
“Kenapa mesti berhenti apa tidak bisa nanti saja, papah kamu kan sudah bisa mengurusnya jadi kamu di sini saja. Aku sudah senang kamu bekerja lagi karna aku tidak punya teman curhat” keluh Wiwik
“Tidak bisa Wik, papah sudah semakin tua dan ia tidak mungkin terus-terusan untuk mengelola perusahaannya, meski sebenarnya aku juga tidak ingin berhenti bekerja tapi aku harus melakukannya karna aku sebagai anaknya” Nita mencoba memberi pengertian
“Kita masih bisa ketemu Wik kamu tenang saja lagian kita hanya beda perusahaan bukan beda planet” ucap Nita diselingi canda agar Wiwik tidak sedih lagi
“Kalau pun beda planet aku akan tetap meminta kamu untuk menemuiku, awas saja kamu sampai lupa sama aku”
“Mana mungkin aku lupa sama teman aku yang bawel dan resek ini” Nita memeluk Wiwik
Mereka pun saling berpelukan untuk melepas kesedihan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat dan mendengarkan mereka saat mengobrol. Dia adalah Hengki, Hengki hendak pergi ke luar namun ia melihat Nita sedang berbicara dengan Wiwik. Akhirnya Hengki memutuskan untuk berhenti dan mendengar percakapan mereka.
“Huaaa aku pasti bakal kesepian tidak ada kamu dan makan siang gratisku juga tidak ada”
Nita menoyor kepala Wiwik “Dasar sukanya gratisan” cibir Nita
“Yang gratis itu lebih nikmat, kamu saja belum ngerasain gimana rasanya makan gratis, minum gratis, liburan gratis, belanja gratis pokoknya semuanya deh”
“Itu sih mau kamu saja yang gratisan, aku balik ke ruangan aku dulu ya. Aku juga belum tahu kapan aku pindah tapi besok aku mau ngajukan surat risegnnya”
“Ya sudah kalau memang itu yang terbaik untuk kamu, aku hanya bisa mendo’akan kamu” ucap Wiwik bijak
“Halah tumbenan kamu jadi bijak begini. Sudahlah aku ke ruangan aku dulu”
Nita pun pergi dan kembali ke ruangannya.
*
Setelah jam pulang kantor, Nita pulang menggunakan mobil karna Sinta sudah memberikannya mobil. Awalnya Sinta meminta Nita diantar sopir, tapi Nita menolak dan ingin menyetir sendiri.
__ADS_1
“Assalamualaikum” ucap Nita ketika masuk ke dalam rumahnya
“Waalaikumsalam” jawab Sinta
Nita melihat Sinta sedang duduk di ruang keluarga pun menghampirinya “Mamah lagi apa?” tanya Nita
Kebiasaan yang dilakukan Sita ketika Aryo sedang berada di kantornya adalah bersantai di ruang tamu atau merawat tanamannya.
“Mamah lagi santai saja, bagaimana pekerjaan kamu?”
“Lancar mah, besok aku mau ngajukan risegn tadi juga aku sudah bilang ke bos kalau mau berhenti dan harus membantu papah dan bosnya menyetujuinya”
“Bos kamu ganteng?”
Sinta sengaja bertanya seperti itu karna Nita bercerita antusias dan ia bisa menilai kalau anaknya ini sedang merasakan sesuatu.
“Apaan sih mamah, pak Hengki memang ganteng tapi tidak mungkin mau sama aku apalagi status aku sekarang sudah beda”
“Hengki? Kamu bekerja di WR Group?”
Nita menatap mamahnya, bagaimana bisa ia tahu kalau ia bekerja di perusahaan itu.
“Kok mamah tahu” tanya Nita heran
“Waah dunia memang sempit ya, Hengki itu anak temannya mamah namanya Sukma. Kami juga saling kenal, dia itu anaknya baik, sopan lagi jadi kalau kamu sama dia mamah tenang karna keluarganya baik” jelas Sinta
“Aku masih belum memikirkan hal itu mah, kalaupun nanti kita bersama mungkin memang jodohnya kalau pun nanti tidak bersama berarti bukan jodoh. Aku tidak mau merasakan kegagalan lagi, mungkin mamahnya pak Hengki memang baik tapi belum tentu ia menerima aku yang statusnya seorang janda, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya” ucap Nita panjang lebar
Sinta terenyuh mendengar jawaban Nita, Sinta bukan ingin menjodohkan Nita dengan Hengki tapi menurutnya Hengki adalah pria yang baik dan tulus hanya saja ia belum menemukan tambatan hatinya. Sinta memang mengenal Sukma dengan baik, tapi apa yang dikatakan oleh Nita ada benarnya juga belum tentu ia mau menerima anaknya yang statusnya sudah bukan seorang gadis lagi.
“Mamah selalu mendukung keputusan kamu, jadi kalau kamu ingin cerita sama mamah kamu jangan sungkan-sungkan apapun itu mamah pasti mendukung kamu asalkan itu yang terbaik untuk kamu”
__ADS_1
Nita memeluk Sinta, baru kali ini ia bisa merasakan kasih seorang ibu yang tak pernah ia rasakan mulai dari kecil. Meski ia baru mendapatkan perhatian itu, Nita masih bersyukur karna masih dipertemukan dengan orang tua kandungnya.
Tak pernah ia bermimpi untuk bisa seperti ini tapi takdir sang maha kuasa memanglah tak ada yang tahu. Penderitaan yang ia alami waktu kecil dengan kini membuahkan bahagia. Mungkin ini balasan buah dari kesabarannya.
“Terima kasih ya mah”
“Hei tidak perlu berterima kasih, itu memang sudah tugas kami sebagai orang tua jadi kalau kamu punya masalah jangan dipendam sendiri karna kamu masih punya kami. Biar kami menebus semua waktu yang terbuang sekarang meski terlambat kami masih sangat bersyukur karna masih bisa bertemu dengan kamu”
Puas berpelukan dan menumpahkan semuanya, Nita berpamitan untuk pergi ke kamarnya karna badannya sudah sangat terasa lengket dan ia ingin segera beristirahat karna badannya cukup pegal-pegal menemani Hengki meeting dengan beberapa klien.
Saat makan malam, Nita, Sinta dan Aryo sesekali mengobrol. Menanyakan tentang perkembangan perusahaan dan lainnya.
“Oh iya pah ternyata tempat Nita bekerja itu perusahaannya Hengki pah” ucap Sinta ketika teringat obrolannya dengan Nita saat baru pulang kantor
“Benar nak kamu kerja di perusahaannya Hengki?” tanya Aryo pada Nita
“Iya pah, aku kerja di sana” jawab Nita
“Bagus dong jadi aku tinggal minta ke Hengki agar kamu segera pindah ke perusahaan” ujar Aryo
“Aku sudah bilang pah jadi papah tidak perlu bicara sama pak Hengki aku jadi tidak enak” ucap Nita
“Ya sudah kalau kamu memang tidak mau tidak apa-apa, memang kamu kerja di bagian apa?” tanya Aryo
“Sebagai sekretarisnya pah” jawab Nita
Aryo dan Sinta saling pandang, ia tahu betul seperti apa sikap Hengki dalam bekerja. Bahkan ia tak mau memiliki sekretaris wanita karna ia tak suka melihat wanita yang berpenampilan terlalu seksi apalagi sampai menggodanya.
“Kamu benar sebagai sekretarisnya?” tanya Aryo masih tak percaya
“Iya pah, kenapa papah jadi tidak percaya begitu sih kayak heran kalo aku jadi sekretarisnya pak Hengki” Nita pun bingung dengan sikap kedua orang tuanya
__ADS_1