
Nita merasa gugup, meski ini bukan pertama kalinya bagi Nita namun Hengki bukan Surya wajarlah Nita merasa gugup ketika satu kamar dengan Hengki yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“Kenapa kamu gugup seperti itu?” tanya Hengki dengan menahan senyumnya
“Ti-tidak aku tidak gugup kok” elak Nita
Hengki mendekati Nita, ia mencium kening Nita kemudian turun dan berlanjut ke adegan selanjutnya (Kalian bisa tebak apa yang akan terjadi selanjutnya hehehe✌️)
Keesokan harinya, Hengki yang sudah menyerahkan semua tugas pada Tino karna ia masih ingin menikmati suasana pengantin barunya dengan Nita.
Aryo juga mengerti jadi ia yang menggantikan Nita meeting hari ini ditemani sekretarisnya. Aryo tak mau membuat Nita kehilangan moment bersama Hengki. Biar mereka menikmati masa-masa indah pengantin baru, karna Aryo, Sinta dan juga Sukma sudah berharap akan ada Hengki atau Nita junior. Jadi mereka tak mau mengganggu agar segera jadi.
“Kamu tidak ke kantor?” tanya Nita sat baru bangun dan ia melihat sudah pukul 8
“Aku sudah menyerahkan semuanya pada Tino jadi aku tidak akan ke kantor untuk menemani kamu dan mengulang adegan semalam” Hengki menaik turunkan alisnya
__ADS_1
Tak terasa hari mulai berlalu, minggu sudah berganti kini Nita sedang mengandung buah hatinya dengan Hengki. Usia kandungan Nita sudah memasuki usia 3 bulan, Nita selalu menjaga kandungannya bahkan sekarang ia tak lagi pergi ke kantornya. Asistennya menggantikan Nita, kadang Aryo yang pergi ke kantor sesekali mengecek perkembangan kantornya.
Hengki juga selalu pulang saat makan siang untuk melihat atau bahkan membawakan makanan yang Nita inginkan.
Nita tak mau kejadian yang pernah dialaminya terulang lagi, meski ia selalu dimanjakan dan tak pernah melakukan sesuatu yang beresiko. Namun kekhawatiran tentu saja ia rasakan, namun Hengki selalu mencoba menenangkan Nita agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang bisa membebankan pikirannya karna takut berimbas pada kandungannya.
“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Hengki
“Saat ini tidak, mungkin nanti iya” jawab Nita
“Iya, kamu hati-hati ya” ucap Nita
Hengki meninggalkan Nita dan pergi ke kantornya.
Sama seperti Hengki dan Nita, Tino dan Wiwik kini mulai tidak sembunyi-sembunyi lagi perihal hubungannya. Mereka terlihat pergi ke kantor bersama, terkadang makan siang bersama. Awalnya mereka tak ingin diketahui tentang hubungan yang mereka jalin, tapi setelah Hengki mengetahuinya lalu menceritakan pada Nita, Wiwik seperti tak perlu lagi menyembunyikan statusnya kini bersama Tino.
__ADS_1
Awalnya Wiwik hanya takut, apalagi Tino adalah atasannya di kantor tapi setelah mendapat pencerahan dari Nita Wiwik mulai biasa dan tak mau memikirkan hal-hal yang belum terjadi.
Kehidupan mereka sangat bahagia, berbeda dengan Surya dan Dara kehidupan yang tak pernah sekalipun mereka bayangkan. Ya, hubungan Surya dan Fifi semakin rumit dan tidak bisa dipertahankan lagi. Namun Fifi mengancam Surya jika dirinya meninggalkan Fifi. Alhasil Surya hanya bisa menikmati hidup yang tak pernah tenang.
Fifi yang terkadang marah-marah, namun juga sangat manja pada Surya jika ada maunya. Apalagi kalau bukan tentang uang. Surya selalu memberikan namun tidak semuanya, tidak seperti dulu. Surya selalu memberikan semua gajinya, tapi sekarang ia hanya memberikan separuhnya. Dan separuhnya untuk dipegang sendiri, Surya tak lupa memberi pada Dara sang ibu yang kini sudah tinggal terpisah dan berjualan untuk mencukupi kehidupannya.
Meski terbilang cukup dan pas untuk membiayai kehidupan sehari-harinya, Dara tak pernah mengeluh ia tak mau terus menerus membuat Surya susah karna harus memikirkan kehidupannya. Dara berjualan kebutuhan pokok, jadi sudah pasti akan ada tetangga yang membelinya karna merupakan kebutuhan sehari-hari.
Dara sudah menyesali semua perbuatannya, ia tak ingin mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Dara juga menyerahkan semua keputusan pada Surya jika ingin berpisah dengan Fifi, tapi Fifi yang mengancam bunuh diri jika Surya menceraikannya. Tentu Surya tak tega, meski bagaimana pun Fifi adalah istrinya teman masa kecilnya. Meski Surya belum mencintai Fifi tapi Surya juga tak mau jika ada seseorang yang kehilangan nyawa karna dirinya meski bukan Surya yang melakukannya.
Orang tua Fifi tidak ikut campur dengan rumah tangga anaknya yang penting bagi mereka adalah Fifi selalu memberikan uang agar Ninik mau pun Rayhan bisa membeli keinginannya meski uang yang diberikan sangatlah tidak memenuhi keinginannya, dari pada mereka harus capek-capek bekerja setidaknya mereka masih bisa mendapatkan uang.
Di masa tuanya, Ninik dan Rayhan tak mau ambil pusing dan hanya ingin menikmati saja. Setidaknya mereka makan dan tak perlu memikirkan hari esok untuk membeli makanan.
Mungkin inilah yang disebut membuang berlian demi sebuah batu kerikil, andai Surya tak berpisah dengan Nita dan Dara bersikap baik padanya pasti kehidupan mereka sudah sangat bahagia dan pastinya kehadiran buah hati mereka menambah kebahagiaan mereka. Tapi sayangnya semuanya sudah terjadi, Nita sudah bahagia dengan kehidupannya sedangkan Surya harus menerima kehidupan yang tak pernah ia inginkan sebelumnya.
__ADS_1
TAMAT