
Nita merebahkan tubuhnya di atas kasur, pikirannya menerawang mengingat semua kenangan bersama Surya dulu. Sewaktu masih pacaran dan sampai akhirnya mereka menikah. Surya yang ia kenal sebagai pria yang lembut dan hangat malah menjadi pria yang kasar dan tega menyakiti dirinya.
Rasanya lelah jika harus memikirkan semua itu, dan tidak akan ada habisnya. Nita memutuskan untuk mandi agar tubuhnya segar dan pikirannya kembali fresh.
Hari demi hari berlalu, hari ini adalah waktu Nita biasa mengunjungi panti. Nita selalu rutin mengunjungi panti sebulan sekali, tapi jika ia sudah rindu tak perlu menunggu waktunya tiba.
Nita sudah bersiap-siap akan pergi, namun sebelum ke panti Nita ingin berbelanja untuk diberikan pada anak-anak yang ada di sana. Biasanya ia membawa jajan dana juga sedikit mainan agar mereka bisa menikmati waktu luang mereka dengan bermain.
Sedangkan di lain tempat, Sinta yang sudah tidak sabar meminta Aryo agar cepat-cepat sampai ke panti untuk menemui anaknya.
“Pah, ayo cepat mamah sudah tidak sabar ketemu sama Nita. Pasti dia sangat cantik ya pah” ujar Sinta
“Iya mah sabar sebentar lagi kita akan sampai. Iya mah pastilah anak siapa dulu dong” ucap Aryo bangga
“Dia juga anak aku loh pah” Sinta tidak terima
Namun mereka tertawa bersama setelah melontarkan kata-kata itu. Hari ini mereka sangat bahagia, karna selama berpuluhan tahun tidak bertemu dan tidak pernah tahu wajah anaknya, hari ini Sinta dan Aryo akan menemuinya.
Sesampainya di panti, Sinta dan Aryo memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka turun dan tidak lupa membawa bingkisan untuk diberikan pada anak-anak di sana.
“Assalamualaikum” ucap Sinta dan Aryo
“Waalaikumsalam” jawab anak-anak yang ada di depan panti serentak
“Masuk saja bu, ibu Sulis sudah menunggu di dalam” ucap salah satunya
“Iya terima kasih, ini kamu bawa ya bagi-bagi sama yang lain” ucap Aryo memberikan dua bungkus bingkisan
“Terima kasih” anak itu bergegas menghampiri yang lain dan membaginya
Sinta dan Aryo tersenyum melihat senyum dan tawa mereka. Meski tidak hidup dengan kedua orang tuanya tapi mereka tak pernah menampakkan kesedihan mereka. Sebab Sulis selalu memberi mereka kasih sayang serta tak membeda-bedakan antara mereka.
__ADS_1
“Assalamualaikum bu Sulis” ucap Sinta
“Waalaikumsalam, mari duduk” ujar Sulis
Aryo dan Sinta duduk di sebelah Sulis. Mereka mengobrol sambil menunggu Nita datang.
Setelah menunggu hampir satu jam, terdengar suara mesin mobil. Sulis, Aryo dan juga Sinta bergegas keluar melihat siapa yang datang.
Nita keluar dari taksi yang mengantarnya sembari menenteng beberapa bungkus bingkisan untuk diberikan ke pada anak-anak.
“Assalamualaikum” ucap Nita
Sinta dan Aryo menatap Nita dengan lekat, mereka tidak menyadari kalau ia sudah pernah bertemu dengan Nita sebelumnya karna terhanyut rasa haru dan bahagianya.
“Waalaikumsalam” jawab mereka bertiga
Sinta langsung memeluk Nita dengan tersedu-sedu, Aryo pun ikut memeluk anaknya yang selama ini selalu ia cari dan harapkan.
Nita tidak mengerti kenapa dua orang ini memeluknya, ia melihat ke arah Sulis. Sulis hanya tersenyum dan mengangguk seolah memberi jawaban atas kebingungan Nita.
Sinta masih memeluk Nita, rasanya ia tak mau melepaskan pelukannya walau hanya sebentar
Setelah mendengar penuturan Sinta, Nita pun ikut menangis. Orang yang selama ini ia rindukan kini sudah ada di depannya. Ia selalu ingin bertemu kedua orang tuanya, ia juga ingin menanyakan alasan mengapa orang tuanya tega membuangnya ke panti.
“Sebaiknya kita masuk dan membicarakan masalah ini di dalam” ajak Sulis
Akhirnya Sinta melepas pelukannya dan menggandeng sang anak untuk masuk. Nita kini sudah duduk di tengah-tengah Sinta dan Aryo. Sedari tadi mereka enggan untuk melepaskan genggaman tangan Nita.
“Bu” Nita meminta penjelasan pada Sulis dengan semua ini
Meski dirinya sudah bahagia bertemu dengan mereka, tapi Nita mau mendengar alasan mereka sehingga mereka tega menaruh Nita di panti dan saat ini mereka datang ke sini menemui Nita.
__ADS_1
“Biar bu Sinta dan pak Aryo yang menjelaskan semuanya” jawab Sulis
Nita menatap Sinta dan Aryo secara bergantian, terlihat jelas mereka sangat bahagia bertemu dengan Nita.
“Untuk apa kalian mencari aku setelah kalian membuangku” ucap Nita pada Sinta dan Aryo
“Kami tidak pernah membuangmu nak, dulu waktu usia kamu satu tahun kamu diculik oleh seseorang. Kami sudah mengejarnya namun kami kehilangan arah, bertahun-tahun kami selalu mencari kamu tak kenal lelah berharap kamu bisa berkumpul dengan kami lagi. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, kami tidak menemukan kamu, hingga pada akhirnya kami mengetahui kalau kamu dibuang di sini, kami langsung ke sini untuk menanyakan pada orang sekitar sini” jelas Aryo
“Benar nak, kami tidak pernah membuang kami, selama puluhan tahun kami hidup tanpa kamu membuat hidup kami merasa tak tenang sebelum mengetahui keadaan kamu hiks hiks” sambung Sinta dengan terisak
“Jadi bukan kalian yang membuang aku?” tanya Nita
“Tidak, kami selalu mengharapkan bisa bertemu dengan kamu dan tak lelah meminta agar bisa disatukan lagi dan kuta berkumpul bersama” jawab Sinta
“Mamah” Nita pun ikut menangis setelah mendengar penjelasan mereka, kini Nita memeluk Sinta dengan erat
Sinta dan Aryo memang tidak mau memberitahu bahwa orang yang menyuruh menculik Nita adalah kakeknya sendiri, ia tak mau kalau Nita tahu malah membenci kakeknya apalagi ia sudah tenang di sana. Biarkan semuanya menjadi masa lalu, Sinta dan Aryo sudah sepakat untuk tidak membuka luka lama
“Bu, terima kasih sudah merawat anak saya. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa” ucap Sinta
“Itu sudah menjadi tugas saya bu, jadi ibu tidak perlu membalasnya” jawab Sulis
Hati Sulis terenyuh karna anak yang dididik dari kecil hingga ia besar sudah bertemu dengan kedua orang tuanya. Bahagia tentu dirasakan Sulis, mungkin anak-anak yang lain bisa seperti Nita, yang dicari dan bertemu dengan orang tuanya itulah harapan Sulis. Meski mereka tak pernah kekurangan kasih sayang dari Sulis tapi bertemu dengan keluarga sudah pasti menjadi keinginan mereka agar hidupnya lebih bahagia lagi.
“Kamu mau tinggal bersama kami kan nak?” tanya Sinta penuh harap
Nita bingung, kalau ia menerima bagaimana dengan rumahnya. Tapi kalau ia menolak kasihan juga, ia juga masih sangat merindukan kedua orang tuanya dan masih ingin banyak mengobrol.
“Kenapa nak?” tanya Aryo yang melihat Nita seperti bingung
“Sebenarnya aku sudah punya rumah sendiri mah, pah. Kalau aku ikut kalian bagaimana dengan rumahnya?” tanya Nita
__ADS_1
Arto dan Sinta saling tatap dan tersenyum, jadi hanya itu alasan yang membuatnya bingung.