
Nafas Violet masih tersengal dengan tubuh yang jatuh pada dada bidang Noah sementara Noah sendiri masih menikmati sisa-sisa percintaan yang mereka berdua lakukan sebelumnya. Dimana dengan segala ancamannya Violet berusaha belajar memuaskannya.
Noah menciumi pundak Violet yang membuat gadis itu menggeliat, dia ingin menjauh dari pangkuan Noah tapi ditahan oleh lelaki itu.
“Mau kemana? Bukankah kau ingin melakukan permainanmu?“ tanya Noah dengan menahan pinggang Violet.
“Aku lelah, mau tidur!“ sahut Violet dengan suara parau menahan kantuknya.
Noah akhirnya melepas Violet, gadis itu membaringkan tubuhnya menyamping membelakanginya.
Tak lama nafas Violet sudah teratur, gadis itu sudah terlelap membuat Noah menaikkan selimut supaya menutupi tubuh telanjang Violet.
Noah melirik baju Violet yang dia sobek sebelumnya lalu dia turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya sejenak.
Setelah selesai mandi, Noah yang sudah rapi segera menemui ibu angkatnya untuk meminta baju.
“Mom__“ panggil Noah.
__ADS_1
“I'm here.“ suara itu terdengar dari arah dapur di mana wanita berumur 40 tahunan sibuk memasak.
Yara istri dari Wilson, walaupun usianya sudah berkepala empat tapi masih kelihatan muda dari usianya.
“Apa aku bisa pinjam baju?“ tanya Noah mendekati Yara di dapur.
Yara memicingkan mata menatap anak angkat yang sudah dia anggap anak kandung itu.
“Aku mendapat laporan dari bodyguard jika kau memaksa seorang gadis kemari!“ ucapnya.
“Dia hanya wanita keras kepala! Aku merobek bajunya jadi dia tidak punya baju sekarang!“ jelas Noah dengan santainya.
Noah mendekati Yara dengan mencium pipinya. “Aku akan menemui daddy dulu, tolong urus wanita itu satu jam lagi. Dia masih kelelahan!“
“Kau harus belajar dari daddy mu cara memperlakukan wanita! Mereka bukan alat pemuas nafsu, mereka juga butuh kasih sayang!“ ucap Yara yang tidak setuju dengan ide gila dari Noah. Tentu saja dia tahu jika Violet dijadikan alat balas dendam oleh anaknya itu.
Tapi sepertinya nasehatnya percuma karena Noah pergi begitu saja tanpa menanggapi nasehatnya.
__ADS_1
Selesai memasak, Yara pergi ke kamarnya dan memilih baju yang cocok untuk Violet kenakan nantinya.
Walaupun hidupnya di pulau terpencil tapi semua kebutuhannya dipenuhi oleh Wilson. Yara memang memilih tinggal di pulau itu untuk mencari keamanan dari musuh-musuh Wilson karena ada kejadian tragis 22 tahun lalu yang masih membekas di hatinya.
Saat Yara mendatangi Violet di kamarnya ternyata gadis itu sedang mandi, Yara duduk menunggu Violet keluar kamar mandi dengan sabar.
Violet yang selesai mandi keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, gadis itu kaget melihat ada Yara di sana.
“Anda siapa?“ tanya Violet sesopan mungkin.
Sementara Yara hanya mematung di tempat duduknya, ada perasaan aneh saat melihat Violet. Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja, dia tidak bisa berkata-kata karena tenggorokannya seperti tercekat.
Melihat itu, Violet semakin kebingungan. Dia mendekati Yara dan berusaha mengusap air mata Yara dengan tangannya.
“Aunty tidak apa-apa?“ tanya Violet.
Yara hanya mengangguk dan langsung memeluk Violet. Dia kembali teringat bayi perempuannya yang hilang 22 tahun lalu. Pasti jika sudah besar akan sebesar Violet sekarang.
__ADS_1
Violet yang bingung akhirnya membalas pelukan Yara, dia membayangkan jika Yara adalah ibunya yang selama ini tidak memperhatikannya.
“Jadi begini pelukan seorang ibu,“ batin Violet pilu yang kekurangan kasih sayang orangtuanya.