
Pulau Biru
"Bagaimana keadaan, Vio?" tanya Wilson pada Ruzel saat baru sampai ke pulau pribadinya.
Ruzel menyambut kedatangan Wilson saat helicopter yang membawa bosnya itu mendarat di Pulau Biru. Yara dengan setia berada di sisi Wilson sementara Noah tidak ikut bersama mereka karena lelaki itu harus kembali ke markas.
"Dokter Antonio sedang merawat nona Vio, Bos!" jawab Ruzel.
Tidak puas dengan jawaban Ruzel, Wilson dan Yara ingin memeriksa keadaan putri mereka. Saat mereka masuk ke dalam rumah besar bersamaan dengan dokter Antonio yang baru selesai merawat Violet.
"Bagaimana?" tanya Wilson gusar.
"Luka di punggung nona Vio sudah dijahit, nona Vio juga sudah mendapat suntikan antibiotik. Kandungannya juga baik-baik saja tapi nona Vio butuh istirahat yang cukup untuk pulih!" jelas dokter Antonio.
"Sekarang kau boleh pergi, besok kembali ke sini dan bawa dokter kandungan!" ucap Wilson yang seakan tidak puas, dia akan memberikan perawatan terbaik untuk Violet.
Dokter Antonio hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak mau cari masalah dengan ketua gangster itu.
"Sebaiknya kita membersihkan diri sebelum menemui Vio!" cetus Yara karena melihat suaminya yang ingin masuk ke kamar di mana Violet berada.
Sepertinya yang dikatakan Yara benar, bahkan mereka sekarang bau amis darah. Wilson akhirnya ke kamarnya terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Yara mengintip sejenak Violet yang terbaring dengan selang infus yang ada di tangannya.
"Setelah ini kau akan mendapatkan cinta yang tidak ternilai, Vio!" batinnya.
*****
Beberapa jam berlalu, Violet perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dia rasakan tentu saja sakit di punggungnya. Lalu dia mencoba mengingat kejadian sebelumnya, sebelum dia pingsan.
"Sudah bangun sayang?"
Suara itu membuyarkan lamunannya, Yara yang sedari tadi menunggu Violet akhirnya bisa bernafas lega karena melihat Violet terbangun.
Violet berusaha mendudukkan dirinya dibantu oleh Yara. Keduanya diam sejenak dengan saling bertatapan kemudian air mata Violet tumpah dan memeluk Yara.
Yara ikut menangis mendengar itu, setelah puluhan tahun akhirnya dia dipanggil seperti itu. Rasanya tidak pantas tapi dia ingin menebus semuanya.
"Maafkan mommy, Vio!" ucap Yara sambil mengecupi rambut putrinya.
"Berjanjilah untuk melindungiku kali ini!" pinta Violet yang sudah mengalami banyak hal mengerikan dan tentu saja membuatnya trauma.
"Tentu saja!"
__ADS_1
Suara bariton itu terdengar membuat Yara dan Violet melepas pelukan mereka.
Mereka melihat Wilson sudah berdiri di ambang pintu, Violet mengulurkan satu tangannya membuat Wilson mendekat dan menyambut uluran tangan itu.
"Daddy..." panggil Violet yang membuat Wilson tak kuasa untuk memeluk putrinya.
Hari itu suasana begitu haru di mana sebuah keluarga telah berkumpul kembali.
Karena Violet butuh istirahat, Yara dan Wilson pergi dari kamar Violet tapi sebelum itu mereka mengecup kening putri mereka seperti menganggap Violet anak kecil.
"Mommy akan membangunkanmu saat makan malam!" ucap Yara sebelum pergi.
Violet memiringkan tubuhnya supaya mengurangi rasa sakit di punggungnya. Dia berusaha memejamkan matanya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Berapa usianya?" gumam Violet, dia langsung teringat pernyataan cintanya pada Noah.
Seketika wajahnya langsung merona, dia mengingat bagaimana Noah yang bersikap lembut padanya.
"Cih, ternyata dia bisa juga begitu!" decaknya sebal, padahal dalam hatinya merindu.
Sampai sayup-sayup Violet mendengar suara helicopter dan jantung Violet langsung berdesir hebat. Entah kenapa dia merasa itu adalah Noah.
__ADS_1
"Lebih baik aku pura-pura tidur!" gumam Violet yang jadi salah tingkah.