menyadarkan Raisa bahwa sebenarnya Bastian sangat jauh untuk dia gapai.


Ternyata suami bayarannya adalah sang pewaris dari William Group, Bastian yang selama ini sering dia anggap pelayan, Bastian yang selama ini sering dia suruh-suruh, dan Bastian yang selama ini sering dia injak kakinya. Raisa masih ingat jelas bagaimana sikap dia yang sering jutek pada Bastian.


Kini jari-jari lentik Raisa dengan perlahan memijat perlahan pelipis kepalanya. Dia harap kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi, rasanya begitu mustahil mengapa suaminya yang miskin itu adalah seorang Edgar.


"Kenapa... kenapa dia harus menjadi Edgar?" Mata Raisa berkaca-kaca.


Jika Bastian adalah Edgar, itu artinya tidak ada harapan untuk mereka hidup bersama, karena dia tahu konflik yang terjadi diantara keluarganya.


"Seharusnya buat aku tidak masalah dia Edgar atau Bastian, kenapa aku harus merasa sedih? Sudah jelas bahwa dia hanyalah suami bayaran, pernikahan kami hanya sementara." Raisa merasa ada perasaan aneh di dalam dirinya, mengapa dia tak bisa menerima kenyataan bahwa Bastian adalah Edgar, mengingat jika diantara keluarga dia dan Edgar memiliki masalah, yaitu kecelakaan 14 tahun yang lalu, tidak mungkin seorang Edgar diam begitu saja dengan kasus yang menyebabkan orang tuanya meninggal.


Lantas kenapa selama ini Edgar harus berpura-pura miskin dan menyembunyikan identitasnya? Mengapa Bastian rela menjadi pelayannya selama ini? Mengapa Bastian rela terluka karenanya?

__ADS_1


Rasanya gak mungkin Bastian mencintai anak dari orang yang telah menyebabkan orang tuanya meninggal, walaupun dia meyakini bahwa kejadian itu bukan karena kecerobohan ibunya.


Drrrtt...


Drrrtt...


Drrrtt...


Sebuah panggilan telepon membuyarkan lamuan Raisa. Dia melihat ada nama Tristan terpampang di layar ponselnya.


Drrrtt...


Drrrtt...


Drrrtt...

__ADS_1


Ponsel Raisa bergetar kembali, sekarang giliran Bastian yang menelepon dirinya. Raisa mencoba untuk menahan diri agar tak mengangkatnya, tapi tetap saja tangannya tak bisa diajak kompromi, malah mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo."


Terdengar suaranya Bastian yang terdengar begitu ceria. "Hallo, Raisa."


"Hm?" Raisa harus tetap bersikap jutek agar Bastian tidak curiga bahwa dia telah mengetahui identitas Bastian yang sesungguhnya. Walaupun sebenarnya dia sangat merasa lega karena Bastian sudah siuman, bisa mendengar kembali suara Bastian.


"Aku minta maaf selama satu minggu aku gak bisa pulang, soalnya bos meminta aku untuk mengantarkannya ke luar kota. Maaf seharusnya aku menghubungi kamu dari semalam." Bastian terpaksa berbohong, karena selama satu minggu dia harus dirawat di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya.


Sebenarnya Raisa ingin sekali melihat keadaan pria itu, tapi kini seakan terasa canggung, apalagi jika mengetahui siapa Bastian sesungguhnya. Dan dia juga sudah dilarang untuk tidak menjenguk Bastian lagi.


"Hmm... ya sudah."


Raisa rasa waktu satu minggu tanpa Bastian bisa dia gunakan sebaik mungkin untuk belajar hidup tanpa Bastian, dia harus berusaha agar tidak ketergantungan lagi pada Bastian. Karena takut kedepannya mereka akan mendapatkan masalah yang besar jika mereka terus hidup bersama.

__ADS_1


Walaupun jawaban dari Raisa tetap saja jutek, bagi Bastian sangat merasa tenang karena bisa mendengar suara Raisa kembali. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengannya, tapi dia harus menahan diri, karena takut ketahuan oleh kakeknya.


__ADS_2