
“Mas kamu tenang dulu” Fifi mengelus punggung Surya
“Ibu sudah melarang Nita untuk tidak membersihkan kamar mandi Sur, tapi Nita ngeyel dan hasilnya seperti ini, kamu jangan nyalahin ibu dong Sur. Ini juga karna kecerobohan dia sudah tahu hamil tapi masih saja melakukannya” Dara berbohong, ia tak mau menjadi sasaran amukan Surya
Meski Dara sebagai seorang ibu tetap saja jika Surya sudah marah pasti dirinya akan merasa takut, Surya terkadang lepas kontrol jika sudah marah dan tidak bisa menahan emosinya dengan tidak berbuat kasar. Itulah kelakuan Surya yang tidak bisa dihilangkan padahal ia sudah berusaha.
“Aargghh” Surya menendang tembok rumah sakit karna kesal
“Mas, jangan membuat keributan ini rumah sakit nanti kamu bisa diusir. Lebih baik kamu tenang dulu kita tunggu dokter” ucap Fifi
“Terus bagaimana keadaannya Nita?” Surya mulai sedikit tenang
“Dokter belum keluar dari tadi kami juga menunggu di sini”
Mereka bertiga pun menunggu dokter keluar dari dalam.
Setelah hampir 10 menit lebih, dokter pun keluar. Surya langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Nita.
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Surya
Dokter itu tampak lesu “Sebelumnya saya mohon maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan anak bapak. Benturan yang cukup keras membuat janin tidak bisa bertahan apalagi usia janin yang terbilang muda dan rentan membuatnya tidak bisa bertahan” jelas dokter
Surya lemas, kakinya tidak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri.
“Yang sabar pak, bapak bisa menemui istri bapa di dalam, kalau begitu saya permisi”
“Terima kasih dok” ucap Dara mewakilkan Surya karna sang anak pandangannya sudah kosong
“Sama-sama” dokter pun pergi
“Apa kamu tidak mau menjenguk Nita Sur?”
“Anak aku tidak ada bu” Surya menundukkan wajahnya
Sudah lama Surya menginginkan anak, meski usia pernikahannya belum genap satu tahun tapi setelah mengetahui Nita hamil Surya sangat senang karna rumahnya akan ramai dan Surya bisa mengajaknya bermain bersama ketika tidak bekerja.
__ADS_1
Nita memang mandiri, dia bahkan tak pernah meminta apa pun yang membuat Surya susah. Bukan tidak ingin, tapi Nita tidak mau membuat Surya lelah apalagi mengganggunya ketika sedang bekerja, kecuali saat Surya sedang libur. Surya siap membelikan apa saja yang diinginkan oleh Nita.
Hidup mandiri mulai dari kecil membuat Nita tak ingin merepotkan orang lain, selagi dirinya bisa Nita akan melakukannya sendiri.
Nita tak pernah mempermasalahkan tentang Dara yang selalu menyuruhnya ini itu, tapi Dara yang tidak penegertianlah yang membuat Nita kadang kesal. Apalagi baru saja ia selesai melakukan yang ini Dara sudah memerintahkan lagi.
Surya berjalan mendekati sang istri, muka Surya datar bahkan tak ada Surya yang selalu tersenyum ketika bertemu dengan Nita.
“Mas” panggil Nita
Nita menggenggam tangan Surya, sedangkan Dara dan Fifi hanya menyaksikan mereka.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Surya
“Iya mas, tapi dokter bilang anak kita tidak ada mas dokter bohongkan mas?”
“Dokter tidak bohong Nit, anak kalian memang tidak bisa diselamatkan” jawab Dara
“Tidak, tidak mungkin” Nita melihat perutnya, rasa tak percaya jika anak yang dikandungnya sudah tidak ada
“Sudah Nit, kamu istirahat saja biar cepat pulih” ucap Surya
Nita merasa ada yang berbeda dengan sikap Surya, biasanya Surya akan menghiburnya memberi semangat untuk Nita tapi kali ini Surya bersikap cuek dan seadanya.
“Iya Nit, kamu istirahat saja biar cepat pulang kalau lama-lama di sini biayanya tambah mahal” ucap Dara
Bukannya memberi semangat agar Nita tidak terpuruk, Dara malah mementingkan uang dari pada kesehatan Nita.
Nita hanya diam tak berniat membalas ucapan Dara, sesekali Nita melirik Surya berharap ia bisa membela dirinya namun nihil, Surya malah diam dan duduk saja.
“Tante, aku pamit ya takutnya kemalaman nanti” ucap Fifi
“Oh iya Fi tante hampir lupa, tante juga mau pulang kita bareng saja ya”
“Iya tan”
__ADS_1
“Mas aku pulang dulu ya, Nit semoga lekas sembuh ya yang sabar” ucap Fifi seperti prihatin dan peduli padahal sama sekali ia tidak peduli dengan keadaan Nita, Fifi hanya mencari simpati pada Surya
“Iya Fi terima kasih sudah membatu ibu membawa Nita ke sini ya” ucap Surya
“Iya mas sama-sama”
Nita hanya melihat interaksi dua insan tersebut.
“Ibu pulang dulu ya Sur, kalau ada apa-apa kabari ibu. Kalau ibu di sini tidak ada tempat untuk istirahat”
“Iya bu hati-hati”
Dara dan Fifi keluar dan meninggalkan Surya dan Nita.
“Mas” panggil Nita
“Lebih baik kamu istirahat saja Nit, aku juga mau istirahat di sofa aku lelah” Surya berdiri dan berbaring di sofa
“Bahkan kamu berubah mas” Nita tak sanggup lagi membendung air matanya
Sakit yang ia rasakan di tubuhnya ditambah sakit dengan sikap Surya yang dingin kepada Nita. Di masa-masa sulit seperti ini harusnya Surya memberi perhatian lebih pada Nita.
Tidak hanya dirinya yang merasa kehilangan anak mereka, Nita pun juga merasa kehilangan anak mereka. Seharusnya Surya bisa mengerti itu, tapi kecewanya lebih besar sehingga membuatnya bersikap dingin pada Nita.
Nita melihat Surya yang sudah memejamkan matanya, Nita beralih menatap langit-langit membayangkan kelanjutannya akan bagaimana setelah ia kehilangan sang anak.
Terbesit dalam benaknya kalau Nita ingin kembali bekerja untuk menghilangkan sedikit rasa sedihnya dengan mencari aktivitas yang membuatnya lupa.
Nita tak bisa memejamkan matanya, ia masih tak menyangka kalau sang anak tak bertahan lama untuk hidup di perutnya.
“Maafin ibu ya nak, gara-gara ibu yang tidak bisa menjaga dengan baik, kamu harus pergi padahal ibu ingin sekali melihat kamu di sini. Kita bisa main bareng, ibu ingin merawat kamu, menyuapi kamu. Ayah kamu pasti juga senang kalau kamu masih ada, semoga ibu kuat ya nak” Nita mengelus perutnya yang sudah rata
Surya sebenarnya tidak tertidur, ia hanya memejamkan matanya untuk menghindari obrolan dengan Nita, ia masih syok dengan kejadian hari ini yang menimpanya.
Mendengar Nita berbicara seperti itu membuat hati Surya sesak, tak hanya dirinya yang sedih Nita juga sangat sedih. Tapi ucapan sang ibu yang sudah membuat Surya berpikir bahwa Nita memang tidak menyayangi sang anak bahkan ia tidak mendengarkan kalau dirinya melarang untuk melakukan hal-hal yang membahayakan sang anak. Sehingga semuanya terjadi dan membuat sang anak pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1