
Teng!
Salah satu anak buah Raul membunyikan lonceng pertandingan. Dan teriakan dari para bawahan Raul juga memenuhi ruangan itu.
Sebelum menyerang Raul memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri sebagai pemanasan.
"Pastikan kau memenuhi janjimu, Raul!" ucap Wilson menuntut.
Raul terkekeh renyah. "Kita lihat saja nanti!"
Setelah berkata seperti itu tanpa ba bi bu lagi, Raul langsung menyerang Wilson. Dia akan mengerahkan seluruh kemampuan bela diri yang dia pelajari selama ini.
Bug! Bug!
Pukulan demi pukulan Raul layangkan pada Wilson sementara Wilson sendiri berusaha menahan serangan Raul. Sebenarnya dia bisa saja membalas tapi bukan saatnya karena Wilson ingin Raul menghabiskan tenaganya terlebih dahulu, barulah dia akan menyerang.
"Hahaha! Mati kau!" Raul terus memukuli Wilson sampai keringatnya bercucuran membasahi pelipisnya.
Yara hanya berteriak memanggil suaminya karena Wilson tidak melakukan perlawanan.
"Come on, Will!" teriak Yara.
Di saat Yara berteriak di saat itulah Raul memberikan pukulan terakhirnya sampai membuat Wilson jatuh terkapar.
__ADS_1
"Oh, No!" Yara semakin berteriak histeris dengan kedua tangan berada di mulutnya.
Raul menginjakkan kakinya di punggung Wilson dengan menyeringai. "Semakin tua ternyata kau jadi seorang pecundang, Mr. Brown!"
"Seperti katamu!" balas Wilson dengan tangan memegang kaki Raul dan dengan cepat lelaki itu berdiri sembari membanting tubuh Raul.
Wilson tidak akan memberi kesempatan Raul untuk membalas kali ini, dia mengunci pergerakan Raul dan menyerangnya bertubi-tubi.
Para bawahan Raul tidak bisa berbuat apa-apa karena sebelumnya sudah ada peringatan dari bosnya bahwa apapun yang terjadi, mereka tidak boleh membantu.
Tapi bukan Raul namanya kalau dia tidak licik, dia mengeluarkan alat penyantera yang ada di kantong celana boxernya lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Wilson yang melihat itu, menghentikan pukulannya dan mengerutkan dahinya dalam. Dia tahu itu bukan alat pemicu tapi sebuah alat penyantera jarak jauh.
"Apa kali ini rencana licikmu?" geram Wilson dengan nafas naik turun. Kakinya menginjak leher Raul, jika dia menekan kuat saja pasti lawannya itu akan mati.
"Sekali tekan maka anakmu akan mati!" ucap Raul singkat jelas padat.
Wilson memikirkan arti dari perkataan Raul tersebut, bisa disimpulkan kalau alat pemicu itu tidak ada di sini melainkan bersama Vector yang berada di gedung Bill Company.
Alat penyantera pasti kode untuk membuat pemegang pemicu meledakkan target.
"Ucapkan selamat tinggal pada putrimu!" tambah Raul dengan memencet alat penyanteranya.
__ADS_1
Tit! Tit! Tit!
Terdengar suara alat penyantera di dalam saku celana Lius, satu tangannya masih memegang pistol dan mengarahkan ke kepala Violet.
Lius tersenyum miring sambil merogoh pemicu di saku jasnya yang sebelumnya dia ambil dari mayat Vector.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Violet dengan bergetar.
Lius memundurkan badannya. "Say goodbye, Vio!"
Bersamaan dengan itu, tangan Noah mengambil microbom yang sudah terlihat, Violet menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang luar biasa.
Di detik Lius memencet tombol pemicu di detik itu juga Noah melempar microbom ke arah Lius sendiri.
Dor!
Crashhh....
Tubuh Lius hancur dan dagingnya menyebar di ruangan itu.
Dengan cepat Noah mengambil senjatanya dan menembaki anak buah Vector yang tersisa.
Seketika ruangan itu penuh dengan lautan mayat yang membuat Violet berteriak.
__ADS_1
"Ini gila!" pekik Violet yang langsung mual seketika.
Noah hanya terkekeh dengan memeluk Violet supaya tenang. "Welcome to mafia world!"