
Aku ke luar dari kamar dan menuju ke dapur, aku mengambil air dari lemari es. Tiba tiba dari arah belakang ada yang memelukku.
"Awww", teriak ku kaget.
Aku balik badan ternyata kak rizal.
"Kak kenapa ngagetin sih", kata ku.
"Aku juga haus sayang", jawab kak rizal.
Aku minum dan ternyata gelas ku di lepas, air minum masih belum aku telan. Kak Rizal langsung mencium bibir ku, air minum berpindah ke mulut nya kak rizal. Mata ku masih terbelalak karena ulah nya kak rizal, aku melepaskan ciuman itu.
"Kata nya haus", kata ku sambil malu malu.
"Tadi kan kakak minum dari mulut mu sayang", kata Rizal.
"Dasar mesum", jawab ku sambil mencubit pinggang nya.
Aku pergi ke kamar ku dan tidur kembali. Pagi ini aku dan kak rizal pergi ke rumah ibu, dalam perjalanan yang lumayan jauh juga. Dulu ketika pulang ke rumah dengan status adik kakak ,tapi kali ini dengan status sepasang kekasih yang membuat ku canggung.
" Sayang tidur kalau masih ngantuk mah", kata kak rizal.
"Gak kak, aku mau nemenin pacar ku", jawab ku.
Tangan kak Rizal menyentuh lembut kepala ku. Setelah beberapa jam perjalanan akhir nya sampai juga di rumah ibu, kita di sambut ibu dan adik Rifky.
"Ibu ,aku kangen", kata ku sambil memeluk ibu.
"Sama ibu juga kangen kalian", jawab ibu.
"Bu apa kabar?", tanya kak rizal.
"Baik nak, masuk yu", ajak ibu.
Tiba tiba Rifky ke luar dan mau memeluk ku tapi dengan sigap di hadang sama kak Rizal.
"Eitzzz", kata kak rizal sambil memeluk Rifky.
"Kak lepasin aku,aku mau peluk kak Linda", protes Rifky.
"Masa sama kakak sendiri gak mau dipeluk", jawab kak rizal.
Kak Rizal melepaskan pelukkan nya.
"Kak Linda apa kabar?", tanya Rifky.
"Baik, Rifky sendiri?", tanya ku.
"Baik kak", jawab Rifky.
Kita masuk ke dalam rumah.
"Makan dulu yu, ibu sudah masak buat kalian", kata ibu.
"Ya Bu", jawab ku.
Kita makan dulu , ada rasa gak nyaman ketika kak Rizal terus memandangi ku. Selesai makan, aku masuk ke kamar untuk membereskan baju dan kak Rizal masuk ke kamar nya Rifky.
Ibu dan Rifky membereskan bekas makan tadi kita, aku ke luar dari kamar dengan berbarengan sama kak Rizal.
__ADS_1
"Sayang aku kangen", kata kak rizal.
Kak Rizal memeluk ku.
"Kak lepas nanti ibu tau", kata ku.
Kak Rizal melepaskan pelukkan ku, aku dan kak Rizal berjalan ke ruangan keluarga dan ternyata Rifky sudah disana.
"Ibu mana dik ?", tanya ku.
"Ke toko sebentar kak", jawab Rifky.
"Kak, kita jalan jalan yu", Rifky mendekati aku.
Eh Rizal menyusul nya.
"Ikh dari tadi kak Rizal kaya yang cemburu aja aku dekat sama kak Linda", kata Rifky.
"Ya lah cemburu, masa adik sendiri gak sayang sama kakak nya", kata kak rizal.
"Kak Lin, kak Rizal di kasih makan apa? kok kaya kucing ,dulu kan kaya beruang kutub dingin", celetuk Rifky.
Aku tertawa saja, ibu datang dari tokok nya.
"Ky, tolong ibu jagain toko. Ibu mau nemenin kakak mu", kata ibu.
"Baik Bu", jawab Rifky.
Rifky pergi ke toko, aku dan kak Rizal saling pandang ntah harus dari mana ngobrol sama ibu.
"Kata nya lagi sibuk, apa sekarang sudah selesai?", tanya ibu.
"Syukurlah ", jawab ibu.
"Bu, kita ke sini ada sesuatu yang ingin di sampaikan sama ibu", akhirnya Rizal bicara.
"Apa serius banget?", tanya ibu.
"Bu, kita berdua sudah pacaran dan berniat untuk menikah, apakah ibu setuju?", tanya Rizal.
"Apa kalian pacaran", ulang ibu.
"Ya Bu", jawab ku.
Ibu terdiam sejenak, aku dan kak Rizal menunggu keputusan dari ibu.
"Memang kalian gak ada darah saudara atau kak beradik satu darah, tapi ini begitu cepat ibu hampir kaget", jawab ibu.
"Maaf Bu, semenjak kita bersama bukan cinta adik kakak yang tumbuh tapi rasa ingin memiliki", jawab Rizal.
"Ibu mau masuk dulu ke kamar", jawab ibu.
Ibu masuk ke kamar nya.
"Kak, Linda yang coba bicara ya", kata Ku.
"Ya sayang", jawab Rizal.
Aku pergi ke kamar ibu.
__ADS_1
"Bu, aku masuk ya", kata ku.
Ibu duduk di tempat tidur sambil memandangi foto alm. ayah nya Rizal.
"Bu, maaf jangan marah", kata ku.
"Ibu gak marah dan kalian gak salah, ini cuman waktu yang begitu cepat membuat ibu kaget", jawab ibu.
"Kita saling suka Bu", kata ku.
"Biar ibu menenangkan diri dulu", jawab ibu.
Aku ke luar dari kamar ibu, kak Rizal masih menunggu ku di kursi.
"Gimana sayang?", tanya kak Rizal.
"Masih belum kak", jawab ku.
"Sabar ya", kata Rizal.
Aku bersandar di bahu nya, rasa nyaman jika bersandar di bahu kak Rizal itu. Sore hari ibu masih diam ketika kita makan, ini terasa kaku buat ku. Kita bertiga di ruang keluarga sedangkan ibu sudah masuk kamar.
"Kak, ibu kenapa?", tanya Rifky.
"Ibu lagi gak enak badan", jawab ku.
Aku kembali menemui ibu dan ternyata ibu sudah tidur.
"Bu,maaf jika ini membuat ibu sakit. Tapi aku juga sayang sama kak Rizal", kata ku sambil mengelus lembut ibu.
Aku tertidur di samping ibu, karena terbiasa kalau tengah malam aku bangun dan minum. Eh kak Rizal pun sama, kita berpapasan di dapur.
"Sayang aku rindu", kata Rizal sambil mencium bibir ku.
"Kak, sudah terbiasa deh kalau ketemu selalu aja cari kesempatan", protes ku.
"Habis nya bibir kamu manis", kata Rizal.
Aku pergi meninggalkan kak Rizal, aku kembali tidur. Pagi nya aku pamit sama ibu dan Rifky mau balik lagi ke kota, ibu tersenyum walau aku tau ibu belum merestui hubungan aku sama kak Rizal.
Dalam perjalanan kembali ke kota, kita masih belum mengantongi restu ibu.
"Sayang nanti kita coba kembali ya", kata Rizal.
"Ya sayang", jawab ku.
"Hah apa?", ledek Rizal.
"Sayang", jawab ku.
"Gituh dong panggilan nya sayang", kata kak rizal.
Dalam perjalanan aku tertidur dan tidak tahu kapan sampai nya, ketika aku buka mata aku sudah ada di kamar apartemen. Aku bangun dan aku keluar, tapi tidak ada kak Rizal.
Aku ke atas dan masuk ke kamar kak Rizal, kak Rizal habis mandi lagi di baju dengan keadaan telanjang bulat.
"Awww kak pakai dulu", teriak ku.
"Siapa suruh ke sini gak ngetuk pintu", jawab kak Rizal.
__ADS_1
"Aku kira kak Rizal lagi tidur juga", jawab ku.