
Yang dikatakan Wiwik ada benarnya juga, tapi ia hanya merasa tidak enak dengan atasannya itu. Nanti saja Nita pikirkan bagaimana cara untuk menolak Hengki.
“Kamu benar Wik”
“Tapi apa salahnya sih kamu sama pak Hengki, lagian dia juga kaya, tampan lagi kamu pasti tidak perlu kerja lagi kalau nikah sama pak Hengki, bahkan tujuh turunan pun kamu masih bisa santai Nit”
“Tidak semudah itu, aku masih belum resmi dengan mas Surya meski semua hampir selesai, aku juga harus menjalani masa iddah aku. Dan yang paling penting itu keluarga pak Hengki belum tentu bisa menerima aku. Ibu mas Surya saja tidak bisa menerima aku apalagi ini orang tuanya pak Hengki” jelas Nita panjang lebar
“Rumit juga ya masalahnya”
“Sudahlah ngapain juga mikir begitu belum tentu pak Hengki punya rasa sama aku, ini juga kan Cuma pemikiran kamu saja” Nita menoyor kepala Wiwik
“Awwh sakit Nit, kalau aku amnesia bagaimana? Kamu pasti sedih kalau aku tidak ingat sama kamu” Wiwik seolah-olah kepalanya dibentur ke tembok
“Alah lebay banget sih cuma gitu saja sakit” Nita meninggalkan Wiwik
“Eeh mau ke mana? Main tinggal saja” Wiwik mengejar Nita
“Kerja” jawab Nita berlalu meninggalkan Wiwik
Nita masuk ke dalam ruangannya, ia pun mulai bekerja.
Setelah memeriksa semua jadwal untuk Hengki, Nita pun bergegas menuju ruangan Hengki.
Tok tok tok
“Masuk” ucap Hengki
“Saya ingin memberi tahu jadwal bapak” ucap Nita
“Silakan” titah Hengki
“Hari ini bapak ada meeting bersama Angkasa Grup dan juga RY Companny” jelas Nita
“Hanya itu?”
Nita mengangguk mengiyakan pertanyaan Hengki.
__ADS_1
“Baiklah”
“Kalau begitu saya permisi pak” ucap Nita
“Nita tunggu” panggil Hengki
Nita pun membalikkan badannya “Ada apa pak?” tanya Nita
“Apa weekend nanti kamu ada waktu?” tanya Hengki
Nita sempat mengerutkan keningnya namun ia mencoba bersikap biasa saja “Kayaknya tidak pak, ada apa ya?”
“Aku mau mengajak kamu jalan”
“Jalan?” ulang Nita
“Iya Nita apa masih kurang jelas?”
“Tidak pak” Nita hanya terkejut saja kalau bosnya malah mengajaknya jalan, Nita bingung mau menjawab apa kalau menolak ia tidak enak tapi kalau diterima ia tambah tidak enak.
Nita masih memikirkan statusnya dengan Surya yang masih belum resmi bercerai, ia takut nantinya dilihat orang dan malah membuat fitnah yang tidak-tidak. Apalagi ia menyandang status janda. Ya, status itu memang sudah dicap tidak terlalu baik, meski perceraian itu terjadi karna kesalahan pihak laki-laki.
Nita akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia pasrah, tapi ia mungkin bisa mengajak Wiwik agar mau menemaninya, meski akan susah membujuknya tapi Nita harus berusaha.
“Tapi aku boleh ajak teman aku?” tanya Nita ragu
Nita hanya takut nantinya bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dan menganggap hal lain. Apalagi sampai bertemu dengan ibu dan istri baru dari Surya. Sudah cukup ia menelan semua hinaan yang terasa menyakitkan. Nita tak mau lagi mendengar semua cacian yang dulu menjadi makanannya sehari-hari.
Bukan ia takut dan tak bisa melawan, ia menghargai Dara sebagai orang yang lebih tua dan juga ibu yang melahirkan Surya. Maka dari itu Nita tak pernah mau membalas cacian Dara. Baginya ia tak perlu bersikap sama untuk membalas rasa sakit hatinya, biar semua berjalan dan nantinya Dara mendapatkan balasan dengan sendirinya. Itulah yang disebut hukum alam. Siapa yang menyakiti pasti akan tersakiti, oleh sebab itu kita harus berbuat baik pada setiap orang agar kita pun mendapatkan balasan yang sama.
“Teman?” Kali ini Hengki yang bingung, ia ingin mengajak Nita jalan malah mengajak temannya
“Iya pak, bapak kan tahu kalau status aku dengan mas Surya masih belum resmi bercerai. Aku takutnya nanti malah menjadi asumsi orang yang tidak tahu dan malah menjadi fitnah. Untuk menghindari itu makanya aku mengajak teman” jelas Nita panjang lebar
Hengki menghela nafasnya, ia juga tak mungkin menentang keputusan Nita. Ia juga harus paham kalau perempuan di depannya masih menjadi istri orang. Meski sebenarnya ia ingin sekali menolak tapi Hengki tak bisa berbuat apa-apa, Hengki pun mengiyakan permintaan Nita, setidaknya ia bisa pergi bersama Nita meski tidak berdua.
“Ya sudah kalau begitu, kamu bisa kembali ke ruangan kamu. Weekend aku jemput kamu”
__ADS_1
Nita pun pamit kembali ke ruangannya.
“Apa jadinya nanti kalau jalan bertiga, apa orang-orang akan berpikir aku sedang jalan dengan kedua istriku” Hengki terkekeh membayangkan nanti akan bagaimana meski ia hanya bergurau dengan ucapannya, tapi mungkin benar kalau orang-orang ada berpikir seperti itu.
Tak mau memikirkan hal yang membuatnya pusing, Hengki melanjutkan pekerjaannya.
*
“Bu, kenapa tidak ada makanan?!” teriak Fifi
Dara yang baru saja akan beristirahat terpaksa bangun dan menghampiri Fifi di luar.
“Ibu hanya masak untuk Surya tadi. Kalau kamu mau makan masak sendiri, seharusnya kan ini tugas kamu Fi dan juga untuk pekerjaan rumah lainnya. Ibu capek badan ibu pegal-pegal” keluh Dara
“Itukan memang tugas ibu bukannya di rumah Nita ibu biasa melakukan semuanya kenapa sekarang ibu jadi manja” ketus Fifi
“Kamu kok berubah sekarang Fi, dulu kamu penurut banget kenapa sekarang kamu suka sekali bentak dan suruh-suruh ibu”
Semenjak akhir-akhir ini Fifi memang berubah, biasanya Fifi tak pernah berkata kasar ataupun berteriak seperti tadi namun semua itu sudah seperti hal biasa yang dilakukan Fifi sekarang. Mungkin memang Dara belum mengetahui sifat asli Fifi, karna ia tak setiap hari bersama Fifi.
“Itu karna ibu salah dan buat aku marah, seandainya ibu tidak salah aku tidak mungkin berkata seperti ini”
Dara menghela nafasnya “Memangnya apa salah ibu?” tanya Dara tak mengerti
“Ibu pakai tanya lagi, ibu itu belum masak dan aku lapar ini sudah hampir siang tapi tidak ada makanan sama sekali aku itu belum sarapan bu seharusnya ibu tahu itu”
“Makanya kamu itu harus bangun pagi buat sarapan untuk Surya dan juga ibu, itu kan memang tugas seorang istri”
“Ya tidak bisa dong, aku kan habis melayani mas Surya setiap malam jadi ibu harus paham kalo aku capek dan butuh tenaga untuk bisa bangun dan sekarang aku lapar bu”
Dara tak menyangka kalau Fifi akan seterbuka ini masalah dirinya dan Surya.
“Bukannya ibu pengen cepat punya cucu jadi wajar kalau aku harus bekerja ekstra” sambung Fifi
“Ya sudah ibu buatkan sarapan, kamu tunggu dulu”
Dara pun mengalah, memang Dara sangat menantikan kehadiran cucunya.
__ADS_1
“Coba dari tadi kan tidak perlu marah-marah”