
Helicopter Noah mendarat di Pulau Biru, bertepatan dengan itu Wilson berada di markasnya yang berada di sana dengan mengumpulkan anak buahnya.
“Aku akan ke markas, kau lebih baik temui mommy-mu!“ ucap Ruzel yang diangguki oleh Noah.
Noah masuk ke dalam rumah besar orang tua angkatnya untuk mencari Yara.
Ternyata Yara tengah memasak di dapur membuat Noah bernafas lega melihat mommy-nya baik-baik saja.
“Mom!“ panggilnya.
Yara yang tengah mengadon kue mengalihkan fokusnya pada Noah yang mendekat padanya.
“Kau datang? Daddy-mu yang meminta kemari?“ tanyanya kemudian.
“Iya tapi Ruzel yang mendatangi daddy! Apa mommy baik-baik saja?“ tanya Noah khawatir.
“Ledakan itu terjadi cukup jauh jadi kau tidak perlu khawatir. Daddy-mu sudah menyelidiki semuanya!“
Yara kembali mengadon kuenya dan dirinya terkejut saat Noah memeluknya dari belakang.
“Astaga! Kenapa ini?“ Yara panik karena Noah yang biasanya tidak pernah melakukan itu.
Bukan tanpa alasan lelaki itu melakukannya karena Noah khawatir Yara dan Wilson akan berbalik membencinya jika memang terbukti Violet adalah putri kandung mereka. Untuk itu, diam-diam Noah mencabut beberapa helai rambut Yara supaya dia bisa melakukan tes DNA.
“Apa kau sedang merindukan, Vio?“ tanya Yara menggoda.
__ADS_1
Noah berdehem. “Dia hanya wanita keras kepala, untuk apa aku merindukannya!“
“Benarkah? Aku tidak yakin.“ Yara membalik badannya supaya bisa melihat wajah Noah. “Terima kasih untuk tidak membunuh Jonas!“
“Cih, bedebah gila itu seharusnya masuk rumah sakit jiwa!“ geram Noah tidak suka.
“Beri dia kesempatan sekali lagi!“ pinta Yara yang ingin keluarganya utuh.
“Satu kali saja!“ balas Noah penuh penekanan.
Ruzel yang berada di markas Wilson kesulitan mendapat rambut dari bosnya itu. Kalau dia memaksa, Ruzel takut jika Wilson akan curiga. Sepertinya rambut Yara saja sudah cukup.
Untuk itu, dia memberi kode pada Noah supaya keluar dari Pulau Biru agar bisa melakukan tes DNA dengan cepat.
“Jadi daddy sudah bersiap dengan segala ancaman!“ balas Noah yang merasa akan terjadi sesuatu hal besar. “Hubungi Sarah untuk mengumpulkan rambut Vio dari sisir yang dipakainya!“
“Dan hubungi dokter Antonio! Aku ingin hasil tesnya dengan cepat!“
Violet merasa gelisah setelah mengetahui jika dirinya tengah hamil. Apa yang harus dia perbuat sekarang?
Dia tidak mungkin meminta pertanggung jawaban dari Noah bukan?
“Pasti monster itu akan menggugurkan bayiku!“ gumam Violet dengan memegang perut ratanya.
__ADS_1
Belajar dari pengalaman hidupnya, Violet tidak mau menyia-nyiakan anaknya.
“All is well, Vio! Kau pasti bisa melewati semuanya dan menjadi hot mother untuk anakmu!“ Violet berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Saat Violet masih bergelayut dengan pikirannya, ternyata Vector datang menemuinya dengan membawa pizza.
“Vio!“ panggil Vector di depan pintu.
Violet yang mendengar suara kakaknya bergegas membuka pintu rumahnya.
“Pizza!“ pekik Violet langsung menyambar pizza dari tangan Vector.
Dengan tidak sabaran Violet memakan pizza itu yang mana membuat Vector terkekeh karena tidak menyangka hidup Violet berubah drastis sekarang. Dulu Violet sangat menjaga apapun yang masuk dalam tubuhnya.
“Pelan-pelan, Vio!“ tegur Vector.
Pada saat itu topping dari pizza jatuh ke dada Violet, gadis itu mengusap-ngusap bajunya yang tanpa sengaja memperlihatkan belahan dadanya.
Kalau dulu Vector akan biasa saja melihatnya, tapi sekarang?
“Vio!“ panggil Vector. “Bersihkan tubuhmu, kau sangat bau!“
“Benarkah?“
“Hm, mandilah dan jangan kunci kamarmu!“
__ADS_1