
Sepeninggal dokter, Sinta dan Sukma memberi kabar pada Hengki dan juga Aryo kalau Nita sudah sadar agar mereka segera ke rumah sakit setelah urusan pekerjaannya selesai.
*
“Kamu mau ke mana lagi mas?” tanya Fifi
Surya yang hendak mengendarai motornya pun menatap Fifi “Aku pusing dengar kamu ngomel aku mau cari tempat yang buat aku tenang setelah pulang bekerja karna aku capek” ucap Surya
“Jadi kamu mau cari perempuan lagi, awas saja kamu mas kalau berani mencari perempuan lain!” teriak Fifi
“Terserah apa katamu Fi” Surya melajukan motornya meninggalkan Fifi yang masih terus berteriak karna Surya meninggalkannya
Semakin hari hubungan Surya dan Fifi malah semakin renggang, apalagi Fifi yang selalu marah-marah pada Surya meski hanya masalah sepele langsung membuat Fifi menyalahkan Surya.
Surya sudah bosan, apalagi semenjak ibunya sakit-sakitan dan memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Ternyata Dara salah, meski rumahnya kecil dan sederhana tapi cukup membuatnya nyaman selama beberapa minggu tinggal di sana.
Berbeda saat masih tinggal di rumah Fifi, meski rumahnya besar tapi Dara tak pernah merasakan kenyamanan. Dara selalu disuruh ini dan itu, Dara tak pernah melawan karna tubuhnya juga semakin lemah.
Hingga setelah Dara benar-benar tidak kuat lagi, Dara meminta Surya untuk mengantarnya pulang saja dan memilih tinggal di rumahnya sendiri agar ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa melakukan pekerjaan rumah sebesar itu sendirian.
Ninik sempat melarang dan menghalangi namun Surya tak mempedulikan, Surya membawa Dara meski tanpa persetujuan Ninik. Dara menceritakan semuanya pada Surya, semua itu membuat Surya bertengkar hebat dengan Fifi.
Surya benar-benar tak merasakan bahagia saat berumah tangga dengan Fifi, hanya awalnya saja. Setelah lama-kelamaan Fifi berubah dan selalu menuntut Surya apalagi Fifi boros dan tak pernah bisa mengatur uang. Uang yang seharusnya cukup selama sebulan malah tak sampai satu bulan sudah habis.
Hari ini Surya memilih pulang ke rumahnya untuk menenangkan pikirannya, agar Surya bisa mengambil keputusan langkah apa yang harus diambilnya. Surya tak mau salah pilihan lagi, seperti saat bersama Nita. Surya terlalu gegabah dan mengambil keputusan saat dirinya sedang dikuasai amarah, sehingga sekarang hanya menyisakan penyesalan. Namun semua itu sudah percuma disesali karna tak akan terulang lagi.
Surya seperti membuang berlian demi batu kerikil, padahal sudah jelas kalau Nita lebih dari segalanya, hanya karna amarah sesaat membuat penyesalan dan hidupnya berubah.
Sedangkan di rumah sakit, semua orang sudah berada di sana karna Nita sudah sadar dan keadaannya sudah membaik.
“Pah, siapa yang menusuk aku? Perasaan aku tidak punya musuh kenapa dia tega sama aku, beruntung aku masih bisa selamat” ucap Nita lirih
Semua orang saling tatap, Nita masih syok dengan keadaannya karna itu dokter menyarankan agar tidak membebankan pikirannya terlalu berat agar Nita lekas kembali pulih.
__ADS_1
“Sudah jangan pikirkan yang macam-macam dulu, kamu harus sehat dulu setelah itu kami akan kasih tahu siapa orang yang sudah membuat kamu seperti ini. Kamu tenang saja orang itu sudah dipenjara jadi kamu jangan khawatir ya” Hengki berusaha menenangkan Nita
“Ya sudah kamu istirahat dulu, tadi kan sudah minum obat biar cepat pulang” ucap Sinta
Nita mengangguk, ia pun langsung memejamkan matanya untuk beristirahat karna efek dari obat yang membuat rasa kantuk.
Mereka sepakat untuk tidak memberi tahu siapa yang telah menusuk Nita, selain untuk menjaga agar tidak membebankan pikirannya, dan juga orang itu pun juga tidak memiliki urusan karna dengan Nita meski ada sedikit motif yang ditusuk adalah Nita bukan Hengki.
“Om, aku mau bicara sama om” ucap Hengki
“Apa yang akan kamu bicarakan?” tanya Aryo
“Kita bicara di luar saja takut mengganggu Nita karna dia baru saja beristirahat” ucap Hengki
Aryo dan Hengki pun keluar dari kamar rawat Nita. Mereka berdua duduk di kursi.
“Ada apa Ki? Apa ada hal serius?” tanya Aryo
Aryo mendengar ucapan Hengki tanpa menyela sedikit pun.
“Aku ingin melamar Nita” ucapan Hengki terjeda
“Niatnya nanti setelah Nita sembuh aku akan membuat kejutan, meski Nita sudah beberapa kali menolak aku tapi aku yakin sekarang dia pasti mau menerima aku. Om merestui kan?”. Hengki bertanya pada Aryo yang sedari tadi hanya mendengarkan Hengki berbicara
Aryo menepuk pundak Hengki “Kalau aku tidak merestui kamu, untuk apa aku menyuruh kamu melakukan rencana bodoh itu padahal hasilnya gagal” ucap Aryo tertawa
“Terima kasih om, aku akan menjaga Nita dan tidak akan membuat Nita merasakan luka yang sama” ucap Hengki penuh keyakinan
“Aku percaya sama kamu, tapi jika kamu membuat kepercayaan aku hancur maka siap-siap saja kamu tahu kan apa yang akan kamu tanggung?”
Hengki mengangguk.
Setelah mengobrol, Aryo dan Hengki masuk kembali menghampiri Sinta dan Sukma yang masih berada di dalam.
__ADS_1
*
Beberapa hari berlalu, kondisi Nita kini semakin membaik. Dokter menyarankan Nita pulang namun tetap kontrol satu minggu satu kali untuk melihat perkembangan dan juga luka yang dialaminya.
“Kamu sudah memberi tahu Hengki kalau kita sekarang pulang, nanti malah ke sini terus lihat kita tidak ada” ucap Aryo
Kedekatan Nita dan Hengki juga semakin meningkat, Nita tak lagi menjaga jarak meski Hengki terang-terangan mendekatinya. Sepertinya Nita sudah membuka hatinya untuk Hengki.
“Belum pah, papah saja yang kasih tahu. Hp aku mati” jawab Nita
“Ya sudah nanti papah kasih tahu dia buat langsung ke rumah saja”
Nita hanya mengangguk.
Setelah membereskan semua pakaian dan keperluan Nita, Sinta menuntun Nita untuk keluar dari rumah sakit. Sebenarnya Nita tidak mau tapi Sinta memaksa karna takut Nita kenapa-napa padahal Nita sudah bisa berjalan seperti biasa. Namun kekhawatiran Sinta yang membuatnya bersikap seperti itu, Nita hanya menuruti saja karna tak mau nantinya membuat Sinta jadi lebih khawatir lagi.
Sesampainya di rumah, Nita dibantu Sinta dan Aryo turun dari mobil.
“Kok sepi ya pah, mah? Biasanya kan ada bibi di luar”
Sinta dan Aryo tidak menjawab, mereka membawa Nita masuk.
Kreek
Pintu terbuka, Nita, Sinta dan Aryo masuk perlahan.
“Selamat kembali ke rumah” ucap Wiwik
Nita yang tidak tahu apa-apa kaget, di sana sudah ada Wiwik, Hengki dan juga Tino. Ada pembantu juga yang ikut menyambut kedatangan Nita kembali ke rumah.
“Jadi kalian ada di sini, pantas saja di depan rumah sepi banget. Mamah dan papah tahu kalau mereka di sini?” tanya Nita
__ADS_1