
"Kak mau ngapain?", tanya ku.
"Ambil air minum", jawab kak rizal.
"Ohh, aku duluan kak", kata ku.
"Lin tunggu", kata kak rizal.
"Ada apa?", tanya ku.
"Mmm jangan lupa besok bangun pagi dan bikinin sarapan", jawab kak rizal.
Aku mengangguk saja, ku tinggalkan kak rizal yang masih sibuk di dapur. Aku masuk ke kamar dan akhirnya bisa tidur pulas kembali.
Pagi hari aku bangun dan menyediakan sarapan kita berdua, setelah selesai tadi nya aku mau teriak manggil kak rizal. Tapi kak rizal sudah turun dari atas, syukurlah mungkin dia sudah tidak mau mendengar aku teriak.
"Pagi lin", sapa kak rizal sambil tersenyum.
"Pagi kak", jawab ku.
Keanehan kembali dari sikap nya kak rizal, biasa tidak pernah menyapa ku apalagi tersenyum. Kak rizal dan aku menikmati sarapan pagi dengan penuh warna, terasa hangat hari ini.
"Lin, kakak tunggu di depan", kata kak rizal.
"Ok kak", jawab ku.
Aku ngambil tas dikamar dan segera ke bawah, kita berangkat ke kampus bareng. Sampai di kampus aku ke luar dan pamit untuk duluan masuk.
"Kak, aku duluan", kata ku sambil berlari.
Aku meninggalkan kak rizal yang masih berada di parkiran.
"Pagi", sapa ku.
"Pagi lin", jawab ai.
"Pagi lin", jawab tedy.
"Lin, kenapa senyum senyum sendirian?", tanya ai.
"Gak apa apa", jawab ku sambil tersenyum.
Tiba-tiba kak rayn datang ke kelas ku membuat siswi lain berteriak histeris.
"Pagi lin", sapa kak rayn.
"Pagi kak", jawab ku.
"Ini sarapan buat kamu", kata kak rayn.
"Trimakasih kak", jawab ku.
"Aku pergi ya lin, sampai ketemu nanti", jawab kak rayn.
Aku heran ngapain dia ngasih aku minuman sama makanan.
"Oh jadi ini yang membuat seorang linda tersenyum senyum", ejek ai.
"Lin, lu sudah jadian?", tanya tedy.
"Gak kok, aku juga gak tahu kenapa dia ngasih ini", jawab ku.
"Cie... Cie... Kapan jadian nya lin?", tanya ai.
"Aku gak jadian dan bukan ini yang membuat aku tersenyum senyum", jawab ku.
__ADS_1
"Terus apa?", tanya ai dan tedy kompak.
"Mmmm mau tau aja", jawab ku sambil tersenyum.
Dosen kiler datang, yang tadi suasana bahagia kini menjadi suasana banyak petir nya. Hari ini aku lewati dengan baik baik saja, ya untung lah. Aku belajar dari awal sampai akhir sama dosen kiler itu berjalan dengan baik.
"Lin ke kantin dulu yu, ada 15 menit lumayan", ajak ai.
"Ya sudah ayoo, ted ikut gak?", tanya ku.
"Ya pasti", jawab tedy.
Kita bertiga ke kantin untuk menambah energi, eh kak rayn datang dan duduk disamping ku.
"Lin, boleh aku disini? ", tanya kak rayn.
"Boleh kak", jawab ku.
"Hai ai", sapa kak rayn.
"Hai kak", jawab ai.
"Lin, mau pulang bareng gak?", tanya rayn.
"Aku sama kak rizal, kak", jawab ku.
Kak rizal datang dengan teman nya dan kak cellin, seperti biasa dia duduk berhadapan sama aku meskipun jarak nya terhalang 2 meja. Pemandangan yang membuat aku cemburu kembali lagi, aku berusaha seperti biasa saja gak mau terlihat aneh.
"Ai ke toliet yu anter", kata ku.
"Ayoo", jawab ai.
"Kak, ted, kita duluan ya", kata ku.
"Ya lin", jawab rayn.
"Lin, lu kenapa?", tanya ai.
"Aku sebel sama kak rizal kata nya gak suka sama kak cellin tapi tiap hari bersama terus", jawab ku.
"Lu cemburu?", tanya ai.
"Gak, cuman gak suka aja", jawab ku.
"Lin, lu suka sama siapa sih?", tanya ai.
"Akuu... Ntah lah", jawab ku.
"Kak rayn pernah gak mengatakan cinta nya?", tanya ai.
"Kemarin di taman", jawab ku.
"Terus di terima gak?", tanya ai.
"Gak, ai", jawab ku.
"Berarti lu gak punya perasaan sama kak rayn tapi lu punya perasaan sama kakak lu", jawab ai.
"Tapi dia kakak ku ai, gak mungkin aku suka", jawab ku.
"Lin, meskipun itu kakak lu. Tapi dia kan kakak tiri, lu sah sah aja nikah sama dia", kata ai.
"Mmm sudah lah pusing, yu masuk 5 menit lagi", jawab ku.
"Ya dosen nya kan kak rizal jadi semangat", kata ai sambil tertawa.
__ADS_1
Kita berdua menuju ke kelas.
"Kalian di toilet lama banget", kata tedy.
"Ted, menurut lu boleh gak kita suka sama kakak tiri?", tanya ai.
Aku menutup mulut nya ai.
"Lin, lu serius?", tanya tedy.
"Ted, lupakan lah", jawab ku.
Untung dosen kak Rizal datang jadi tidak memperpanjang waktu si ai berbicara yang tidak tidak. Hati ku masih terselimut cemburu jadi nya dalam perjalanan pelajaran kak rizal, aku tidak terlalu suka. Expressi ku biasanya bahagia tapi kali ini tersenyum pun aku tidak mau, selesai kelas kita membereskan tas untuk pulang. Ku rasa kak rizal masih menatapku tajam.
"Lin, kita duluan ya", kata ai dan tedy.
"Ok hati hati", jawab ku.
Kak rizal mendekati ku, dia menyentuh wajah ku.
"Lin, kamu sakit?", tanya kak rizal.
"Gak kak", jawab ku.
"Gak panas sih", kata rizal.
"Kak, aku tunggu diparkiran ya", kata ku.
Aku ke luar dan meninggalkan kak rizal yang masih ada di dalam kelas.
"Dasar kutub utara, lu yang membuat hari ini gelap", guman ku.
Sampai diparkiran, aku menunggu kak rizal dan tak lama kak rizal datang.
"Masuk dik", kata kak rizal.
Aku mengangguk dan masih tidak memberikan expressi bahagia, selama perjalanan aku diam tanpa ada kata apapun.
"Dik mau makan apa?", tanya kak rizal.
"Mau yang pedas", jawab ku.
"Ok nanti kakak pesan kan", jawab kak rizal.
Sampai di apartemen aku masuk ke kamar dan mandi, aku sengaja berendam dulu. Setelah selesai aku berdandan dan ganti baju, aku ke luar tapi ku lihat ada kak cellin duduk sama kak rizal. Aku masuk lagi ke kamar, meskipun tadi kak rizal sudah tahu kalau aku membukakan pintu kamar.
Tokk tokkk tokkk.
"Dik, cepat makan", kata kak rizal.
Aku ke luar dari kamar.
"Ya kak", jawab ku.
Aku mengekor kak rizal dari belakang.
"Hai lin", sapa kak cellin.
"Hai kak", jawab ku sambil tersenyum terpaksa.
"Ini pesanan mu dik", kata kak rizal sambil memberikan sekotak makanan.
"Tadi kakak mu yang pesan ini, jadi aku bawain", kata kak cellin.
"Oh trima kasih kak", jawab ku.
__ADS_1
Aku makan dan terasa dongkol di hati, jadi ini yang di maksud pesan itu. Sengaja nyuruh kak cellin beli, mau ada perang sama aku ternyata. Aku siap meladeni kak rizal, akan aku buat dia pun merasakan kecemburuan ini.