
Namun tenaganya tentu kalah, karna anak buah Hengki memiliki badan dan otot yang besar tentu saja dengan keterampilan bela diri yang sudah dikuasinya.
“Ikat dia” titah Hengki
Anak buah Hengki mengikat Heri. Heri terus memberontak namun ia tak bisa karna ikatan yang sangat kuat.
“Heh apa wanitamu itu sudah mati” ejek Heri
Hengki langsung memukul Heri tanpa aba-aba
Bugh
Perih dirasakan Heri saat sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah akibat pukulan Hengki yang sangat kuat.
“Dasar tidak tahu diuntung, kau sama saja seperti anakmu itu bukannya berterima kasih malah berbuat aneh-aneh kalau sampai dia tidak kembali seperti semula kamu dan anakmu akan habis!” Teriak Hengki
Heri yang mendengarnya hanya tersenyum mengejek “Kenapa aku harus berterima kasih? Kamu yang membuat perusahaan aku bangkrut dan aku harus berterima kasih biar saja dia mati agar kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan!” ucap Heri
“Heh kehilangan seperti apa yang kamu katakan?! Apa kehilangan uang dan aset-asetmu itu sehingga kamu tidak bisa bermain dengan wanita-wanita lagi? Miris sekali pemikiranmu, sudah tua bukannya tobat dan ingat akhirat kamu malah menumpuk dosa”
“Tidak perlu berceramah” ucap Heri emosi
“Ceramah? Buat apa aku buang-buang tenaga hanya untuk berceramah padamu, sekarang kamu nikmati saja tidur tanpa kasur empukmu itu dan anak kamu itu akan ikut denganmu”
“Kurang ajar kamu!” teriak Heri
“Bawa dia ke kantor polisi dan juga seret sekalian anaknya” ucap Hengki pada anak buahnya
“Baik bos”
Hengki pergi meninggalkan Heri yang terus berteriak dengan mengucapkan sumpah serapahnya, bahkan ia tak hentinya mencaci Hengki dan juga keluarga. Namun Hengki acuh karna ia ingin segera ke rumah sakit untuk menjenguk dan melihat keadaan Nita.
*
Satu minggu sudah Nita terbaring dan belum sadarkan diri. Meski keadaannya membaik tapi ia belum juga membuka matanya.
Hengki masih setia menemani Nita, setelah pulang dari kantornya ia selalu ke rumah sakit dan menunggunya semalaman di sana. Hengki selalu mengajak Nita mengobrol meski ia tahu tak akan ada jawaban dari Nita, tapi dokter memberikan saran itu, siapa tahu Nita memberi respons.
“Kamu betah banget sih tidurnya Nit, padahal aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang indah dan aku yakin kamu pasti akan suka sama tempat itu. Kamu cepat bangun ya, kamu pasti penasaran kan tempatnya?”
Hengki menggenggam tangan Nita. Tak hentinya ia menatap wajah Nita berharap matanya segera terbuka dan melihat dirinya yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Hengki menghembuskan nafasnya, ia tak melihat Nita merespons ucapannya. Namun setelah ia hendak berdiri, Hengki melihat tangan Nita bergerak, Hengki langsung menghampiri Nita.
“Kamu sudah bangun Nit? Aku panggil dokter dulu” Hengki bergegas keluar untuk memanggilkan dokter karna melihat tangan Nita bergerak padahal matanya masih terpejam
Setelah memanggil dokter, Hengki kembali lagi ke ruangannya bersama dokter.
“Dok cepat periksa tadi Nita menggerakkan tangannya dok” ucap Hengki tak sabar
“Baik pak, kami akan periksa dulu”
Dokter pun memeriksa Nita. Hengki yang sedang menunggu nampak tidak sabar dengan hasil pemeriksaan.
“Bagaimana dok? Apa ada perkembangan?” tanya Hengki
“Belum pak Hengki, namun kalau pak Hengki benar melihat bu Nita menggerakkan tangannya berarti bu Nita sudah mulai merespons ucapan pak Hengki. Saran saya pak Hengki terus ajak bu Nita bicara mungkin bu Nita mendengar lalu bisa segera sadar”
Hengki menghela nafasnya, ia berharap Nita segera sadar. Tapi setidaknya Nita mendengar ucapannya tadi jika memang benar ia merespons dengan menggerakkan tangannya. Hengki akan terus mencoba mengajak Nita berbicara dan berharap ia akan segera sadar.
“Baik dok, terima kasih”
“Kalau begitu saya permisi”
Setelah kepergian dokter, Hengki kembali duduk “Aku kira kamu akan sadar Nit, aku harus bersabar ternyata. Tidak apa-apa semoga kamu mendengar ucapan aku ya, kalau kami menunggu kamu sadar. Kasihan papah kamu mengurus perusahaan, bukankah kamu harus kembali ke perusahaan buat kerja lagi” Hengki mencoba berbicara sambil diselingi canda
Berharap Nita merespons lagi, namun tidak ada respons lagi dari Nita. Ia tak menggerakkan tangannya lagi, sepertinya Hengki harus mencobanya lagi besok.
“Ya sudah aku mau tidur dulu ya Nit, rasanya aku capek banget karna tadi banyak pekerjaan di kantor, tante Sinta juga aku suruh istirahat karna kasihan ia menunggu kamu dengan khawatir, selamat malam Nita”
Hengki berjalan ke sofa untuk merebahkan dirinya karna ia merasa tubuhnya juga sudah lelah dan dirinya juga sudah mengantuk karna hari semakin larut malam.
Keesokan harinya, Hengki berpamitan pulang pada Sinta karna ia harus ke kantor. Dan juga kebetulan ada meeting hari ini yang tidak bisa diwakilkan jadi Hengki sendirilah yang harus datang. Biasanya Tini lah yang menghadiri selagi itu bisa diatasi oleh Tino.
Setelah mandi dan berganti pakaian Hengki langsung berangkat ke kantor. Sukma juga akan pergi ke rumah sakit untuk menemani Sinta karna Aryo masih harus mengurus perusahaan jadi Sinta sendirian. Meski Sinta tak meminta Sukma untuk menemaninya sebagai seorang teman tentu saja Sukma tak mau Sinta sendirian dan nanti bertambah sedih jika tak ada yang menemaninya.
Sesampainya di rumah sakit, Sukma langsung masuk ke dalam tempat Nita dirawat. Di sana sudah ada Sinta yang menemani Nita.
“Sin” sapa Sukma
Sinta menoleh ke sumber suara “Sukma”
“Bagaimana keadaan Nita?” tanya Sukma
__ADS_1
“Masih sama, tapi Nita mulai merespons jika kita mengajaknya berbicara” jawab Sinta
“Kamu sudah sarapan?”
Sinta mengangguk.
Mereka berdua pun menunggu Nita sambil mengajak ngobrol Nita bergantian. Berharap Nita segera sadar.
Benar saja, saat Sinta terus mengajaknya mengobrol, tangan Nita bergerak dan matanya juga bergerak seperti akan membuka matanya.
“Sukma cepat panggilkan dokter, lihat tangan dan matanya bergerak. Sepertinya dia akan sadar” ucap Sinta
Sukma pun langsung memanggil dokter.
“Dok lihat tangan anak saya bergerak, matanya juga dok” ucap Sinta
“Saya periksa dulu ya bu”
Dokterpun memeriksa Nita, namun tak berapa lama Nita membuka matanya.
“Bu Nita, apa anda mendengar saya?” tanya dokter
Nita pun menoleh ke arah dokter dan menganggukkan kepalanya.
“Nita, ini mamah nak kamu sudah sadar sayang” Sinta pun mendekati Nita seketika dokter pun mundur untuk memberi ruang pada Sinta untuk mendekati Nita
“Mah” panggil Nita
“Iya sayang, kenapa? Apa ada yang sakit?” tanya Sinta
Nita menggelengkan kepalanya.
“Alhamdulillah bu Nita sudah sadar, kalau dilihat sepertinya beliau masih lemas dan saya sarankan agar tidak terlalu mengajaknya mengobrol yang berat-berat sampai keadaannya benar-benar pulih” jelas dokter
“Baik dok”
Sebentar lagi karya ini akan tamat ya gaes.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, coment dan vote🤗
__ADS_1