
Karena sebelumnya Violet tidak membawa apapun jadi dia hanya membawa dirinya yang sudah tampak segar dan cantik saat keluar kamar.
Kalau biasanya orang akan senang saat dirinya bebas dari penculikan tapi lain dengan Violet yang perasaannya campur aduk.
Di luar mansion, Noah tampak membicarakan hal serius bersama Ruzel dan anak buahnya.
Saat melihat Violet datang, lelaki itu langsung membalik badannya dan mendekati Violet dengan tangan yang memeriksa perban dileher wanita itu.
“Lukanya pasti akan cepat sembuh!“ ucapnya.
Violet menatap Noah dengan lekat dan bertanya. “Apa aku akan bebas?“
“Hm, bukankah itu yang kau inginkan!“ jawab Noah.
Lalu Noah memeluk Violet, lelaki itu memejamkan matanya merasakan sesak di dadanya. Dia tahu perasaan asing yang saat ini bergelayut di dadanya, dia harus melepas Violet sebelum perasaan itu semakin dalam.
Sebelumnya, Yara juga telah menghubunginya dengan amarah luar biasa. Jika saja Noah tidak melibatkan Violet pasti gadis itu tidak akan mengalami hal malang.
“Maafkan aku Vio, seharusnya aku tidak pernah melibatkan mu! Sekarang, kau harus mengalami banyak hal buruk, kau hanya gadis manis yang tidak bersalah!“ ucap Noah yang masih memeluk Violet.
Noah minta maaf padanya?
Violet bertanya-tanya dalam hatinya, perasaan Violet semakin tidak karuan. Dia tidak mampu berucap hanya air mata yang mengungkapkan perasaannya saat ini.
__ADS_1
Noah mengusap pipi Violet dengan melepas pelukannya. “Pulanglah, Vio!“
“Aku sudah membeli apartemen yang dijual asistenmu! Aku sudah membereskan dia, semua hartamu sudah kembali,“
“Kau tidak jadi miskin, Vio. Jadi, aku menutup pelajaran miskin!“
Violet ingin tertawa lepas mendengar perkataan Noah tapi dia tidak sanggup mengeluarkan suara.
Sampai Violet masuk ke dalam mobil dan Noah yang terus menatap mobil yang mengantar Violet pulang itu menghilang dari pandangannya.
“Tetap awasi Vio!“ perintah Noah pada Ruzel karena dia tidak ingin Jonas akan mencari kesempatan lagi untuk mencelakai Violet.
Violet tidak kembali ke apartemennya melainkan dia pulang ke mansion orangtuanya. Dia berharap orangtuanya akan memberikan pelukan hangat yang sangat dia butuhkan sekarang.
“Nona Vio!“ panggil pelayan yang melihat Violet memasuki pekarangan mansion.
Pelayan itu langsung membantu Violet berjalan karena melihat nona mudanya berjalan dengan terhuyung.
“Dimana mommy dan daddy?“ tanya Violet lemah.
“Ada di dalam, Nona!“
__ADS_1
“Dan kak Vector?“
“Tuan Vector tidak pernah berkunjung kemari lagi, kami mendapat laporan jika tuan Vector sedang setres berat!“
Violet sepertinya tidak terkejut karena sudah tahu jika Noah yang membuat kakaknya begitu.
Saat Violet masuk ke dalam mansion bukan pelukan hangat yang Violet dapatkan justru tatapan tajam dari James yang seolah menyalahkan Violet atas apa yang terjadi.
“Dad!“ panggil Violet mendekati daddynya.
Violet memeluk James tapi lelaki paruh baya itu tidak membalas pelukannya.
“Sudah daddy katakan 'kan jika kau harus punya bodyguard. Lihatlah sekarang!“ ucapnya gusar.
“Dad, aku juga tidak mau hal seperti ini terjadi!“ sahut Violet mengiba.
“Ini karena kecerobohanmu, kakakmu Vector juga sama! Kalian berdua anak-anak pembawa sial!“ ucap James yang membuat Violet memundurkan badannya tidak menyangka jika daddy-nya akan tega berkata seperti itu.
Air mata semakin deras membasahi pipi Violet, dia tidak ingin menemui mommy-nya karena pasti perlakuannya tidak jauh berbeda dari daddy-nya.
Akhirnya Violet memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Di apartemen itu sepi, hanya Violet seorang diri yang merenungi nasibnya.
Dia menangis sejadi-jadinya di kamarnya. “Kau memintaku untuk pulang tapi aku tidak punya tempat untuk pulang, Noah!“
__ADS_1