Menantu Sampah : Sang Pewaris

Menantu Sampah : Sang Pewaris
Bab 41


__ADS_3

"Oke, papa akan menuruti keinginan kamu, papa akan menjadikan kamu CEO di Montana, tapi kamu harus bercerai bersama Bastian, bagaimana?" Tuan Louis berkata dengan emosi karena Raisa selalu saja membela Bastian, padahal sudah jelas-jelas menurutnya Bastian itu hanyalah gembel yang dipungut oleh putrinya. Mungkin bisa saja Bastian menikah dengan Raisa karena menginginkan hartanya Raisa, itulah yang ada dipikiran Tuan Louis.


Raisa tersenyum getir mendengar perkataan ayahnya, seolah-olah sang ayah ingin mempermainkan dirinya. "Permainan apa lagi yang ingin papa tunjukkan padaku, dulu papa bilang akan memberikan jabatan itu setelah aku menikah. Tapi nyatanya papa menarik kembali ucapan papa hanya karena aku menikah dengan Bastian. Dan parahnya papa ingin menjadikan kak Amar sebagai calon pemimpin di perusahaan ini. Dan sekarang papa menyuruh aku untuk memilih antara Bastian atau Montana?"


Raisa menambah perkataannya lagi. "Apa papa juga bisa melakukan persyaratan itu pada kak Amar, memilih Montana atau bercerai dengan kak Mika?"


"Gak ada sangkut pautnya dengan Amar di dalam pembicaraan kita." bentak Tuan Louis.


"Tentu saja ada, karena papa lebih sayang kak Amar dibandingkan dengan aku, anakmu sendiri. Hanya karena demi Montana, papa tidak bisa mengatur hidup aku seenaknya. Silahkan saja berikan perusahaan ini untuk kak Amar, jika memang itu yang papa inginkan." Raisa berkata begitu tanpa terasa air matanya menetes.


Kemudian setelah berkata begitu, Raisa pergi meninggalkan ruangan manager tersebut.


Bastian hanya bisa menatap geram pada Tuan Louis. Kemudian dia segera pergi menyusul Raisa.


"Raisa." panggil Bastian, ketika dia melihat Raisa hendak masuk ke dalam mobil di basement.

__ADS_1


Raisa berusaha untuk terlihat angkuh walaupun sebenarnya hatinya rapuh. Dia membalikkan badan, menatap Bastian dengan tatapan dinginnya.


"Seharusnya kamu jangan menyerah begitu saja, bukankah kamu menginginkan jabatan itu?"


"Lalu haruskan kita bercerai?"


Bastian termangu, dia menatap Raisa dengan penuh tanda tanya, apakah Raisa memilih dirinya dibandingkan dengan Montana?


Raisa menghirup nafas dalam-dalam. "Kamu jangan salah paham, aku hanya tidak bisa mengingkari perjanjian pernikahan kita, pernikahan kontrak kita tinggal tersisa 7 bulan lagi. Dan aku memang tidak ingin hidupku dipermainkan oleh papa."


"Aku ingin sendirian, aku ingin menenangkan diri." Setelah berkata seperti itu, Raisa pun masuk ke dalam mobil, dia pergi meninggalkan Bastian.


Bastian menghela nafas panjang, memandangi mobil Raisa yang telah berlalu, kemudian dia segera menelpon Zicko.


"Hallo, ada apa, Tuan?" tanya Zicko begitu mengangkat telepon dari Bastian.

__ADS_1


"Aku ingin memberikan pelajaran pada Montana, hari ini juga." titah Bastian dengan nadanya tegas.


"Apa kau yakin, Tuan? Lalu bagaimana dengan Raisa?"


"Aku melakukannya demi Raisa."


...****************...


Sementara itu Raisa, dia pergi ke sebuah danau, tempat dimana dia dan Bastian dan juga pada pedagang pasar makan-makan disana pada saat Pasar Modern William telah resmi didirikan.


Raisa ingin menenangkan dirinya.


Raisa mentertawakan dirinya sendiri. "Dasar bodoh. Kamu adalah wanita bodoh, Raisa. Bukankah kau dari dulu menginginkan jabatan itu, lalu kenapa kamu menolaknya?"


"Apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya?" Kemudian Raisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Gak boleh, aku gak boleh jatuh cinta padanya. Lalu bagaimana dengan Tristan? Tidak mungkin aku tega menyakitinya, dia selama ini sangat baik dan setia padaku."


__ADS_2