
"Tempat ini akan meledak, Baby! Kita harus cepat pergi dari sini!" ucap Noah sambil mengikat perut Violet dengan kencang menggunakan kain supaya darah di punggung gadis itu berhenti mengalir.
"Jangan kencang-kencang!" cegah Vio karena dia takut terjadi apa-apa dengan janinnya.
Noah langsung teringat kalau Violet saat ini tengah hamil, sontak dia sedikit melonggarkan ikatannya.
"Jika kau tidak menginginkan bayiku, aku akan mengurusnya sendiri! Jangan menyuruhku untuk menggugurkannya!" ucap Violet dengan bibir bergetar menatap mayat-mayat yang ada di depannya. Dia berpikir bayinya akan bernasib sama dengan mereka.
Noah sebenarnya marah mendengar perkataan Violet tapi bukan saatnya berdebat. Noah menggendong Violet di punggungnya dan segera keluar dari sana tapi sebelum dia melangkah, Noah berkata. "Tanganku memang kotor, tidak terhitung lagi berapa nyawa yang melayang karenanya! Tapi kau harus mengingat satu hal, Baby! Aku tidak akan pernah membunuh darah dagingku sendiri!"
Mendengar itu, Violet mengulum senyumnya. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Noah yang sudah bergerak keluar dari ruangan mereka berada.
Noah masuk ke dalam lift dan memencet lantai dasar sebagai tujuannya saat ini. Tapi baru saja lift bergerak turun, tiba-tiba terdengar suara dentuman.
"Noah!" panggil Violet merasa ketakutan.
Belum hilang rasa terkejutnya lagi-lagi dia harus menghadapi situasi yang genting.
"Bomnya pasti sudah mulai meledak!" sahut Noah sambil berusaha memasang chipnya supaya bisa terhubung dengan Ruzel. "Tenang, Baby! Kita pasti akan selamat!"
Violet semakin mengeratkan pelukannya pada Noah, sedetik kemudian lift berhenti bergerak bersamaan dengan Noah yang berhasil terhubung dengan Ruzel.
__ADS_1
"Ruzel!" panggil Noah.
Ruzel akhirnya ikut menyusul ke gedung Bill Company tapi saat kakinya turun dari mobil van yang dia tumpangi, tempat itu sudah dikepung oleh polisi. Untuk itu dia menarik anak buahnya untuk menjauh.
"Bisakah kalian ke atap? Di bawah sudah tidak aman!" jelas Ruzel dibalik chip.
Noah berdecak sebal, akhirnya dia menurunkan Violet dari gendongannya. Selanjutnya dia akan menjangkau atap lift supaya bisa keluar dari lift tersebut.
"Vio, naik ke pundakku dan kau buka pintu atap lift!" perintah Noah dengan gusar.
"Tapi..."
"Cepatlah!"
"Sedikit lagi!" ucap Violet saat tangannya sudah hampir sampai.
Noah mengerahkan seluruh energinya sampai Violet berhasil menjangkau atap lift dan membukanya.
"Noah, ini berat!" keluh Violet yang sekuat tenaga menggeser atap lift tapi pintu itu tidak mau terbuka juga.
"Kau pasti bisa, Baby!" Noah berusaha menyemangati sampai dentuman terdengar lagi yang membuat lift bergerak.
__ADS_1
Bruk!
Violet dan Noah akhirnya terjatuh, gadis itu meringis karena sekarang rasa sakitnya bertambah.
"Vio!" Noah membantu Violet terbangun setelah dirinya sudah berhasil mendudukkan diri.
"Kita tidak akan bisa keluar, Noah! Sebentar lagi gedung ini akan hancur!" ucap Violet mulai putus asa. "Aku sudah tidak tahan lagi!"
"Hei, wake up, Baby!" Noah menepuk pipi Violet supaya sadar.
Violet menatap Noah dengan lekat dan mengingat kata-kata Noah sebelum dia menembak lelaki itu sebelumnya.
"Apa maksud perkataanmu, Noah? Kau selalu merindukanku dan memikirkanku?" tanya Violet kemudian.
Noah mengangguk. "I love you, Vio!"
Setelah berkata seperti itu Noah mencium bibir Violet, gadis itu memejamkan matanya tanpa membalas ciuman Noah.
"What happen? Don't you love me?" tanya Noah dengan melepas ciumannya.
Violet meraba dada Noah yang sebelumnya dia tembak, dia mau mengakui sesuatu setidaknya sebelum dia mati. "Kau tahu arti tiga tembakan yang aku berikan?"
__ADS_1
"Tiga tembakan di dadamu artinya I love you!"