Menantu Yang Tidak Diinginkan

Menantu Yang Tidak Diinginkan
42


__ADS_3

“Mamah?” beo Fifi dan Dara


Nita dan Sinta melihat Fifi dan Dara yang seperti kaget ketika mendengar sebutannya barusan.


Dara dan Fifi kaget ketika mendengar penuturan Nita, setahu mereka Nita adalah anak yatim piatu yang besar di panti asuhan wajar kalau mereka kaget.


Sinta menoleh ke arah Nita seolah bertanya siapa mereka.


“Mantan mertua” ucap Nita


Nita sudah menceritakan kalau dirinya pernah menikah namun kini sudah bercerai dengan sang suami, ia juga menceritakan alasan mengapa mereka sampai bercerai. Namun Sinta dan Aryo tidak tahu wajah-wajah dari mantan ibu mertua dan Surya serta istri barunya itu.


Sinta membentuk bibirnya seperti huruf o dan mengangguk.


“Ba-bagaimana bisa, kamu jangan suka mengada-ngada ya Nita. Aku tahu kamu itu besar di panti mana mungkin kamu bisa bertemu dengan orang tua kamu yang sudah membuang kamu palingan nanti disuruh jadi pembantu” cibir Dara tak percaya dengan ucapan Nita yang mengaku bahwa perempuan di sampingnya adalah orang tua Nita.


Dara melihat penampilan Sinta dari atas ke bawah, bukan barang-barang murah yang dipakainya. Meski ia tidak pernah membeli barang-barang mahal tapi ia pernah melihatnya dari ponsel dan juga tetangga-tetangga yang sering pamer padanya, jadi Dara tak percaya kalau perempuan kaya itu adalah mamah Nita.


“Jaga omongan anda ya bu, saya tidak pernah membuang putri saya. Jika anda belum tahu ceritanya tidak perlu sok tahu dan lagi pun bukan urusan anda meski dia anak saya bukannya kalian sudah tidak punya hubungan lagi” Sinta membalas ucapan nyinyir Dara yang mengatakan bahwa dirinya sengaja membuang Nita di panti asuhan


“Ayo kita pergi dari sini sayang” ajak Sinta


“Iya mah” Nita mengikuti Sinta masuk ke dalam mobil


Dara dan Fifi hanya menatap kepergian Nita dan Sinta dengan mobil mewah itu, Dara memang tidak membalas ucapan Sinta karna ia masih sedikit syok dengan apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


“Sepertinya Nita anak orang kaya, mobilnya saja seperti itu pintunya terbuka sendiri tanpa di tarik” ucap Dara dalam hati


Kalau Dara melihat Nita dengan kesal namun penasaran sedangkan Fifi menatapnya dengan penuh amarah. Fifi masih tidak rela jika Nita tiba-tiba menjadi anak orang kaya, ia tidak terima jika kehidupan Nita bisa berubah dan menikmati kekayaan orang tuanya sekarang.


Sedangkan di dalam mobil, Sinta dan Nita mengobrol tentang kejadian di depan Mal tadi.


“Kamu tidak di apa-apakan kan?” tanya Sinta


“Tidak mah, mamah tenang saja. Sekarang aku bisa melawan jadi mamah tenang saja, mungkin pipinya sekarang masih panas karna tamparan aku” jawab Nita


“Mamah masih tidak menyangka kalau mertua kamu itu seperti itu sekarang mamah sudah tahu wajahnya, jadi nanti bisa lebih waspada lagi” ucap Nita


Nita senang karna sang mamah sangat menyayanginya, bahkan ia membelanya ketika Dara menghinanya. Nita masih tak menyangka kalau hidupnya kini lebih baik setelah bercerai dengan Surya. Bahkan hatinya juga merasa tenang, tak ada lagi cacian yang harus didengarnya serta ia tak perlu repot-repot berangkat kerja karna hampir telat.


Mungkin akan banyak yang memandangnya buruk, tapi selama dia tidak melakukan hal buruk ia tak perlu mengkhawatirkannya.


“Sifat manusia itu berbeda-beda mah, jadi kita tak pernah tahu kita akan berhadapan dengan orang seperti apa, maka dari itu kita harus teliti lagi untuk ke depannya”


Sinta tersenyum melihat sang anak yang lapang menerima semuanya, ia tahu tidak mudah menghadapinya tapi semua itu bisa membuatnya lebih kuat dan tegar lagi.


“Kamu benar sayang, mamah tidak akan membiarkan orang-orang itu mengganggu kamu. Kalau mereka masih mengganggu kamu, mamah pastikan mereka tak dapat lagi melihat sinar matahari”


“Tidak perlu seperti itu mah, biarkan semuanya dibalas oleh-Nya. Bukankah Ia maha mengetahui dan semua sudah ada balasannya masing-masing, jika kita baik dengan seseorang maka hal baik pula yang akan kita terima namun sebaliknya jika kita buruk pada seseorang maka hal buruk juga yang akan diterima. Bukankah hidup ini ada hukumnya, apa yang kamu tabur maka itulah yang akan kita tuai”


Anak perempuannya sudah menjadi wanita hebat, bahkan ia tak mau membalas perlakuan mertuanya yang sudah memperlakukannya dengan buruk.

__ADS_1


“Mamah senang kamu tumbuh dengan baik dan menjadi wanita yang baik nak, meski pernikahanmu gagal mamah berharap kamu menemukan pria yang menerima kamu dengan segala kekurangan kamu. Do’a mamah selalu menyertaimu” ucap Sinta


Nita tak mau membahas lagi karna takut nantinya hanya akan ada isak tangis. Sudah cukup ia menumpahkan air matanya ketika bertukar cerita dengan orang tuanya.


Mereka berdua menikmati perjalanan sebelum sampai ke tujuannya.


Di lain tempat, Fifi yang sedang mengomel mulai sejak turun dari taksi karna Nita sudah berani menamparnya lagi, apalagi kehidupan Nita sekarang yang sudah menjadi orang kaya membuat Fifi tambah kesal.


“Sudahlah Fi, kamu tidak capek apa dari tadi ngomel terus lebih baik kamu bawa ini belanjaan kamu ke kamar” ujar Dara


“Ibu ngusir aku?! Ini rumah aku bu, apa ibu tidak sadar jadi terserah aku mau ngapain saja, mau aku tidur di sini itu terserah aku” sudah kesal dengan Nita ditambah Dara yang seperti ini membuat Fifi tambah emosi


“Itu terus yang kamu ucap Fi, kalau kamu kesal sama Nita kenapa jadi ibu yang kena omelanmu” sungut Dara


“Makanya kalau aku lagi kesal ibu diam saja tidak usah banyak omong apalagi usir aku”


“Iya iya, ya sudah ibu mau ke kamar kalau kamu mau ngomel lanjutin saja ibu sudah capek mau istirahat” Dara pergi ke kamarnya membawa belanjaannya dari pada ia harus mendengar dumelan Fifi yang membuatnya tambah sakit kepala, lebih baik ia tidur di dalam kamarnya


Fifi yang melihat Dara meninggalkannya tambah kesal, ingin sekali ia mengacak-acak semua yang ada di rumah ini.


“Dasar sudah tua, bukannya buat senang malah seenaknya ninggalin. Arrggh kenapa Nita bisa punya orang tua kaya sih, lagian ngapain juga orang tuanya nyari si Nita bukannya bagus dia dibuang malah dicari lagi. Awas saja kamu Nita, aku akan balas semuanya tamparan itu akan aku balas lebih menyakitkan” ujar Fifi


Merasa lelah Fifi pun masuk ke kamarnya dengan membawa belanjaannya, ia ingin tidur agar kekesalannya hilang.


 

__ADS_1


__ADS_2