Menantu Yang Tidak Diinginkan

Menantu Yang Tidak Diinginkan
37


__ADS_3

“Pah, apa benar kita mencari di sekitar sini?” tanya Sinta


“Iya mah, bukannya mamah sendiri yang bilang” jawab Aryo


Sinta dan Aryo datang ke sebuah tempat yang dulunya anak buah Fandi membuang anak Sinta dan Aryo.


“Tapi sepertinya di sini tidak ada rumah mah tapi di ujung sana ada sebuah gubuk apa mungkin di sana ada orang?” tanya Aryo


“Kita coba tanya ke sana mah, mungkin dia tahu tentang kejadian 26 tahun yang lalu”


“Semoga saja ya mah, kejadian itu sangat lama dan mungkin mereka tidak akan ingat” Aryo tertunduk lemas harapannya seperti tidak ada


“Kita coba dulu saja pah, kalau tidak mencobanya bagaimana kita bisa tahu” usul Sinta


Aryo pun mengangguk dan mengikuti Sinta pergi ke rumah yang sudah seperti gubuk karna sudah lama tidak dibenahi.


Sinta juga merasakan hal yang sama, namun ia tidak akan tahu sebelum mencobanya. Meskipun nanti hasilnya akan membuat hatinya hancur setidaknya ia tahu keadaan putrinya sudah jelas, bagaimana hasilnya Sinta menyerahkan semuanya pada sang kuasa.


Bohong jika ia tak merasakan kesedihan, tapi mau bagaimana lagi ia tidak mau hidup dengan bayang-bayang putrinya yang tidak jelas ada di mana. Sinta berharap ia masih bisa bertemu dengan anaknya dan melewati hidup yang bahagia.


“Assalamualaikum” ucap Sinta dan Aryo bersamaan


Selang beberapa menit, ada wanita yang keluar dari rumah itu.


“Waalaikumsalam” jawabnya “Bapak dan ibu siapa ya?” tanyanya bingung


“Saya Sinta dan ini suami saya Aryo, sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu” ucap Sinta


“Tidak apa-apa bu, mari duduk. Maaf tempatnya seadanya” ucapnya


“Tidak apa-apa, oh iya nama kamu siapa ya?”


“Panggil saja Tia bu”


“Oh iya Tia, kamu tinggal sendiri?”

__ADS_1


Sinta melihat sekelilingnya, perempuan di depannya masih muda jadi tidak mungkin ia tinggal sendirian di sini.


“Tidak bu, saya tinggal dengan nenek saya kebetulan nenek sedang keluar sebentar tapi sebentar lagi akan pulang”


Mendengar jawaban Tia, Aryo dan Sinta mengangguk paham.


“Maaf bu, memang ibu dan bapak ada tujuan apa ke mari?”


“Sebenarnya tujuan kami hanya ingin menanyakan sesuatu, tapi kejadiannya cukup lama dan kemungkinan kamu tidak tahu jadi bolehkan kami menunggu nenek kamu?”


“Tentu saja boleh bu, tapi boleh saya tahu terlebih dahulu”


“Jadi begini, saya dan suami saya mencari anak saya yang hilang 26 tahun yang lalu dan menurut informasi tempat terakhir ada di sekitaran sini, jadi kami mendatangi tempat ini dan melihat rumah kamu jadi kami ke sini untuk bertanya siapa tahu ingat dan tahu dengan kejadian itu”


“Kalo saya memang tidak pernah tahu dengan kejadian itu bu, dan saya pun juga belum lahir. Tapi saya sempat mendengar cerita itu waktu nenek sedang berbicara dengan ibu panti dan menanyakan seorang bayi, tapi saya tidak tahu pasti”


Seketika Sinta dan Aryo saling tatap, mereka seperti akan menemukan jawabannya.


“Mungkin kami lebih baik bertanya pada nenek kamu, sepertinya nenek kamu akan tahu kejadian itu”


“Kami akan menunggu” Sinta dan Aryo memutuskan menunggu untuk mengetahui jawabannya


Hampir setengah jam Sinta dan Aryo menunggu sambil menikmati hidangan yang diberikan oleh Tia.


“Assalamualaikum, Tia” panggil sang nenek


Sinta, Aryo dan Tia pun menoleh dan melihat perempuan tua yang menggunakan tongkat. Kulitnya sudah keriput serta rambut yang tak lagi berwarna putih.


“Waalaikumsalam nek, sini duduk. Ini ada tamu” jelas Ti


“Tamu?” ulang sang nenek


“Iya nek, mereka menunggu nenek dari tadi. Tumben nenek pulang telat”


“Iya, nenek sempat membeli sesuatu dulu, oh iya ada apa kalian menunggu saya? Apa saya mengenal kalian?” tanya nenek dengan wajah bingung

__ADS_1


“Perkenalkan bu, nama saya Sinta dan ini suami saya Aryo. Kami sudah menjelaskan kedatangan kami pada Tia, kedatangan kami hanya ingin bertanya tentang peristiwa yang terjadi 26 tahun lalu tentang bayi yang dibuang oleh seseorang, bayi itu merupakan bayi kami” Sinta mencoba menjelaskan dengan tenang tapi ia tiba-tiba menangis tak kuasa mengingat kejadian 26 tahun yang lalu, ketika ia dipisahkan dengan sang anak sampai sekarang yang tak tahu kabarnya seperti apa


Aryo memeluk Sinta memberi kekuatan, merasa Sinta tak sanggup lagi meneruskan ucapannya Aryo pun langsung menggantikannya.


“Bayi kami dibuang oleh seseorang, kami sempat mencarinya namun tak menemukan hingga kami mengetahui kalau mereka membuangnya di sini dan kami langsung ke mari untuk menanyakan hal itu mungkin ibu tahu tentang itu” sambung Aryo


Aryo sengaja tidak memberi tahu kalau yang membuang bayi mereka adalah kakeknya, cukup ia menutup luka itu. Fandi juga sudah tenang di sana jadi Aryo tak mau mengingat semuanya lagi, biar semua itu tersimpan dan tak perlu diingat lagi.


“Bay?” nenek mencoba mengingat-ingat


Pikirannya menerawang jauh untuk bisa mengingat kejadian itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kejadian itu memang sangat lama dan kemungkinan orang akan lupa, apalagi hanya dengan tragedi penemuan bayi.


“Bayi perempuan” ucap nenek


Aryo dan Sinta langsung menatap nenek dan mengangguk bersamaan.


“Iya nek, bayi kami perempuan apa nenek ingat, di mana bayi saya nek. Bawa ke sini aku sudah sangat merindukannya” ucap Sinta


“Mah sabar, kita dengarkan dulu apa yang mau dikatakan oleh nenek ya” Aryo menenangkan Sinta agar tidak terburu-buru, ia pun juga sama menginginkan bayinya tapi Aryo harus tahu ceritanya agar ia tahu anak mereka ada di mana sekarang.


“Iya saya sedikit ingat dulu pernah menemukan bayi perempuan”


Flash back on


Nek Ipah yang hnya tinggal seorang diri di rumahnya karn sang anak memilih merantau dan meninggalkannya sendiri. Nek Ipah berjualan keliling, ia akan pulang hampir maghrib. Saat perjalanan pulang, nek Ipah seperti mendengar suara bayi, nek Ipah mendekati suara tersebut.


Betapa terkejutnya nek Ipah ternyata yang ada di depannya memanglah bayi. Nek Ipah mengambilnya agar sang bayi berhenti menangis.


Awalnya nek Ipah membawa pulang karna bingung harus bagaimana dan hri juga mulai gelap dan sebentar lagi akan maghrib.


Keesokan harinya, nek Ipah menemui seorang ibu yang mempunyai panti. Memang pantinya tidak besar tapi sudah ada beberapa anak yang diasuhnya karna tidak diinginkan atau dibuang oleh orang tuanya dengan dalih menitipkan untuk sementara waktu tapi tak pernah dikunjunginya untuk dijemput pulang.


Ibu Sulis adalah perempuan yang sudah ditinggal oleh suaminya dan tidak dikaruni anak ini pun mendirikan panti karna  banyaknya orang tua yang menelantarkan anaknya.


Nek Ipah mendatangi panti Sulis, ia berharap bisa menitipkan bayi ini.

__ADS_1


 


__ADS_2