
“Assalamualaikum” ucap Ipah
“Waalaikumsalam” jawab Sulis “Bu Ipah, ayo masuk bu” Sulis mempersilahkan Ipah masuk dan duduk
“Ngomong-ngomong ada apa ya bu Ipah ke sini?” tanya Sulis sambil melihat bayi yang digendongnya
“Sebenarnya saya ke sini untuk memberikan bayi ini” jawab Ipah
“Bayi ini bayi siapa bu?”
Sulis bingung dari mana asalnya bayi ini karna setahunya Ipah tidak mempunyai anak lagi atau mungkin cucu tapi tidak mungkin karna anak Ipah jauh merantau kalaupun mereka pulang akan terdengar dari kabar warga, pikir Sulis.
“Saya menemukan bayi ini kemarin di ujung sana” Ipah menunjuk letak di mana ia menemukan bayi “Karna saya bingung harus apa dan juga penghasilan saya tidak seberapa untuk membelikan susu untuknya jadi saya bawa ke sini, kasihan dia pasti lapar semalam saya hanya menyuapinya pisang yang dihancurkan karna memang tak punya apa-apa lagi” jelas Ipah
Sulis merasa kasihan pada bayi itu, Sulis pun menggendongnya. Wajahnya sangat cantik, putih, siapa yang tega membuang anak selucu ini. Sulis tak habis pikir dengan orang tuanya, jika memang tidak ingin mempunya anak lebih baik menundanya saja dari pada harus dibuang seperti ini. Beruntung ada orang yang menemukan kalau tidak mungkin bayi ini bisa kelaparan atau bisa juga digigit hewan-hewan liar.
“Tega sekali orang tuanya” ucap Sulis yang terus memandangi bayi itu
“Iya, makanya saya bawa ke sini agar ada yang merawatnya. Jika saya yang merawat takutnya tidak bisa apalagi saya juga harus pergi berjualan”
“Iya bu, saya akan merawat bayi ini seperti bayi-bayi yang lain. Dia tidak akan kesepian karna akan ada banyak temannya nanti”
“Syukurlah, kalau begitu saya pulang dulu karna harus pergi berjualan” Ipah pun pamit dan meninggalkan panti
Sepeninggal Ipah, Sulis membawa bayi itu masuk. Ia mengajak bicara bayi itu meski tidak kan ada respons.
“Kamu cantik, kamu belum punya nama ya ibu kasih kamu nama Nita. Nama kamu Nita Saputri, baguskan” ucap Sulis sambil terus mengusap-usap pipinya.
Flash back off
“Begitulah ceritanya” ucap Nek Ipah
“Berarti anak kita ada di panti asuhan pah, ayo kita ke sana. Mamah tidak sabar untuk melihat anak kita, ayo pah” ajak Sinta tak sabar
“Iya mah, sabar dulu” Aryo menepuk tangan sang istri seolah memberi ketenangan ia juga berpamitan dan berterima kasih pada Nek Ipah dan cucunya tak lupa Aryo memberikan amplop yang memang ia sediakan bila ada orang yang tahu tentang kejadian yang sudah sangat lama itu.
“Tidak perlu pak, kami menolongnya dengan ikhlas karna kasihan pada bayi itu kami tidak berhak menerimanya” tolak nek Ipah
__ADS_1
“Tidak apa-apa bu, kami juga ikhlas kami berharap ibu tidak menolaknya” ucap Aryo
“Kalau begitu terima kasih ya, semoga kalian segera bertemu dengan anak kalian” ucap nek Ipah tulus
“Iya nek, kalau begitu kami pamit. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Aryo dan Sinta menuju mobil untuk mendatangi panti asuhan, memang tidak jauh dari rumah nek Ipah.
“Sepertinya itu panti asuhannya pah” ucap Sinta menunjuk sebuah rumah sederhana yang di depannya banyak anak-anak bermain, dan juga berlari-larian.
“Iya mah, ayo kita turun” ajak Aryo
Sinta dan Aryo turun dari mobil, mereka mendekati panti asuhan itu lalu mengucapkan salam pada anak-anak yang sedang berada di sana.
“Assalamualaikum” ucap Aryo dan Sinta
“Waalaikumsalam” jawab anak-anak
“Ada bu, saya panggilkan dulu ibu dan bapak silakan duduk” ucapnya sopan
“Terima kasih”
Anak itu pun berlari ke dalam untuk memanggil Sulis.
Tak lama kemudian, keluar wanita paruh baya dengan penampilan sederhana. Usia hampir sama dengan Sinta, meski pakaiannya sederhana tak menghilangkan sisi keibuannya.
“Maaf mengganggu waktunya bu Sulis” ucap Sinta
“Tidak bu-“
“Saya Sinta dan ini suami saya Aryo” Sinta memperkenalkan diri
“Tidak bu Sinta, kalau boleh tahu ada apa tujuan kalian datang ke sini?” tanya Sulis
“Sebelum ke sini kami sudah lebih dulu mendatangi bu Ipah, kami ingin menanyakan bayi yang ditemukan oleh bu Ipah 26 tahun silam dan menurut cerita bu Ipah beliau membawanya ke sini” jelas Sinta
__ADS_1
“Bayi” Sulis mencoba mengingat karna semua anak yang ada di sini ia temukan atau diberikan oleh seseorang dari sejak bayi wajar jika ia tidak terlalu mengingatnya
“Kalau ibu berkenan menunggu saya ingin mengambil buku dulu di sana saya mencatat bayi-bayi ini mulai ada di sini sejak kapan, karna anak-anak yang ada di sini sudah dititipkan mulai sejak bayi jadi saya tidak mengingat satu-satu” jelas Sulis
“Kami tidak apa-apa bu, seharusnya kami yang memohon maaf karna sudah merepotkan bu Sulis” Ryo merasa tak enak
“Tidak apa-apa pak, kalau begitu saya akan mengambil buku dulu”
Sulis masuk ke dalam untuk mengambil buku, sedangkan ada anak yang sudah remaja membawakan mereka minuman, tentu saja dengan perintah Sulis karna mereka adalah tamu.
“Seharusnya tidak perlu repot-repot” ucap Sinta
“Tidak merepotkan bu, silakan saya kembali ke dalam dulu” pamitnya
Sinta dan Aryo mengangguk dan mengucapkan terima kasih, selang beberapa menit Sulis keluar dengan membawa buku.
“Saya ingin mencari dulu kejadian 26 tahun yang lalu semoga saja ada ya bu, pak” ucap Sulis
“Iya bu, semoga saja. Saya sudah sangat berharap bisa dipertemukan kembali dengan anak saya” ucap Sinta penuh harap
Sulis pun melihat buka yang memang ia tulis untuk mencatat kapan ia mendapatkan bayi itu dan jenis kelaminnya serta nama yang ia berikan pada anak itu, takutnya suatu hari nanti ia memerlukannya, Sulis tak mungkin menggunakan daya ingatnya karna semakin tua ia akan mudah lupa apalagi dengan kejadian yang sudah sangat lama.
“Di sini ada kejadian 26 tahun lalu dan benar bu Ipah yang membawa bayi ke sini, beliau bilang menemukan bayi ini karna tidak mampu untuk mengurusnya bu Ipah membawanya ke mari” jelas Sulis
Perasaan senang, sedih dan lega bercampur menjadi satu, Sinta sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak semata wayangnya yang sudah lama berpisah.
“Kalau boleh tahu di mana anak saya bu, boleh saya menemuinya sekarang?”
Namun sepertinya harapan Sinta harus pupus untuk bertemu dengan anaknya.
“Maaf bu, sepertinya kalau sekarang tidak bisa dan tidak mungkin karna anak ibu sudah tidak lagi ada di panti ini” jelas Sulis
“Maksudnya?”
“Anak ibu sudah keluar beberapa tahun yang lalu karna ia ingin mandiri dan juga harus berkuliah, jadi ia mencari tempat yang dekat dengan kuliahnya”
__ADS_1