Menantu Yang Tidak Diinginkan

Menantu Yang Tidak Diinginkan
36


__ADS_3

Dara menuju ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Fifi.


“Cepat bu!” teriak Fifi


Dara membawa dua piring yang berisi ikan dan juga nasi, lalu ditaruhnya di meja makan.


Fifi dengan cepat melahap semua makanan yang sudah Dara masak.


Setelah selesai menghabiskannya, Fifi berdiri dan bergegas menuju ke kamarnya.


“Bu beresin ya” ucap Fifi santai


“Tadi ibu sudah masak buat kamu dan sekarang ibu juga harus membereskannya. Seharusnya kamu sebagai perempuan yang melakukan semuanya Fi, atau paling tidak kalau kamu tidak mau melakukannya maka carilah pembantu” ujar Dara


Seketika Fifi berhenti dan menghadap ke arah Dara.


“Seharusnya ibu juga sadar diri kan ibu di sini hanya menumpang, dari pada aku harus mencari pembantu lebih baik uangnya buat aku belanja, ibu saja sekalian olah raga biar badannya tidak sakit-sakitan nanti dan tidak menyusahkan”


Dara merasa kesal karna dianggap menumpang, selama ia tinggal bersama Nita tak pernah sekalipun Nita mengatakan hal itu apalagi sampai menyuruh-nyuruhnya seperti ini.


“Bukannya kamu yang menyuruh ibu untuk juga tinggal di sini Fi? Kenapa sekarang kamu jadi bilang seperti ini?”


“Aku memang menyuruh ibu untuk tinggal di sini, tapi ibu juga harus sadar diri juga jangan hanya bersantai saja, meski ibu itu ibunya mas Surya tetap saja ibu di sini hanya numpang”


Dara menghela nafasnya, perempuan yang sempat ia idam-idamkan untuk menjadi menantu agar lebih baik dari Nita malah membuat dirinya seperti ini. Meski Dara akan tetap melakukannya, ia hanya kesal dengan Fifi yang seperti tak menghargainya seperti seorang ibu. Dengan seenaknya menyuruh-nyuruh.

__ADS_1


Ia hanya bisa berharap bahwa keputusannya untuk menjadikan Fifi sebagai menantunya tidak salah. Ia takut nantinya Surya yang akan menanggung semuanya karna semua ini adalah keinginan Dara agar Surya menikah dengan Fifi, padahal Surya sudah menolaknya.


Dara selalu mendengar pertengkaran antara Fifi dan Surya, meski hanya hal kecil pasti berujung pada pertengkaran.


Dulu sewaktu masih bersama Nita, Dara tak pernah mendengar keributan. Kalaupun mereka bertengkar tak pernah sampai terdengar olehnya. Berbeda dengan sekarang, Fifi selalu berteriak jika sudah marah, sama seperti yang dilakukan pada Dara.


Surya dan Fifi hanya menikah siri, karna Surya masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Nita meski sepertinya mustahil. Tanpa sepengetahuan Fifi Surya selalu ingin menemui Nita namun ada saja kendalanya.


Seperti yang dilakukannya kemarin saat menemui Nita, Fifi malah datang dan membuat pertengkaran dengan Nita. Alhasil niatnya untuk berbicara berdua dengan Nita gagal.


Meski orang tua Fifi terkadang mengirimkan uang untuknya agar membantu rumah tangga Fifi, namun Fifi tak pernah menggunakan uang itu untuk keperluan bersama. Fifi akan berbelanja tanpa memberi tahu Surya dan setelah pulang selalu bertengkar karna Surya menganggap Fifi boros sama seperti yang dilakukan ketika Nita berbelanja kebutuhannya dan Dara selalu mengatakan kalau Nita boros dan tidak bisa menjaga uangnya dengan benar.


Hari demi hari berlalu, kini Nita dan Surya sudah resmi bercerai. Nita menjalani kehidupannya seperti biasanya. Ia menyibukkan dirinya dengan bekerja agar tak terlalu memikirkan bahwa rumah tangganya sudah hancur. Beruntung tak ada anak yang harus dikorbankan.


Meski tak semua orang mempunyai sifat yang sama, tapi Nita masih trauma jika nantinya harus mengalami penolakan dan harus berjuang keras mendapatkan restu tapi pada akhirnya akan memperlakukan Nita tak seperti menantu.


“Nita, bagaimana untuk laporan dengan PT Agung? Apa berhasil?” tanya Hengki


“Iya pak, semua berhasil dan nanti akan ada pertemuan untuk menandatangani surat kerja samanya” jawab Nita


“Baiklah kalau begitu, jam berapa kita akan bertemu?” tanya Hengki


“Setelah makan siang pak”


“Kalau begitu kita makan siang di luar saja, dan langsung pergi ke tempat yang sudah ditentukan”

__ADS_1


“Baik pak. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya”


Setelah berpamitan Nita berjalan keluar dari ruangan Hengki


Hengki yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya “Sampai kapan kamu terus memberi tembok untuk aku. Mungkin tidak masuk akal jika aku mulai tertarik dengan kamu saat pertama berjumpa tapi setelah tahu kamu sudah mempunya suami aku sudah tidak lagi mengharapkanmu. Tapi sepertinya takdir berkata lain mungkin kita akan bersama nantinya, semoga saja” ucap Hengki yang memandangi Nita keluar dari ruangannya


Dia hanya merasa tidak asing dengan wajah Nita yang lalu membuatnya terus penasaran dan akhirnya menyukai Nita. Meski sudah berusaha mendekatinya dengan mengajaknya jalan tetap saja Nita seperti memberi dinding besar antara dirinya dengan Hengki.


Hengki paham bahwa kegagalan yang dialaminya membuat Nita membangun dinding yang kokoh agar dirinya tidak kembali jatuh dan merasakan sakit yang sama. Mungkin kalau Hengki yang mengalami akan melakukan hal yang sama, tapi ia tidak berniat main-main untuk mendekati Nita. Perasaannya tulus, ia bisa menunggu Nita sampai ia bisa membuka hatinya kembali. Meski status Nita yang sudah pernah gagal dalam pernikahan tak membuatnya mundur.


Nita pun sebenarnya tahu kalau Hengki mempunyai rasa lebih padanya tapi ia tak menghiraukannya dan tetap menganggap Hengki sebagai atasannya, tidak bersikap lebih dan tetap menghormatinya.


Rasa sakit yang pernah dialaminya cukup membuatnya enggan untuk membuka hati lagi, mungkin tidak sekarang bagi Nita. Semua itu terlalu cepat, apalagi ia harus menjalani masa iddahnya. Tujuan Nita sekarang hanyalah ingin fokus untuk bekerja, ia berniat untuk datang ke panti asuhan. Sudah lama Nita tidak ke sana, ya semenjak menikah bisa dihitung berapa kali Nita pergi ke sana, karna selain sibuk bekerja ibu mertuanya juga selalu menyuruhnya cepat pulang dan tidak pergi ke mana-mana.


Sudah tiba waktunya makan siang, Nita dan Hengki pergi ke sebuah tempat makan. Mereka memesan makan dan menikmatinya. Tidak ada obrolan yang bersifat pribadi, mereka berdua hanya membicarakan masalah pekerjaan sebelum bertemu dengan rekan kerjanya.


Biasanya mereka akan pergi bertiga dengan asisten pribadi Hengki yaitu Tino, tapi karna Tino ada hal lain yang tidak bisa ditinggalkan jadi mereka hanya pergi berdua.


“Mau tambah lagi?” tanya Hengki


“Tidak pak, saya sudah kenyang dan sebentar lagi juga waktu pertemuan bapak” jawab Nita


Hengki pun mengangguk ia memanggil pelayan untuk membayar makanan yang dipesan tadi.


Setelah membayar, mereka berdua menuju tempat yang sudah ditentukan. Tidka jauh dari tempat mereka makan tadi.

__ADS_1


__ADS_2