
“Tidak apa-apa tante, besok bisa papah yang ke perusahaan jadi tante tak usah khawatir nanti kalau ada perkembangan aku akan telepon tante” jawab Nita
Sukma merasa tak enak kalau Nita harus menunggu Hengki semalaman tapi ini juga kesempatannya untuk bisa dekat dengan Nita, mungkin dengan cara ini mereka bisa bersatu.
“Baiklah tapi kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi tante ya”
Nita mengangguk, Sukma dan Dina pun berpamitan untuk pulang. Besok pagi-pagi Sukma akan datang ke sini untuk bergantian dengan Nita agar Nita bisa beristirahat.
Nita melihat Hengki yang masih terpejam matanya.
Nita menghela nafasnya “Kalo orang nyebelin lagi terbaring seperti ini aneh lihatnya” ucap Nita menatap Hengki
Baginya Hengki menyebalkan, selain karna ia suka mengomel sewaktu menjadi bosnya dia juga pemaksa. Jika sudah kemauannya maka tak boleh ditolaknya. Apalagi setelah Nita berpindah ke perusahaannya papahnya, Hengki dekat dengan sang papah. Terlebih saat mengetahui Hengki memiliki kekasih, Nita melihat Hengki seperti memamerkan padahal dulu dia mengejar-ngejarnya.
Nita mengambil lap dan air untuk mengelap tubuh Hengki agar tidak lengket, dengan telaten Nita mengelap tangan kaki dan wajah Hengki sesekali ia menyentuh pipi Hengki.
Hengki merasa tubuhnya menegang saat disentuh Nita, ini baru pertama kalinya Hengki bersentuhan langsung dengan Nita. Sebisa mungkin Hengki menahan agar tidak bangun dan ingin melihat wajah Nita. Kalau dia terbangun pasti Nita akan merasa malu karna kepergok menyentuh Hengki.
(Sebenarnya Hengki hanya pura-pura pingsan ya gaes, jadi sebelum Nita datang ke rumah sakit Hengki sudah bekerja sama dengan dokter yang merupakan temannya ketika SMA dulu jadi dengan mudah ia menyetujui karna Hengki merupakan teman baiknya dulu)
“Kalau dilihat-lihat tampan juga” gumam Nita
__ADS_1
Nita melanjutkan melap Hengki, sesekali ia membuka sedikit matanya untuk mengintip Nita. Rasanya ia sedang berada di kebun bunga karna mendengar ucapan Nita yang mengatakan kalau dirinya tampan.
“Andai aku sedang tidak pura-pura pasti aku akan langsung menyatakan perasaan aku dan aku yakin kamu akan menerimanya, kamu terlalu malu untuk mengakui semuanya Nita” ucap Hengki dalam hati
Malam itu Nita menemani Hengki sampai ia terlelap tidur di sampingnya.
*
“Mas kamu itu seharusnya bekerja lebih keras lagi kalau bisa kamu ambil saja uang perusahaan toh perusahaan itu maju juga karna kamu” ucap Fifi
Semakin hari Surya semakin muak melihat Fifi yang selalu mempermasalahkan uang. Menurutnya uang gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi juga mamah, papah dan ibunya juga Surya yang menanggung.
“Kamu bisanya cuma ngomel saja, kalau kamu tidak terima dengan uang yang aku kasih lebih baik kamu kerja sendiri aku tidak mau lagi memberikan uang kalau kamu seperti ini terus” bentak Surya
Fifi mendadak panik karna disuruh bekerja, selama ini ia tak pernah bekerja. Ia selalu menunggu kiriman orang tuanya dan berfoya-foya dengan teman-temannya. Akibat dimanja dari kecil dan selalu dituruti oleh orang tuanya.
Fifi mendekati Surya dan duduk di sampingnya “Jangan seperti itu mas, aku kan istri kamu aku juga mengurus rumah ini bagaimana mungkin aku harus bekerja terus nanti yang mengurus rumah ini siapa” Fifi melembutkan suaranya sehingga Surya hanya menghela nafasnya
Fifi berbohong jika dirinya yang selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah padahal semua yang mengerjakan adalah Dara. Dara yang dipaksa untuk mengerjakan semua itu kalau tidak Fifi dan orang tuanya akan berbuat yang macam-macam pada Surya dan mungkin saja Dara akan diusir dari rumah ini karna mereka pandai membuat cerita.
Hal itu tentu tak mau sampai terjadi, akhirnya Dara mengikuti semuanya padahal dulu ia bisa melawan pada mereka tapi setelah ia melihat bagaimana kejamnya papah Fifi ia menjadi takut Surya diapa-apakan.
__ADS_1
Fifi pernah berkuliah namun karna masa remajanya dihabiskan dengan senang-senang dengan temannya, Fifi tak pernah serius bahkan sat pembuatan skripsi pun ia malah membayar orang untuk mengerjakannya. Meski ia mendapatkan gelar namun tidak dengan ilmunya. Karna itu juga Fifi enggan mencari kerja yang nantinya malah membuatnya pusing karna tidak mengerti pekerjaannya. Fifi juga tidak mau kalau hanya bekerja biasa, paling tidak ia ingin menjadi sekretaris atau tidak manager agar ia tidak merasa malu pada teman-temannya.
“Sudahlah Fi, aku mau istirahat lebih baik kamu keluar dulu” ucap Surya
Sebenarnya Fifi masih kesal pada Surya namun ia memutuskan keluar dari kamarnya karna tak mau membuat Surya bertambah emosi padanya.
“Ya sudah kamu istirahat ya mas aku keluar mau beres-beres dulu” ucap Fifi
Fifi pun berdiri dan keluar dari kamarnya. Namun ia bukan beres-beres malah bersantai dan menonton TV.
Dara sekarang sadar kalau menjodohkan Fifi dengan Surya adalah kesalahan besar. Ia terlalu membenci Nita sampai tak pernah melihat bahwa mantan menantunya itu sangat peduli dan juga tulus menyayanginya.
Sekarang Dara hanya bisa menyesali, apalagi setelah dirinya tahu kalau Nita adalah seorang anak pengusaha. Ia yang selalu menghina karna tidak jelas asal usulnya merasa malu pada Nita. Meski sekarang Dara tak pernah lagi bertemu dengan Nita karna dirinya jarang keluar dan jika keluar pun hanya ke pasar untuk berbelanja.
Ingin rasanya ia mengulang kembali saat Nita menjadi menantunya, mungkin kalau Dara bisa menerima dan berbuat bauk pada Nita ia akan merasakan masa tuanya tanpa harus bekerja memikirkan semua ini. Tapi semua itu tak akan pernah bisa diulang lagi, penyesalan hanya tinggallah penyesalan.
Menantu yang tidak diinginkannya ternyata lebih baik dari pada menantunya saat ini. Nita tak pernah membentak dirinya atau bahkan menyuruh-nyuruh dirinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Entah sampai kapan ia harus bertahan seperti ini, badannya terasa sangat pegal dan lelah. Untuk memanggil tukang urut saja Dara tak memiliki uang karna uang gaji Surya diberikan pada Fifi sepenuhnya. Fifi selalu memberi jatah setiap harinya untuk berbelanja untuk makan sehari-hari, itu saja terkadang kurang dan Dar harus pintar-pintar mengelolanya membeli barang-barang yang dibutuhkan saja.
Surya tak mengetahui semua itu, karna ketika dirinya berada di rumah semuanya baik-baik saja dan Dara pun juga tidak pernah diperlakukan yang tidak-tidak jadi Surya berpikir semuanya baik-baik saja. Ingin sekali Dara memberi tahu Surya tapi ia takut nantinya akan disiksa lagi oleh papah Fifi. Ternyata ia salah menyangka keluarga mereka baik, keluarga Fifi sangat kejam sekali.
__ADS_1