
Bastian belum memutuskan apakah dia harus tetap bekerjasama dengan Montana atau tidak, karena dia sebagai pemimpin dari William Group tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru sebelum memastikan apa yang terjadi sebenarnya pada kecelakaan 14 tahun yang lalu.
Karena itu Bastian mengirim pesan pada Zicko untuk mencarikan detektif handal untuk mencari tahu penyebab kecelakaan antara ibunya Raisa dan orang tuanya Bastian.
[Tolong carikan detektif handal untuk menyelidiki penyebab kecelakaan 14 tahun yang lalu.]
Tak lama kemudian Zicko membalas pesan dari Bastian.
[Baik, Tuan.]
Bastian merasakan ada yang mengganjal ketika mendengar informasi dari Zicko bahwa Tuan Louis menikah lagi setelah dua bulan ibunya Raisa meninggal, secepat itukah Tuan Louis melupakan istrinya?
Apalagi Bastian tahu bahwa Tuan Louis lebih menyayangi Amar dibandingkan dengan Raisa. Padahal semua orang tahu betul bahwa Amar adalah anak tirinya Tuan Louis. Sangat terasa aneh, kenapa Tuan Louis lebih menyayangi anak tiri dibandingkan dengan anak kandung?
__ADS_1
Sebenarnya sekarang ini hati Bastian sedang terluka, anak mana yang tak sakit hati jika kisah sedih 14 tahun yang lalu kini harus terungkit lagi, membuat Bastian sangat merasa sedih karena memikirkan kedua orang tuanya.
Dan sekarang dia harus dilanda kebimbangan karena sang kakek meminta Bastian untuk membatalkan kerjasamanya dengan Montana, jika menuruti rasa kecewa dan amarahnya pada Tuan Louis, dia pasti ingin membatalkan kerjasama diantara perusahaan mereka, bahkan dia juga bisa menghancurkan perusahaan itu. Tapi mungkin dampaknya dia harus kehilangan Raisa.
Bastian merasa bimbang, dia sulit memilih antara berpihak pada kakeknya atau sang istri. Tuan Athar sang kakek yang telah mengurusnya dari kecil, dan Raisa adalah wanita yang sangat dia cintai. Jika dia bisa memilih, dia ingin memilih keduanya, tanpa menyakiti salah satunya. Walaupun rasanya tidak memungkinkan.
Dia akan membuat keputusan setelah mengetahui jelas penyebab kematian Bu Alda dan kedua orang tuanya.
Malam ini Bastian sedang menenangkan diri di atas rooftop Mansion, dia menghembuskan nafas dengan susah payah, nafasnya terasa begitu berat, mungkin karena dia harus memikul beban yang begitu berat.
Bastian mendengar suara langkah seseorang dibelakangnya, ternyata Raisa, entah mengapa gadis itu terlihat sedih sekali malam ini.
Raisa berdiri di samping Bastian. Dia lama sekali terdiam memandangi langit yang begitu kelam, kemudian mulai bicara. "Rasanya sangat menyakitkan, 14 tahun yang lalu mamaku meninggal karena kecelakaan, tapi ternyata kecelakaan itu mamaku dianggap sebagai tersangka."
__ADS_1
Bastian langsung memandangi Raisa, andai Raisa tahu bahwa orang tuanya Bastian menjadi korban atas kecelakaan tersebut, membuat Bastian harus kehilangan orang tuanya untuk selamanya.
"Semua orang menyalahkan mama, termasuk papa, suaminya sendiri. Aku sangat tahu bagaimana kepribadian mamaku, dia tidak mungkin melakukan suatu hal yang bisa merugikan dirinya sendiri apalagi orang lain. Mama gak mungkin seceroboh itu."
Untuk pertama kalinya Raisa bercerita sambil meneteskan air mata, Raisa yang biasanya anti menangis, tapi jika dia membahas tentang sang mama, membuatnya tak bisa menahan tangisannya.
Bastian tidak tega melihat Raisa sedih seperti itu. Padahal mungkin saja suatu saat nanti Bastian akan menambah luka itu untuk Raisa. Apalagi mendengar perkataan Raisa, membuat Bastian semakin yakin bisa saja Tuan Louis adalah dalang dibalik tragedi kecelakaan 14 tahun yang lalu.
Bastian merangkul Raisa, membawanya ke dalam pelukan. Raisa tak bisa menolaknya, karena dia sangat membutuhkan bahu untuk menenangkan hatinya.
Bastian menepuk-nepuk pundak Raisa untuk menenangkannya, begitu juga dirinya, akhirnya dia merasakan tenang setelah berada di dalam pelukan Raisa.
Bastian harus mengubur dalam-dalam tentang perasaannya pada Raisa, dan tidak boleh mengharapkan Raisa lagi, karena sangat tipis sekali harapannya untuk bersatu dengan Raisa.
__ADS_1