
Dokter Antonio kembali ke Pulau Biru dengan membawa dokter kandungan sesuai perintah Wilson sebelumnya.
"Usia kandungan memasuki usia 6 minggu," ucap dokter itu yang membuat Violet bernafas lega. Setidaknya janinnya baik-baik saja dan terus tumbuh.
Dokter itu memberikan vitamin dan penguat kandungan yang harus Violet minum. Sebenarnya dia juga terkejut pasien yang ditanganinya adalah Violet Bill, model yang rumornya hilang bagai ditelan bumi. Dan ternyata sekarang gadis itu berada di Pulau terpencil.
"Nona, apakah saya bisa meminta tanda tangan?" tanya Dokter laki-laki itu yang selama ini menjadi fans Violet.
"Boleh," balas Violet menerima kertas dan pulpen yang diberikan dokter itu padanya.
Tapi tiba-tiba kertas itu direbut oleh Noah, Noah merobek kertasnya dan melemparkan ke wajah sang dokter.
"Beraninya kau meminta tanda tangan calon istriku!" geramnya. Atensinya beralih pada dokter Antonio. "Jangan pernah kau bawa dokter cabul ini kemari lagi!"
Dokter Antonio bergegas membawa rekannya itu untuk pergi karena takut Noah akan bertindak lebih gila lagi.
"Dan katakan padanya jika dia membicarakan apa yang dia lihat di pulau ini, siap-siap mulutnya akan kurobek!" tambah Noah yang membuat dokter itu takut setengah mati.
"Ma-- maafkan saya, Tuan," ucapnya dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Violet hanya bisa memutar bola matanya malas melihat tindakan Noah yang berlebihan itu.
"Aku sedang hamil, setidaknya jangan mengatakan hal kejam begitu saat ada aku!" protes Violet yang jadi mual, apalagi bayangan lautan manusia mati masih sering terlintas dipikirannya.
"Apa kau baik-baik saja, Baby?" tanya Noah cemas karena Violet seperti menahan sesuatu.
Violet memberi kode supaya Noah menggendongnya dan tangannya menunjuk kamar mandi. Noah cepat tanggap, dia segera menggendong gadis itu ke kamar mandi dan di sana Violet muntah-muntah.
"Huek!" muntahan terakhir yang membuat tubuhnya melemah.
Noah menggendong tubuh Violet untuk kembali berbaring di atas ranjang. Bersamaan dengan itu Yara datang ke kamar dengan membawa semangkok bubur.
"Iya, semua itu karena Noah!" balas Violet sambil melirik ke arah Noah dengan sebal.
"Aku?" Noah menunjuk dirinya sendiri memakai jari telunjuknya di dadanya. "Apa salahku, Baby?"
"Bisakah kau tidak membunuh orang saat aku masih hamil dan jangan melakukan misi apapun!" pinta Violet yang benar-benar tidak ingin melihat kekerasan atau luka di wajah atau tubuh Noah.
Yara juga ikut menatap Noah di sana. "Turuti saja, wanita hamil memang begitu. Sekarang suapi calon istrimu!"
__ADS_1
Mau tidak mau Noah harus menurut, dia mengambil mangkok bubur dari tangan Yara dan mencoba menyuapi Violet.
"Buka mulutmu, Baby!" ucap Noah dengan nada sehalus mungkin.
"Aku tidak mau, kau hanya akting baik, 'kan?" tolak Violet dengan memalingkan wajahnya.
Sumpah demi apapun, Violet jadi begitu menyebalkan. Tapi Noah berusaha sesabar mungkin.
"Setelah bayi itu lahir, aku akan memakai pengaman setiap melakukannya. Aku tidak mau, kau hamil lagi!" ungkap Noah yang hanya ingin memiliki satu anak saja.
"Aku hamil karena kau memperkosaku berkali-kali, apa kau lupa?" Violet menaikkan nada bicaranya yang membuat Noah terpancing juga.
Noah mengarahkan satu sendok penuh bubur ke mulut Violet dengan satu tangan kirinya yang mencengkram pipi gadis itu.
"Buka mulutmu untuk makan bubur ini, okay! Jika kau berani bersuara lagi, aku akan menyumpal mulutmu dengan..." Noah mengarahkan pandangannya ke banana perkasanya.
Mata Violet membulat, dia langsung menerima suapan itu tanpa suara.
"Gadis pintar!" ucap Noah sambil mengusap rambut Violet. "Besok-besok, berteriaklah saat berbicara denganku agar aku bisa merasakan enak!"
__ADS_1